Home / Sharing Inspirasi / Refleksi Yubilaris

Refleksi Yubilaris

DIAN DI ATAS GANTANG

Fr. M. Emmanuel Niron, BHK (50 Tahun Hidup Membiara)

Mengawali kisah perjalanan panjang dalam hidup membiara mencapai 50 tahun, mengingatkan saya pada sosok yang menjadi inspirator dalam perjalanan hidup panggilan saya. Sang inspirator ini meneguhkan saya dengan perbuatan dan kata-kata yang sederhana, tetapi bermutu dan membekas dalam sanubari sampai saat ini.

Seorang Ibu tua yang berpenampilan sederhana. Saya tahu bahwa pendidikannya tidak melebihi Pendidikan Dasar. Namun, saya yakin imannya sangat mendalam. Sirih pinang dan tembakau tak pernah terlepas dari bibirnya. Saya terkesan atas kata-katanya yang menyadarkan saya, betapa mulianya panggilan hidup yang saya jalani ini.

Saya menceritakan kepadanya pengalaman pahit yang  saya alami. Jawabannya hanya dengan sebuah kalimat yang tak pernah saya lupakan, “Anak, Tuhan mempunyai cara tersendiri untuk mendidik dan mendewasakan kita termasuk engkau, Anakku. Jadilah seorang rohaniwan yang patut dibanggakan.” Saking terharunya, saya sempat berlinang air mata. Sejak saat itu saya terus berjuang, jatuh dan bangun untuk menghayati pangillan ini. “Terima kasih Ibu. Tuhan telah mengutusmu untuk menyadarkan saya. Ah…betapa indahnya hidup ini. Saya tak pernah berjalan sendirian,” gumam saya pada suatu ketika di sudut doa.

Dalam refleksi pengalaman hari-hari di rumah pembinaan Novisiat Frater BHK Malang, ternyata hal-hal sederhana dapat menumbuhkan iman, harap, dan kasih kita kepada Tuhan, Sang Penyelenggara Ilahi, seperti “Dian di Atas Gantang” yang fungsinya memberikan cahaya pada lingkungan sekitar. Nyalanya memang kecil dan berkedip-kedip, tetapi membuat situasi di sekitarnya menjadi terang. Saya menyadari bahwa kita semua adalah pelita-pelita kecil yang menyebarkan terang di dalam kegelapan. Jika kita bersama menyalakan pelita kita masing-masing, maka kita merupakan pasukan Tuhan yang besar, yang mampu memberi terang kepada semua yang merindukan datangnya terang ke dalam diri mereka.

KARENA DIA LEBIH DAHULU SETIA

Fr. M. Alfonsus Jemi, BHK (Kaul Kekal)

“Bersandar dan berharaplah pada Dia yang menentukan segalanya, karena kamu tidak akan pernah tahu rancangan-Nya.”

Rancangan Tuhan, hari ini terlaksana dalam diri saya. Indah penuh makna, pesannya dalam, menusuk sanubari, sehingga berbuah air mata haru menemani langkah kecil saya menemui Dia, dan siap menerima tugas penuh rahmat dari altar-Nya yang kudus. Semuanya karena saya menjadikan Dia sebagai sandaran hidup saya dengan meninggalkan mereka yang juga mempunyai cinta yang tulus untuk saya. Namun sayangnya, cinta-Nya lebih indah dan tulus, setia tanpa batas waktu dan menjanjikan kebahagiaan yang lebih indah.

Rahmat dan cinta Tuhan tetap menemani perjalanan panggilan saya, baik dalam suka maupun duka. Bukti kesetiaan dan rancangan Tuhan dalam perjalanan panggilan saya akhirnya dikukuhkan dengan janji setia kekal hari ini, Sabtu, 29 Mei 2021. Bagi saya, momen ini menjadi hari berahmat dan bersejarah. Setia-Nya dan setia saya dimeteraikan melalui deretan kalimat berisikan tri janji suci yang selanjutnya menjadi pegangan dan peringatan bagi saya untuk perjalanan hidup selanjutnya. “Ya, saya berjanji untuk setia seumur hidup saya.”

Tangis dan air mata haru menguatkan langkah saya menuju altar Tuhan. Sosok yang bersemayam di altar seakan menginginkan kesiapsediaan saya agar lebih serius dalam berjanji kepada-Nya melalui seorang hamba pilihan-Nya yang mewakili Gereja dan semua mereka yang hadir sebagai saksi atas janji-janji saya. Sebelum janji itu terucap, setiap langkah seakan mengingatkan kembali pada memori  panggilan hidup saya sejak pertama kali mengenal hidup selibat, saat ketika saya secara bertahap membarui janji setia saya. Dan sebuah pengalaman di mana masa yuniorat saya harus bertambah satu tahun oleh sebab wabah Covid-19. Semuanya merupakan masa yang lumayan sulit bagi saya untuk menjalaninya. Jadi sangatlah wajar, jika rasa haru berbuah air mata itu terjadi pada puncak ikrar setia saya.

Moto: “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38), menjadi kekuatan dan pedoman hidup saya. Moto ini terinspirasi dari refleksi atas jawaban singkat Bunda Maria terhadap undangan Allah. Setiap keputusan Tuhan memberikan tugas tertentu akan selalu dibarengi dengan kesetiaan dari-Nya membimbing dan mengarahkan Maria dalam menjalankan tugas yang dipercayakan padanya. Maria menjadi teladan kesetiaan yang patut dicontohi setiap orang beriman. Kesetiaannya menerima tugas dari Tuhan merupakan suatu bukti bahwa cinta dan kesetiaan Tuhan adalah nyata. Ia lebih dahulu menyatakan setia-Nya kepada umat manusia, meski kadang setia-Nya didustai dengan aneka perbuatan dosa. Kesetiaan Tuhan ini juga saya rasakan dalam seluruh perjalanan hidup saya. Pada saat ketika saya mulai mengikuti-Nya secara lebih serius melalui Kongregasi, saya dibina dan dibentuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik lewat penghayatan hidup dan kaul-kaul yang saya barui pada setiap waktu yang ditentukan. Pembaruan janji kaul merupakan sebuah bukti bahwa Tuhan telah menunjukkan kesetiaan-Nya dan sungguh DIA lebih dahulu setia.

Bentuk kepasrahan diri saya kepada Tuhan dibuktikan dengan simbol meniarap di depan altar Tuhan. Simbol penyerahan diri ini membuktikan bahwa ketika saya berani berkata “Ya”, maka kebahagiaan dan kesetiaan akan ditambahkan Tuhan sendiri, karena saya tidak pernah tahu bagaimana rancangan kebahagiaan yang telah disiapkan-Nya. Maka, satu-satunya cara yang paling ampuh adalah bersandar dan berharap pada Dia yang menentukan segalanya, karena kita tidak akan pernah tahu rancangan-Nya. Perjalanan hidup dengan segala suka dan dukanya masih terbentang jauh di depan, yang terpenting jalani hidup dengan penuh percaya akan penyelenggaraan-Nya. Biarkan Tuhan melakukan apa yang menjadi bagian-Nya.

CINTA YANG MENGHANGUSKAN

Fr. M. Achilles Endi Goleng, BHK (Kaul Kekal)

“Nyala cintaku menghabiskan aku.” (Mazmur 119:139)

Tidak ada istilah yang laris dan menarik untuk diperdebatkan daripada kata ‘cinta’. Akan tetapi, banyak paradox dalam cinta. Tidak jarang saya mendengar bahwa cinta ada di mana-mana, lantas mengapa banyak orang merasa tidak menemukannya? Jika antitesis dari cinta yakni kebencian, melukai hati orang, mengapa banyak orang mencintai justru pada orang yang dibencinya? Cinta itu ada dengan nyala yang tak kunjung padam. Cinta bernyala memberi harapan dan memberi keuatan, mengapa saya merasa “terhabiskan”?

Beberapa orang bingung dengan moto kaul kekal sayayakni,“Nyala cintaku menghabiskan aku” (Mazmur 119:139). Ada yang mau saya ‘habiskan’ yakni sifat manusiawi saya yang meronta melalui ‘kantong-kantong perasaan’ saya. Sejarah cinta selama masa yunior membentuk saya untuk menyadari cinta DIA yang terkucur tanpa batas. Hangatnya darah cinta dan sejuknya air cinta yang mengalir dari lambung-Nya yang tertikam oleh ‘ketengilan’ saya, membasuh saya menjadi pribadi yang baru. Lagu “Aku telah mati” mengiringi penyerahan diri saya yang total dalam simbol tiarap pada kaki altar kurban, membuat saya tersentak dan sadar bahwa “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yohanes 2:17). Saya larut dalam keharuan, menyerah pada Sang Cinta yang memanggil saya. Dalam suasana haru saya menyadari bahwa, tatkala cinta telah memanggilmu, maka dekatilah ia, walaupun jalannya terjal dan berliku. Kelak jika cinta telah memelukmu, maka saya membalas dengan dekapan erat, meski saya sadar sayap-sayap tajamnya pasti melukai saya.

Paradoks cinta ini bukan “kaleng-kaleng”. Sebagai manusia biasa saya tidak ingin menjelma mejadi “abang jago”, tetapi saya berdoa, semoga Engkau yang saya cintai, mencintai saya dan menerima cinta saya, menjadikan saya sebagai milik pusaka-Mu. Saya berharap Engkau menghapus semua sedih dan air mata saya dan menggantinya dengan senyuman. Ini adalah tujuan cinta saya lantaran Engkaulah hidup saya. Dahulu Engkau berdarah-darah kerena mencintai saya. Luka-luka-Mu sebagai cangkang untuk melidungi dosa-dosa saya. Darah yang Kaucurahkan membaur rahmat yang tak terkira. Maka, mulai saat ini, meski tak terlihat saya, memimjam isprirasi dari Sutardji Calzoum Bachri bahwa, yang tertusuk pada-Mu berdarah padaku. Lantas melalui Kongregasi Frater-frater Bunda Hati Kudus saya menyadari bahwa hidup saya bukan sebuah kebetulan, tetapi sejarah cinta saya adalah rangkaian kebetulan. Jika cinta adalah segalanya, maka jangan membiarkan saya terdesak dalam kenyamanan lantaran cinta juga bukanlah “Eden” yang tersisa dalam rasa.

Melalui Kongregasi Frater-frater Bunda Hati Kudus saya pun telah menemukan kekuatan cinta. Jika cinta mengalahkan segala, maka biarlah saya menyerah juga pada cinta. Lantaran,“Nyala cintaku menghabiskan aku”(Mazmur 119:139). Biarkan rahmat-Mu membucah karena saya siap menjadi wadah untuk menyalurkan cinta-Mu dalam Kongregasi melalui teladan “Dalam kepedulian dan kesederhanaan” (Mgr. Andreas Ignatius Schaepman).

About fraterbhk

Check Also

Frater Roland Disch

Kenangan Penuh Kasih fr. Roland Disch Pada 2 Oktober 2019 yang lalu, Frater Roland Disch …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *