Home / Ruang Imajinasi / Merindukan Jubah Baru untuk Angeline

Merindukan Jubah Baru untuk Angeline

Cerpen oleh Fr. M. Walterus Raja Oja, BHK

“Angeline! Itulah nama yang diberikannya kepadaku, Kak,” katamu mulai bercerita. Kau katakan bahwa nama itu terdengar indah di telingamu lantaran dia yang memberi nama itu adalah seorang lelaki yang kau sayangi, sebagaimana dia juga menyayangimu. Itulah nama panggilan kesayangannya kepadamu.

Kau begitu menikmati kebersamaanmu dengan dirinya. Saat itu, sehelai jubah masih membaluti tubuh semampaimu. Tiap hari dia selalu ada untukmu sebagai teman berbagi yang menyenangkan, yang selalu menyediakan telinga dan hatinya untuk mendengarkanmu. Tentang apa saja.

“Aku sangat bahagia, Kak, menjalin relasi dekat bersama dia,” katamu suatu kali saat kutanya, apa perasaanmu.

Namun, semua kisah indah itu berakhir sesaat setelah kau memutuskan untuk meninggalkan biara. Katamu, kau tak bisa mengerti sikapnya yang berubah dratis itu. Kau tak mau menerima kenyataan pelik itu. Dia yang selalu menemani hari-harimu menghilang begitu saja.Media komunikasi yang selama ini menghubungkan relasi kalian tak bisa membantu. Dia sudah berubah. Dia menjadi begitu asing bagimu.

Apa itu karena kau memutuskan meninggalkan jubah biaramu? “Entalah, Kak. Padahal, aku sudah berbicara baik-baik padanya. Mungkin dia tidak setuju dengan keputusannku, tapi kan bisa diomongkan baik-baik? Dia tidak harus pergi begitu saja kan, Kak?” Kau terus mempertanyakan sikap lelaki yang pernah menjadi sahabat terbaikmu itu.

Entalah. Apakah aku senang dengan ceritamu, perihal dia yang kini tak bersama dirimu lagi? Ataukah aku ikut sedih karena dia yang kau sayangi meninggalkanmu di saat kau sangat membutuhkannya? Aku menunggu waktu yang tepat untuk memahami perasaanku sendiri. ***

Aku pernah membaca sebuah novel tentang seorang gadis yang mencari Tuhan. Novel itu ditulis berangkat dari kisah nyata seorang gadis, mantan biarawati. Diceritakan bahwa di akhir kisah perncariannya akan Tuhan, gadis yang pernah menjadi anggota di sebuah Ordo besar itu, akhirnya bermuara pada pelukkan seorang lelaki yang beda keyakinan dengan dirinya. Dia lantas pindah agama dan menikahi pemuda itu.

Aku percaya, kau memutuskan untuk meninggalkan jalan hidup sebagai kaum berjubah bukan karena kau tidak menemukan Tuhan di balik tembok biara. Bukan pula karena kau telah menemukan tambatan hati yang disediakan Tuhan sebagai pendamping hidupmu di luar sana. Bukan karena itu!

Kau memiliki alasan untuk melepaskan jubah coklat berslayer hitam yang kau bangga-banggakan itu. Busana biaramu yang selalu membuat kau terlihat begitu cantik nan anggun pada pandangan mata lelakiku. Juga di mata para lelaki lain. Kau memiliki alasan untuk menanggalkannya, Angeline!

Aku memahamimu. Aku mengerti pergulatanmu, Nona!

Malam itu, udara dingin menyelimuti Malang, kota penuh kenangan, tempat di mana kita pertama kali bertemu dan berbagi rasa. Hembusan angin malam menyentuh lembut di kulit wajahku, menerbangkan anak-anak rambut yang menghiasi pelipis ayumu. Kau seharusnya terlihat cantik di keremangan lampu malam itu. Namun, suasana hatimu yang tak karuan itu telah merenggutnya. Kau terlihat layu seperti bunga-bunga di sejanjang Jalan Ijen Besar yang sudah seminggu tidak mendapat asupan air dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang. Kau diliputi suasana hati yang tidak enak.

Satu jam di hadapan Dia yang hadir dalam Sakramen Mahakudus pada monstran indah peninggalan misionaris Belanda itu, rupanya belum cukup bagimu untuk menumpahkan kegundahan hatimu. Di sudut taman doa, depan kapel Adorasi itu, aku mendengarkanmu takzim. Kau sangat membutuhkan seseorang untuk menemanimu melewati saat-saat berat itu, walau aku tahu bukan diriku. Namun, aku peduli dengan beratnya beban pergulatan yang menindih jiwa lembutmu, apalagi setelah ditinggalkan dia yang menghilang, entah ke mana.

Kau berkata bahwa kau sudah lelah dengan sandiwara yang kau temui di biaramu. Kau jenuh dengan drama kehidupan yang dilakoni oleh mereka yang katanya sehati dan sejiwa denganmu. Kau mendapatkan perlakuan diskriminatif hanya karena kau berbeda. Kau orang sana, mereka orang sini. Kau yunior, mereka senior. Kau masih muda, tetapi kau memiliki seabrek talenta dan kemapuan yang membuat kau begitu menonjol, dikenal orang-orang dari berbagai kalangan, dan memiliki banyak relasi. Belum lagi pesona wajahmu yang cantik jelita nan lemah lembut. Kau dianggap saingan berat bagi senior-seniornmu yang telah dirasuki api cemburu yang berkobar di lahan perbedaan. Kecakapan dan kecantikanmu telah melukaimu. Lebih-lebih mereka.

“Kalau keberadaanku menyakiti banyak hati, bukankah lebih baik aku mundur, Kak?” tanyamu retoris.

Kuamini keputusanmu dengan sebuah kalimat penguatan bahwa langkahmu sudah tepat. Kau hanya ingin mengalah untuk kebaikan orang lain. Pilihan yang kau ambil bukan karena kau kalah. Sesungguhnya, kau telah menyelamatkan banyak jiwa yang sakit. Kaulah pemenangnya, Angeline. Aku mendukung keputusanmu, Nona! ***

Sejak malam itu, status relasi kita berubah. Kau yang semula hanya kuketahui melalui dinding facebook, mulai malam itu, kita sepakat menjadi sepasang sahabat. Sebuah relasi yang sangat kudambakan sudah sejak lama, sejak panggilan “Suster” masih tertulis di depan namamu. Tak apa, aku terlambat mendapatkan senyuman persahabatan darimu. Tak apa pula, aku berdiri di sisimu sebagai penggantinya. Pengakuanmu menyadarkan aku bahwa kau dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, pada waktu kau masih bersama dia. Tidak masalah.

Yang terpenting bagiku sekarang, kau telah kembali kepada dirimu yang penuh ceria dan aku telah menemukan lagi indahnya pesonamu, gadis cantik penyuka musik. Kau yang pernah membuat aku terbuai pada harapan tak berujung, kau kini telah kudapatkan kembali.

Sesungguhnya bukan itu harapan terbesarku, Angeline. Di lubuk hatiku yang terdalam, aku tidak hanya mengimpikan kau sebagai sahabat pengisi hari-hariku. Bukan hanya itu! Aku lebih tertarik pada niatanmu yang masih ada. Pada harapanmu yang masih membekas. Tentang keinginanmu mengenakan jubah biara hingga di ujung usiamu yang masih ada dalam hati kecilmu.

“Doakan aku ya, Kak. Aku masih punya niat untuk masuk biara lagi,” pintamu.

Aku percaya, Angeline. Aku selalu percaya padamu, Nona. Sejak malam itu, sejak ruang rasa ini diisi oleh wajah cantik, suara lembut, dan senyum manismu, aku telah memutuskan bahwa harapan terbesarku adalah melihat kembali kau mengenakan jubah biarawati. Apa pun biara yang sesuai dengan semangat hidupmu. Aku akan berjuang, bekerja sama dengan karya rahmat-Nya agar harapanku itu menemui akhir kisahnya dengan cerita terbaiknya. Aku akan selalu mendoakanmu, Angeline.

“Kenapa Kakak peduli sama aku?” tanyamu.

Kutatap wajahmu lekat. Kukatakan padamu sejujur-jujurnya bahwa aku sangat menyayangimu. Hari-hari ini, selain berdoa untuk terwujudnya kembali niat sucimu yang masih ada, aku juga selalu berdoa untuk kesuksesan studimu. Aku berharap, kuliahmu berjalan lancar dan selesai pada waktunya. Aku tak sabar menunggu kabar bahwa kau sudah diterima di sebuah biara. Lalu, kau mengenakan jubah dan mengembalikan keanggunanmu yang dulu membuat aku jatuh hati padamu.

Ah, Angeline, aku menunggu saat terbaik itu, saat kau bersanding di sisiku, mengenakan busana biara barumu. Momen terindah, ketika kita tertangkap kamera, berdua, tersenyum bahagia dalam balutan jubah biara kita masing-masing.

About fraterbhk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *