Home / Ruang Inspirasi / Berjalan Bersama menuju Komunitas: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi

Berjalan Bersama menuju Komunitas: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi

Para frater yang terkasih,

Tema ini terinspirasi dari Sinode Para Uskup 2021-2023 di seluruh dunia, yang sudah dibuka oleh Paus Fransiskus pada 10 Oktober 2021 yang lalu. Paus Fransiskus yang berkhotbah dalam Misa di Basilika Santo Petrus mengatakan bahwa umat Katolik yang mengambil bagian dalam jalur Sinode harus berusaha untuk, “Menjadi ahli dalam seni perjumpaan.” Bapa Suci Paus Fransiskus menghendaki agar Sinode kali ini melibatkan, tidak hanya para Uskup, tetapi juga seluruh umat beriman, baik kaum terthabis (klerus), anggota hidup bakti, maupun awam di seluruh dunia. Hal ini ditempuh melalui pelaksanaan Sinode di masingn-masing keuskupan.

Apa itu “Sinode”?

Berdasarkan asal katanya, “Sinode” berasal dari dua kata Yunani: syn (bersama) dan hodos (berjalan). Maka, Sinode berarti “berjalan bersama”, sedangkan menurut kanon 342 Kitab Hukum Kanonik, “Sinode para Uskup ialah himpunan para Uskup yang dipilih dari pelbagai kawasan dunia yang pada waktu-waktu yang ditetapkan berkumpul untuk membina hubungan erat antara Paus dan para Uskup, dan untuk membantu Paus dengan nasihat-nasihat guna memelihara keutuhan dan perkembangan iman serta moral, guna menjaga dan meneguhkan disiplin gerejawi, dan juga mempertimbangkan masalah-masalah yang menyangkut karya Gereja di dunia”.

Sinode menjadi undangan untuk berjalan bersama dengan saling mendengarkan, berdialog, melakukan discernment atau manage bersama, dll. Dengan cara berjalan bersama ini, Gereja akan dapat setia melaksanakan misi yang dipercayakan kepadanya. Maka persekutuan umat beriman diundang untuk berpartisipasi menjalankan misi atau perutusan.

Seluruh anggota Gereja, baik klerus (tertahbis), anggota hidup bakti (religius dan sekular) maupun awam, yang tersebar dalam berbagai kelompok (lingkungan, wilayah, paroki, kevikepan, kelompok persaudaraan dan paguyuban, komunitas hidup bhakti, dll) diundang untuk saling berbagi dan mendengarkan kisah pengalaman iman agar dapat mendengar bisikan Roh Kudus, hingga dapat bersama-sama melaksanakan misi atau perutusan di dunia ini dengan lebih baik.

Mengapa Sinodalitas Gereja begitu ditekankan?

Sinodalitas atau kebersamaan Gereja sangat ditekankan karena hal itu merupakan “modus vivendi (cara hidup) dan modus operandi (cara bertindak)” khusus Gereja. Dalam dan melalui kebersamaan ini, umat Allah mewujudkan diri sebagai persekutuan (communio) yang berjalan bersama, berkumpul, dan mengambil bagian (participatio) secara aktif dalam melaksanakan misi atau perutusan (missio).

Gereja sinodal adalah Gereja yang bergerak keluar, Gereja yang misioner, yang pintu-pintunya terbuka (Evangelii Gaudium 46). Semangat ini tergambar dengan sangat nyata pada sikap para Rasul yang berkata: “Kami tidak mungkin untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar” (Kis 4:20).

Ungkapan semangat dan gerak nyata para Rasul itu “merupakan panggilan kepada kita masing-masing untuk ‘memiliki’ dan membawa kepada orang lain apa yang kita kandung dalam hati kita. Kita percaya bahwa Tuhan berkarya di dalamnya; dan memanggil kita untuk menjadi manusia; agar kita dengan kelebihan-kelebihan dan keterbatasan-keterbatasan kita akan berkembang serupa citraNya (Konst. 1).

Saatnya untuk menatap mata orang lain dan mendengarkan apa yang mereka katakan, untuk membangun hubungan baik, untuk peka terhadap pertanyaan saudara dan saudari kita, untuk membiarkan diri kita diperkaya oleh berbagai karisma, panggilan, dan pelayanan. Kita bersama dipanggil untuk menjadi umat Allah; saling menerima dalam cinta dan serah diri, saling mendukung, saling melengkapi, membiarkan sesama berkembang secara wajar, agar bersama-sama menjadi bahagia (Konst. 2).

Perjalanan sebuah misi selalu menjadi tanda resmi Gereja, karena “Gereja ada untuk mengevangelisasi” (EN 14). Dalam Injil sering diceritakan Yesus di tengah perjalanan, bertemu orang-orang dan mendengarkan keprihatinan mereka yang terdalam. Kita pun demikian, bersama dengan banyak orang kita merupakan Gereja Yesus Kristus. Kita mau mengikuti Dia, menjadi saksi tentang pembebasan dan keselamatan bagi semua (Konst. 4).

Bagaimana Sinode itu akan dilaksanakan di komunitas atau kongregasi kita dan apa yang harus kita lakukan?

Konfrater yang terkasih,

Ini sebuah ajakan berjalan bersama menuju komunitas; persekutuan, partisipasi, dan misi. Mari kita meningkatkan kesadaran diri dalam menghayati persekutuan, partisipasi, dan perutusan kongregasi kita jauh ke depan. Seperti Gereja Sinode adalah Gereja yang mendengarkan, berjalan bersama, berkumpul bersama dan berdialog, dan bekerja sama, demikian juga dalam persekutuan ini, kita hendak saling meneguhkan dan saling menyemangati, saling memberi inspirasi, dan saling mendorong.

Apa yang harus kita lakukan untuk masa depan karya perutusan dan misi kita? Dalam konstitusi, sudah ditegaskan tentang hakikat, tujuan, dan tata cara hidup kita sebagai anggota Kongregasi Frater BHK. Dalam semangat yang sama kita berjalan bersama sehati sejiwa mengikuti jejak Yesus dari Nasaret. Kita terpanggil untuk menghayati hidup religius dalam semangat Injili. Hidup kita didukung dan disantapi oleh persekutuan dan doa. Misinya, kita diutus untuk melayani kerajaan Allah dalam Gereja dan masyarakat.

Paus Fransiskus mengajak kita, sebagai Gereja dan sebagai komunitas religius, turut menghidupi semangat “berjalan bersama” tersebut. Kita bersama-sama melihat kembali perjalanan kita sebagai komunitas, melakukan diskresi bersama-sama untuk mendengarkan Roh Kudus dalam terang Sabda Allah, dan “memimpikan” bersama Gereja yang sinodal di masa depan serta “berjalan bersama” (ambil bagian) dalam mewujudkan misi Injili Gereja dalam konteks komunitas dan kongregasi kita.

Kita tahu bahwa berdirinya persekutuan kita bukan hanya demi kepentingan sendiri, tetapi kita diundang dalam tugas perutusan kongregasi: pergi dan menghasilkan buah (Konst. 7; Yoh 15:16). Bapa Suci Paus Fransiskus menegaskan bahwa, “Yesus membutuhkan hati yang mampu mengalami panggilan sebagai kisah cinta sejati yang mendorong mereka pergi ke pinggiran dunia sebagai pewarta-pewarta dan pelaku-pelaku belas kasih, maka untuk berada dalam misi, kita harus memiliki kehendak untuk berpikir seperti Kristus sendiri”. Semoga Bunda Maria (Bunda Hati Kudus), murid pertama yang diutus, meningkatkan dalam diri semua orang yang telah dibaptis hasrat untuk menjadi garam dan terang dunia (bdk. Mat 5:13-14). Mari kita jalan bersama menuju komunitas: persekutuan, partisipasi, dan misi dengan penuh syukur dan sukacita.

Fr. M. Kardinus, BHK

About fraterbhk

Check Also

Siap Sedia Diutus

Saudara BHK yang terkasih, Seorang religius Frater BHK, kerapkali diutus ke komunitas-komunitas di mana para …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *