Home / Sharing Inspirasi / Berkat Doa Guru Agama

Berkat Doa Guru Agama

Oleh Eka Budianta, Sastrawan, tinggal di Jakarta

Hujan turun sepanjang siang membuat malam basah dan sunyi. Setelah mengenakan jaket terpal dan menyandang ransel, aku bertekad meninggalkan rumah. Aku mau pergi selamanya. Dalam usia 15 tahun aku tidak tahan lagi tinggal bersama orangtuaku. Itulah yang terkenang dan terasa lagi, ketika berziarah ke makam guruku, Fr. M. Florentinus Lewar, BHK, di Malang.

Aku memanggilnya Frater Florentinus. Dia guru agamaku di SMPK Frateran Celaket 21, Malang yang mengajarku menjadi Katolik. Ia tidak banyak bicara. Tenang, jangkung, berkulit putih, dan aslinya orang Flores.  Belakangan aku diberi-tahu ia kelahiran Pulau Solor, Flores Timur, 25 Juli 1939.  

Ada informasi  bahwa ia penyuka satwa.  Persis seperti aku. Baru sekarang sadar, aku telah memilih nama babtis Christophorus, yang dipestakan tiap 25 Juli.  Semua terasa jelas setelah bertemu Frater Walter – penerusnya.  Dialah yang “mempertemukan” kami kembali di pinggir kota.

Kedatanganku ke Malang sangat singkat, hanya untuk menghadiri peluncuran buku. Sabtu sore tiba, menginap semalam, lalu menghadiri acara Minggu pagi.  Setelah makan siang aku pamit, pulang ke Jakarta. Menjelang berangkat ke bandara, aku bertanya apakah di antara hadirin ada yang mengenal Frater Florentinus.

Tanpa banyak bicara,  seorang frater muda bernama Walter, – juga orang Flores, memboncengku dengan motornya. Kami melewati kebun di belakang biara di pinggir kota. Langsung masuk, hingga terlihat beberapa deret kuburan. “Frater Florentinus sudah wafat pada 29 Juli 2007 di Kediri, tetapi dimakamkan  di sini,” tuturnya.     

Aku langsung menangis. Sakit apa dia? Aku bertanya terbata-bata. “Saya tidak tahu sakitnya. Waktu almarhum wafat, saya sedang bertugas di Flores Timur,” jawab Frater Walter. 

Jujur, aku tidak bisa mendengar apa saja yang dikatakan frater muda itu.  Pikiranku balik ke Bulan Desember 1971.  Suasana batinku kacau. Konflik keluarga, patah hati, dan merasa tidak dicintai membuat aku nekad minggat!  Konsentrasiku sangat buruk, sering melakukan kesalahan. Sampai ayah menyindir, “O, begitu toh ajaran Katolik?”

Sekarang aku bisa berpikir, mungkin ayah bermaksud humor.  Terbukti Ibu, Ayah, Nenek, dan adik-adikku kemudian ikut ke gereja. Namun, bagi anak berumur 15 tahun, humor itu serius dan sangat menusuk. Dengan bekal luka batin, aku menyingkir ke Surabaya – hampir 100 Km dari rumah. Semua uang tabungan kubawa. Juga sedikit pakaian dalam ransel.

Mudah sekali mencari mobil omprengan dari kota Malang dini hari itu.  Yang sulit adalah menahan kemarahan dan air mata. Di sekolah aku merasa dijadikan bahan ejekan. Detilnya bisa menjadi novel tersendiri. Teman-teman bilang aku “hidup dalam mimpi.”  Jadi, perlu keputusan drastis kalau mau tetap di bumi! 

Beberapa malam pertama, aku menumpang tidur bersama teman, di daerah Jagir, Wonokromo. Secepatnya aku berusaha mencari pekerjaan. Caranya dengan berkunjung ke Kebon Binatang. Siapa tahu ada pencinta satwa yang memerlukan  tenaga upahan. Atau, mungkin ada instansi mencari karyawan baru? Tapi aku lupa, badanku termasuk kecil dan baru lulus Sekolah Menengah Pertama.

Jelas tidak seorang pun tertarik mempekerjakan aku. Menjelang seminggu,  temanku keberatan kalau aku terlalu lama tinggal bersamanya. Dia sendiri sebetulnya juga menumpang di rumah kakaknya. Sebelum hubungan menjadi buruk, sebaiknya aku mencari tempat lain, atau balik ke Malang.

Aku mengemasi barang-barangku dan berangkat meneruskan perjalanan. Ke mana? Tidak tahu! Yang terpikir pada saat itu, aku perlu berdoa di gereja. Dua hari menjelang Natal, gereja cukup ramai. Banyak orang antre untuk mengaku dosa.  Itulah kesempatan untuk bertobat, menurut ajaran gereja.

Aku ikut antre. Tidak usah diceritakan apa yang terjadi di Ruang Pengakuan. Dalam tempo kurang dari satu jam kemudian, aku sudah diantarkan pulang ke Malang.  Atas permintaan Pastor Dibyo yang memohonkan ampun dosa-dosaku, sepasang suami isteri mengantarku ke Frater Florentinus, di biaranya.

“Frater Florentinus sedang berdoa. Ada muridnya melarikan diri. Frater tidak menerima tamu sebelum muridnya  pulang,” kata penjaga.   

“Sampaikan pada Frater, muridnya yang nakal itu sudah datang,” kataku.

Tanpa menunggu lama, Frater Florentinus muncul. “Tuhan mendengarkan doa kita. Terima kasih, kamu pulang,” katanya. 

Ternyata selama aku pergi, guru agama itu menjalani retret khusus.  Ia termasuk orang yang harus menanggung kesedihan orangtuaku.  Mereka mencariku sampai ke Ngimbang, desa kelahiranku.  Nenekku menangis berulang-ulang.  Adikku jatuh sakit, akibat kakaknya hilang.

Bulan Desember 2021 ini genap 50  tahun petualangan konyol itu. Aku seperti mendapat jawaban, mengapa anak yang hilang ini kembali ditemukan? Jelas karena kekuatan doa guru agamaku. Frater Florentinus berpuasa khusus, memohon agar Tuhan membimbingku.    Testimoniku jelas:  begitu banyak guru telah mengajarku sepanjang hidup ini.  Terima kasih semuanya.  Teristimewa Frater Florentinus, guru agama yang betul-betul bertanggung jawab. Doanya terkabul pada saat murid yang nakal menghadapi konflik yang berat. ***

About fraterbhk

Check Also

Frater Roland Disch

Kenangan Penuh Kasih fr. Roland Disch Pada 2 Oktober 2019 yang lalu, Frater Roland Disch …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *