Home / Ruang Imajinasi / Hujan Darah

Hujan Darah

Cerpen oleh Fr. M. Marselus Natar BHK

Sabtu, entah tanggal, bulan, dan tahun berapa. Aku lupa. Akan tetapi, satu hal yang masih segar dalam ingatanku adalah ihwal musim. Kala itu, musim panas dan musim pemilu. Dua-duanya nyaris kawin, hanya saja tidak dikehendaki oleh situasi dan kondisi yang sangat ekstrem. 

Pepohonan, rerumputan, sungai, dan ternak, berarak menuju ambang maut. Layu, kering, dan mati. Tidak pelak, segelintir orang nyaris kehilangan nyawa sebab kelaparan dan iklim politik: siapa makan siapa. Tangan Tuhan menjamah dan menjelma tangan-tangan penguasa, sehingga berita kematian bagai reklame di layar kaca, tampil setiap saat. Pantaskah nyawa atau kematian dijadikan sebagai tumbal politik? Tanyakan Tuhan! 

Sebagaimana lazimnya, musim pemilu bagi masyarakat sepertiku adalah ajang untuk menentukan dan menjatuhkan pilihan atas sederet nama dan pasangan yang mencalonkan diri mereka untuk menjadi pemimpin. Tak pelak, menjelang pemilu para calon bersangkutan melakukan safari politik, dari RT ke RT, dari dusun ke dusun, dari kampung ke kampung, berjalan sendiri, pun diutus berdua-dua. Mereka tidak sedang memberitakan kabar baik, melainkan sebuah safari yang esensinya adalah mengobral janji, memberikan harapan yang tidak pasti kepada masyarakat kecil yang manggut-manggut di sudut kemah kampanye. 

Waktu itu, hari telah siang, jam menujukkan pukul tiga. Sejak pagi tadi, halaman kantor desa kami telah beratapkan terpal kuning, tanpa dinding, berlantaikan debu garing. Om Polus, yang telah memasuki tahun ketujuh memimpin desa kami menunjukkan raut wajah berseri, melihat warganya berdesak-desakkan di dalam dan di luar kemah. Itu tentunya sebuah pertanda baik, sebuah rezeki yang tidak akan pernah datang dua kalinya, di tengah musim kering seperti saat ini. 

Hari pun telah petang. Sebuah mobil Jeep meluncur dari arah barat dan perlahan berhenti di samping kemah. Dari balik jendela kamar, aku mendengar orang-orang berbicara, mobil ajudan bupati telah tiba, sebentar lagi bapak bupati pun akan segera tiba.

Orang yang disebutkan sebagai ajudan bupati itu seketika turun dari Jeep-nya. Dengan segera, ia menemui Om Polus yang sedang duduk di dalam kemah kampanye paling depan. 

Ia dan ajudan bupati itu tampak gesit membereskan segala sesuatu yang perlu. Setelah itu, Om Polus dan ajudan itu berjalan mengelilingi kemah, memperhatikan segala sesuatu yang mungkin saja akan menghambat proses atau berlangsungnya kampanye. 

Dari tempat yang sama, aku menyaksikan sedikit keanehan terhadap apa yang dilakukan oleh Om Polus dan ajudan itu. Beberapa kali, mereka menegur warga yang berpenampilan norak, termasuk ibu-ibu serta bapak-bapak yang menggunakan sarung tenunan yang lusuh dan kumal. 

Mereka mendesak, agar ibu-ibu dan bapak-bapak itu sesegera mungkin menggantikan busana yang mereka kenakan. Mereka manut-manut, lalu bergegas menuju rumahnya masing-masing untuk menggantikan busana dimaksud.

Hari semakin petang. Bola matahari bagai bersembunyi di balik gunung. Cahayanya terpendar hangat. Dari tempat yang sama, aku mendengar sirene berbunyi, semakin dekat semakin keras. 

Bupati telah tiba. Para warga menyebutnya bupati, karena ia adalah calon petahana, lidah-lidah masih erat-lekat untuk menyapanya bupati. 

Tahun yang silam, di tempat yang sama, ia memberikan kampanye di desa kami dan menuai hasil yang memuaskan. Sembilan puluh sembilan persen warga desa kami mendukung dan memilihnya. Hal inilah yang tentunya sebagai salah satu faktor beliau terpilih menjadi bupati di kabupaten kami. Salah satu alasan mengapa warga di desa kami mendukungnya adalah janjinya. 

Dari atas podium tempat ia berkampanye, terdengar suara-suara penghiburan, suara-suara pengharapan, seperti menjanjikan padang rumput hijau bagi kawanan rusa, kuda, dan kerbau. 

Ia menjanjikan sesuatu yang paling dirindu-dambakan desa kami,  ihwal infrastruktur yang rusak parah sebagai pintu masuk ke desa kami. Nahasnya, semuanya seperti menjaring angin. Lidah memang tidak bertulang. Menjulur ke mana ia suka. Meliuk-liuk bagai tanpa arah dan tujuan. Sederet janji yang terdengar pasti, sekelumit keyakinan yang terpatri, kini menyisakan luka. 

Cahaya matahari telah diganti dengan cahaya neon. Dari podium, bupati kembali berorasi. Kata-katanya mengalir deras melebihi amukan Selat Gonsalu. Terdengar indah setiap diksi yang digunakannya dalam membetuk paragraf-paragraf, seperti sedang mendengarkan puisi cinta milik Kahlil Gibran. Beberapa warga tampak manggut-manggut, sebagian tampak bingung. Tidak ada suara lain, kecuali dari sound. Aku merasa seperti sedang berhadapan dengan sebuah pertunjukan teater. Hanyut dalam imajinasiku yang terlampau bebas merdeka. Waktu terus berlalu, orasi terus berlanjut. 

Dalam sela-sela orasi itu, entah mengapa, tiba-tiba lidah bupati itu menyentil tentang pembangunan infrastruktur yang katanya telah mengalami perubahan di hampir setiap daerah kekuasaannya. Serentak, seorang lelaki, sudah renta, sadar dari eksistensi dirinya atas buaian metafora bupati itu. Ia lalu bergumam. 

Merasa gumamnya perlu didengar orang, ia lalu mengangkat tangannya untuk bersuara. “Bapak bupati, di mana letak perubahan infrastruktur yang Bapak maksudkan! Tidak ada perubahan di desa kami. Tahun lalu, Bapak menjanjikan bahwa akan memperbaiki infrastruktur di desa kami. 

Tahun lalu juga, Polus menghadap Bapak di kantor, agar memperhatikan desa kami yang adalah daerah basis pendukung Bapak! Bapak meminta Polus agar buatkan proposal terkait pembangunan jalan di desa kami, setelah semuanya selesai, Bapak tidak memberikan respons apa pun. Jangan menggiring kami dengan narasi basi, kami muak!” tegasnya kesal. Mendengar pernyataan Bapak tersebut, Polus merasa dipermalukan. 

Bupati itu seakan tidak merasakan sesuatu yang barangkali menyentuh hati dan pikirannya, ia tampak biasa-biasa saja. Sementara itu, para warga tampak mulai tidak betah dengan kegiatan tersebut. Beberapa di antaranya mulai meninggalkan tempat duduk mereka, yang lainnya tampak setia di atas kursi tetapi dengan bersungut-sungut. 

Adalah seorang pemuda, dua puluhan tahun usianya, berdiri dari tempat duduknya, hendak bicara. “Kalau memang Bapak tidak memiliki cukup anggaran untuk pembangunan jalan di desa kami, kirimkan dana barang satu juta rupiah, tujuh ratus ribu rupiah atau lima ratus ribu rupiah. Itu sudah lebih dari cukup! Lebih dari cukup untuk membelikan lima ratus kilogram sekam untuk menutup badan jalan yang menganga,” ungkap pemuda itu dalam rada sinis. 

Polus semakin naik pitam. Murkanya bagai tak tertahankan. Wajahnya bagai bara api. “Apa maksud di balik perkataanmu, anak muda? Jangan menodai wibawaku di sini, kau sedang berbicara dengan seorang pemimpin, katakan yang sesungguhnya, apa maksudmu!  Jangan menyindir dengan bahasa seperti itu, kau pikir Bapak bupati  miskin seperti kau dan warga yang lainnya?” kata Polus, mengangkat harkat dan martabat bupati. 

Sejenak, suasana kemah kampanye menjadi sunyi. Kecuali derik jangkrik di sudut kemah kampanye yang seakan menjerit. Pernyataan Om Polus seperti percikan lidah-lidah api ke dalam hati dan pikiran warga yang ada dalam kemah kampanye tersebut. Tidak pernah disangka, dalam keheningan hati dan pikiran warganya, sedang menyalakan api kemarahan. Panasnya perlahan terasa.

“Dasar pengkhianat!” ungkap seorang pria dari sudut kemah. Pernyataan itu seperti bensin yang mendekap api. Kemarahan pun meluap, bagai lahar panas yang muntah dari kawah gunung berapi. Semua warga berdiri, menyerang Om Polus. Batu dan kursi bagai rinai hujan. Membentur, meremukan, dan melukai tubuh Om Polus. Darah terciprat ke atas terpal, sebagian mengalir membasahi tanah berdebu.  Terdengar pekikan suara dari luar kemah, “Darah Polus, telah melunasi janji Bupati!” Om Polus meninggal di bawah tumpukan batu dan kursi. Sekejap, Bupati dan ajudannya hilang dari tengah kerumunan. Para warga diam-diam meninggalkan kemah kampanye tersebut. Musim pun kian panas.

About fraterbhk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *