Home / Ruang Imajinasi / Cinta Tak Bersyarat

Cinta Tak Bersyarat

Cerpen oleh Fr. M. Marselus Natar, BHK

Kedua kelopak mataku terasa masih berat sehingga erat merekat pejam menutupi retina mataku. Rasa-rasanya tubuh ini enggan untuk bangun dari pembaringan ‘tuk mengusir kesepian subuh sunyi mencekam. Sementara jam dinding mengisyaratkan untuk sesegera mungkin tubuh ini berpaling dari pembaringan. “Akh… sialan, betapa pendeknya malam ini,’’ jeritku kesal. Dengan tergesa-gesa aku meninggalkan tempat tidurku, lalu menuju kamar mandi untuk membasuh diri sebelum masuk ruangan doa atau yang kami kenal dengan sebutan kapel.

Di tempat ini aku dan beberapa sahabat melantunkan nada puji-pujian, syukur, dan keluh kesah permohonan kepada Dia yang kami yakini senantiasa mendengarkan dan menjawab setiap seruan kami, entah subuh maupun petang. Dari pagi ke pagi pada jam yang sama aku dan beberapa sahabat selalu berada di tempat ini untuk mengungkapkan nada yang sama kepada Dia.

Adalah suatu keistimewaan yang menjadi kelaziman kami ialah setiap untaian ungkapan nada syukur dan pujian yang kami lantunkan, tidak secara langsung kepada Dia, akan tetapi melalui perantaraan seorang  gadis manis yang sangat menawan hati. Sosok gadis itu sangat memesona, membuat mata selalu ingin menatap, membuat hati selalu ingin berpaut pada parasnya yang elok tiada taranya. Diamnya telah menyita banyak perasaanku. Tatapannya bercahaya syahdu, membuatku merunduk bisu kala waktunya bersua.

Ya, memang benar bahwa tatapan matanya seolah olah menembus tulang dadaku dan menyingkap tabir kalbu. Ya, aku pasrah pada lirikan matanya yang anggun. Aku ingin sirna tertambat lebur pada bening bola matanya. Belakangan ini setelah aku

mengenalnya lebih dalam, aku merasa dialah satu-satunya wanita di jagat ini yang paling mulia dan sempurna. Setiap kali aku curhat padanya, ia selalu menjawabnya dengan diam penuh pengertian. Salah satu harta mulia tak tergantikan yang aku peroleh darinya ialah pentingnya keheningan dalam hidup. Oh, Maria, kuingin seutuhnya jiwa ragaku ini melebur larut ke dalam jiwa ragamu yang utuh pula.

Aku telah meninggalkan segala-galanya demi cintaku yang suci, demi cintaku yang utuh dan tulus untukmu seorang diri, Maria. Dari subuh ke subuh aku berjanji akan selalu menepati janji kita untuk saling berbagi rasa dalam keheningan serta lantunan syukur pujian dan permohonan yang aku pasrahkan melaluimu untuk Dia. Aku tahu kehadiranmu di hadapan-Nya mampu meluluhkan hati-Nya dan berujung pada terkabulnya segenap rintih dan keluh kesahku pada-Nya. Pada cintamu aku tak pernah bimbang atau ragu, aku takkan pernah menaruh curiga atau cemburu. Cintamu utuh tak terpisahkan, cintamu teguh tak tergoncangkan, cintamu suci tak tergoreskan seiota noda pun. Aku mencintaimu, Maria walau terkadang kumerasa tak layak, akan tetapi setidaknya aku telah ‘‘mencuri’’ banyak hal darimu. Sejujurnya aku ingin memiliki cintamu seutuhnya. Aku ingin segenap arah gerak hidupku mengatasnamakan getaran dasyatnya cintamu.

Seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu di sudut kapel kala petang tiba, bahwa aku pernah merajut cinta dengan seorang gadis desa yang lugu, santun, ramah, polos, sederhana, dan penuh pengertian. Entah mengapa, suatu ketika ia terbelit dalam lingkaran api cemburu. Hal itu berawal dari ketika ia melihat aku berjalan dengan seorang gadis yang adalah keponakanku sendiri dan kebetulan baru bertemu denganku setelah belasan tahun berpisah. Cemburunya membara, membakar tali percintaan yang lama terpelihara. Semakin hari berganti, semakin lebar hubungan percintaan merenggang sampai berujung putus menyisakan setumpuk kenangan.

Sungguh, yang kucari cinta tetapi yang kutemukan luka. Akh, betapa aku tak memahami cinta. Apakah aku harus berhati sendu dan berlentur jiwa agar fleksibel mengikuti getarannya?  Sungguh, betapa bodohnya aku kala itu. Akan tetapi, aku mesti banyak bersyukur bahwasannya saat ini aku beruntung ada di hadapanmu, Maria. Aku beruntung bahwa engkau menerimaku untuk merajut cinta yang utuh, cinta yang sempurna, cinta yang suci nan murni. Di atas segala keberuntunganku, memiliki cintamu adalah suatu kemuliaan bagiku dan suatu pengkhiatan bagi cintamu apabila perasaan manusiawiku yang bersumber dari hati dan mata berdaging menimbulkan pikiran dan tindakan yang kosong, tanpa didasari cintamu. Di saat terjaga, aku berdiri mantap, menengok kekuatan cintaku kepadamu.

Terkadang aku bertanya, “Akankah cinta kita tetap terpelihara dan utuh terjaga tanpa cela sampai akhir hayat, bahkan sampai di Surga?” Oh, Maria, kekasih pujaanku, tuntunlah kedua kakiku dan genggamlah kedua tanganku pada jalan kesunyian yang engkau tempuh. Biarlah segala kegaduhan hati manusiawiku sirna tertelan sunyinya jalanmu. Biarlah keperkasaan cintamu senantiasa menjadi senjata ampuh serta penuntun jalanku. Bagiku, belajar mengenalmu adalah belajar mengenal cinta. Bersua denganmu adalah bersua dengan cinta. Ada bersamamu adalah ada dalam cinta.

Maria, waktu kian berlalu dan sesungguhnya aku terlampau jauh mengerti dan mengenalmu. Aku tahu engkau menjadi gadis yang sangat berpengertian justru karena cinta telah menjadi bagian dari hidupmu. Cintalah yang membuat engkau menjadi insan yang peduli, insan yang rendah hati, insan yang dijiwai roh kesederhanaan. Seperti yang telah kucurahkan padamu petang itu, bahwa hari-hariku kadang diliputi pergulatan yang hebat. Aku gentar menghadapi getaran cintamu. Ada rasa kecil yang merongrong diri ini dan membuatku malu akan dasyatnya cintamu. Ya, Maria, aku malu pada cintamu. Aku malu menjadi kekasih hatimu. Aku takut jika aku hanya ada di sampingmu di saat untung saja. Namun, di saat malang melanda cintaku sirna dalam terpaannya.

Akh, cintaku buta, cintaku semu penuh kamuflase. Sesungguhnya aku berdiri menari di atas cinta bersyarat yang sesaat dan menuai luka sebagaimana dimiliki banyak insan di jagat ini. Atas nama cinta aku berpura-pura peduli, atas nama cinta aku berpura-pura berpengertian, berpura-pura sederhana, berpura-pura rendah hati. Lantas, bertahankah cintaku di bawah syahdu teduhnya pandangan matamu? Akh, Maria, rangkulah aku dalam dasyatnya cintamu. Biarlah diriku sungguh-sungguh mengenal cinta yang engkau miliki. Bujuklah aku dalam sunyi suci jalanmu. Biarlah cintamu perlahan merasuk jiwa ragaku seperti cahaya lilin yang kunyalakan di hadapanmu ‘tuk menembus remang petang.

Maria, aku rebah pada diammu. Dari kehampaanku, kutengok paras bisumu yang penuh pengertian. Bisumu adalah bahasa cinta dengan makna tak terkatakan.  Diammu menunjukkan hakekat cinta yang sesungguhnya, tanpa banyak kata, hanya banyak berbuat. Maria, kekasih pujaan hatiku, ajarilah aku bahasa cintamu. Ajarilah aku menjaga dan memelihara keheningan dalam kesunyian, menjaga dan memelihara keheningan dalam keributan. Seperti dirimu oh kasihku, dalam keheningan engkau mengandung cinta, melahirkan kepedulian, kepekaan, pengertian, kerendahan hati, dan kebijaksanaan yang abadi. Padamu aku menemukan ketulusan cinta yang menyembuhkan tanpa segores luka. Sungguh, cinta yang lama kucari kini kutemukan dalam potret bisumu laksana subuh sunyi. Juga cahaya syahdu bola matamu laksana cercah-cercah lilin petang yang kunyalakan di hadapanmu. Maria, genggam dan benamkanlah aku ke dasar samudera cintamu yang mahadasyat. Biarlah jiwa ini terbuai pulas dalam aliran cintamu. Sirnalah cintaku yang buta, cintaku yang berkamuflase dengan berlaksa-laksa kepura-puraan layaknya drama pada layar kaca dengan bumbu-bumbu sandiwara yang semu.

About fraterbhk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *