Home / Sharing Berita / Hermina Welin Wulohering

Hermina Welin Wulohering

Alumni SMAK Frateran Maumere, Wartawan Majalah Hidup

Hermina W. Wulohering

Pawal Desember 2018, kami bertemu di Bandung, dalam acara Kopi Darat Nasional (KOPDARNAS) Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG). Kami berkenalan dan berbagi cerita. Melalui obrolan ringan, saya jadi tahu bahwa Hermina Wulohering adalah alumni sekolah Frateran. Pada 2006, ia lulus SMPK Frater Maumere. Tiga tahun setelah itu, ia menuntaskan sekolahnya pada jenjang pendidikan menengah atas di SMAK Frateran Maumere.

Selama dua hari di acara Kopdarnas, dia bercerita banyak tentang perjalanan kariernya, terutama dalam dunia jurnalisme. Terakhir, ia bekerja sebagai wartawan di media Katolik Nasional, Majalah Mingguan HIDUP Katolik. Melalui komunikasi daring, saya berkesempatan untuk menghimpun informasi tentang dirinya. Berikut uraiannya.

Alasan Masuk Sekolah Frater

Apa yang membuat gadis yang disapa Hermin ini memilih masuk sekolah frater? Padahal, di Maumere, Flores, ada banyak sekolah yang berkualitas. Begini dia mengutarakan latar belakangnya. Hermin bercerita bahwa rumahnya hanya lima menit jalan kaki menuju sekolah, SMPK Frater Maumere. Sekolah ini sudah terkenal sejak dulu sebagai sekolah favorit, tidak hanya di Kabupaten Sikka, tetapi juga di Flores dan NTT. Sebelum dia, ketiga kakaknya mengenyam pendidikan di SMP Frater. Dari mereka, orangtua melihat kualitas output pendidikan di SMP Frater. Selain lebih maju secara akademis dibandingkan sekolah-sekolah lain, negeri maupun swasta, SMP Frater juga unggul secara karakter dan spiritual. Anak-anak SMP Frater (terutama) dikenal lebih disiplin.

“Pukul 06.00 lebih sedikit, kepala sekolah, Frater M. Yohanes Berchmans, BHK, sudah menanti kami di tangga depan sekolah, sebelum masuk ke lobi. Saat teman-teman di sekolah lain masih dalam perjalanan ke sekolah atau bahkan masih di rumah, jalan dan lingkungan di sekitar Jalan Kimang Buleng sudah sepi. Pukul 07.00 tepat gerbang sekolah sudah ditutup. Kami  sudah di halaman tengah, mengelilingi Gua Maria Bunda Hati Kudus untuk berdoa bersama. Ibadat harian dibawakan secara bergantian per kelas, ini termasuk doa, lagu, dan renungan dari bacaan Kitab Suci sesuai kalender liturgi,” cerita Nona Sikka yang lahir di Maumere pada 19 Desember 1991 ini.

Lebih lanjut, gadis yang sejak Mei 2008 bekerja sebagai jurnalis di Majalah HIDUP Katolik ini mengungkapkan bahwa keterlambatan ke sekolah adalah sesuatu yang memalukan. Kalau sampai itu terjadi, siap-siap menerima sanksi berat. “Saya ingat, sekali waktu saya pernah terlambat. Ketika sampai di sekolah, doa pagi bersama sudah dimulai. Saya dan teman-teman (yang terlambat) masih ditahan di tangga lobi. Setelah doa selesai, kami diceramahi oleh Pak Gondo yang waktu itu menangani bagian kesiswaan. Sesuai kesepakatan yang sudah diketahui orangtua, kami harus membawa bibit pohon glodok. Harganya Rp 20.000 per anakan. Cukup mahal bagi kami, karena saat itu uang jajan Rp 2.000 sudah bisa untuk beli nasi bungkus, pentol, aqua (biasanya kami singkat: nastola),” kisah Hermin mengenai kedisiplinan yang menjadi keunggulan almaternya. Hermin juga menuturkan bahwa selain kebiasaan doa pagi, di SMP Frater juga ada doa Angelus bersama, yang dipandu dari ruang Tata Usaha (TU). “Pengalaman ini tidak ada di sekolah negeri tentunya dan beberapa sekolah swasta Katolik lain,” katanya.

Dara yang bisa berbahasa Mandarin dan Jerman secara  pasif  ini  bercerita  bahwa  di  SMP  Frater  ada program English Day setiap Kamis. Kecuali KBM, aktivitas seperti salam dan doa-doa menggunakan Bahasa Inggris. “Mudah-mudahan sampai sekarang masih ada,” harapannya. Hermin berpendapat bahwa pembiasaan itu penting dan sangat menunjang siswa-siswi dalam belajar bahasa asing itu. Waktu kelas SMP kelas II, ia pernah mewakili sekolah mengikuti Lomba Pidato Bahasa Inggris dan juara. “Dalam bidang akademik, SMP Frater selalu unggul. Biasanya kalau ada lomba-lomba tingkat kabupaten, kami selalu juara,” ungkapnya bangga.

Keunggulan lainnya kata Hermin, adalah ekstrakurikuler. Ada banyak pilihan ekskul di SMPK Frater, mulai dari akademik sampai kesenian dan olahraga. Beberapa ekskul pengasuhnya didatangkan dari luar, seperti praktisi atau pelatih yang memang kompeten di bidangnya. “Seingat saya, selama di SMP Frater, saya ikut ekskul Bahasa Inggris. Bahkan guru ekskulnya bukan hanya guru Bahasa Inggris, tapi ada beberapa pengajar dari luar. Ada juga penutur Bahasa Inggris (bule), namanya Summer yang kebetulan saat itu sekolah di sana. Meski ekskulnya belajar bahasa, kami juga dapat kesempatan mengekspresikan bakat kami saat pentas seni (pensi). Ekskul ini biasanya membawakan drama berbahasa Inggris,” ceritanya lagi.

SMAK Frateran Maumere baru dibuka tahun 2005, saat Hermin duduk di bangku kelas III SMP. Saat itu, meskipun belum ada alumni yang tamat dari SMAK Frateran, sebagai jaminan kualitas, Hermin dan hampir semua teman angkatannya di SMP Frater langsung melanjutkan sekolah di sana. Selain karena pertemanan, kata Hermin, mereka menikmati lingkungan belajar di sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Mardi Wiyata. Apalagi saat itu, ia paling tertarik dengan program lima bahasa di SMAK Frateran, yaitu Indonesia, Inggris, Jepang, Mandarin, dan Jerman.

“Di SMA Frateran, bahkan jauh lebih baik dari SMP Frater, mulai dari fasilitas lengkap, ekskul, sampai guru dan model pembelajarannya. Di Smater (julukan SMAK Frateran Maumere), saya menemukan dua orang guru yang luar biasa berdedikasi dan kreatif, menjadi guru idola saya sampai saat ini, yakni Bapak Minzenti Arnoldus (guru Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman, Teater, Wartawan Remaja) dan Bapak Vinsensius Ditus (guru Bahasa Inggris). Saya kira dari keduanya juga saya belajar berpikir sistematis dan logis hingga kini,” ungkap Hermin tentang dua guru favoritnya.

Di Smater, kata Hermin, kepala sekolah, Frater M. Dominikus, BHK, tidak hanya menyambut mereka di gerbang, tetapi mereka juga satu per satu mencium tangan Frater. Karena itu, sang kepala sekolah, walaupun tidak hafal nama semua anak, tetapi beliau bisa mengenal wajah semua siswanya. Siswa-siswi SMAK Frateran (saat itu) bisa dipastikan rapi sejak keluar rumah sampai masuk rumah kembali. Indikatornya, baju yang disisip dalam rok/celana. Selain itu, buang sampah sembarangan menjadi sesuatu yang haram bagi anak-anak. “Awalnya, kami melakukan itu karena takut, tapi lama-kelamaan ini menjadi kebiasaan. Kami belajar mencintai lingkungan,” tutur Hermin.

Sejak di bangku sekolah, Hermin sudah aktif di dunia tulis-menulis. Selama di SMAK Frateran Maumere, ia ikut ekskul teater dan wartawan remaja (Warem). “Di Warem saya pernah menjadi pemimpin redaksi untuk majalah dinding sekolah yang letaknya di salah satu koridor sekolah. Pengasuh ekskul teater adalah Pak Dus dan seorang seniman hebat, (Alm) Opa Heman Yoseph. Saya dua kali membawakan naskah Opa Herman. Salah satunya adalah sebuah monolog berjudul “Nyora, Istri Guru” saat perayaan 50 Tahun Yayasan Mardi Wiyata,” kenang alumi yang pernah dua kali mengharumkan Smater pada lomba Pidato Bahasa Indonesia dan Debat Bahasa Inggris itu.

Sejak SMA, Hermin aktif berorganisasi. Di sekolah, ia menjadi Ketua Musyawarah Perwakilan Kelas (MPK). “MPK terdiri dari perwakilan setiap kelas, semacam legislatif. Tugasnya mengawasi jalannya OSIS dan menyelenggarakan pemilu Ketua OSIS periode berikutnya,” terangnya. Sekolah juga aktif bekerja sama memberi ruang untuk lembaga lain masuk dan mempromosikan kegiatan mereka. Seingat Hermin, pernah ada penyuluhan kesehatan reproduksi, promosi panggilan dari tarekat religius, atau kegiatan organisasi masyarakat. Hal-hal seperti ini (saat itu) tidak selalu bisa didapatkan di sekolah lain. Dari promosi ini, Hermin mengenal dan terlibat dalam organisasi ekstra sekolah, yaitu Sahabat Lingkungan Tana Pu’ang WALHI NTT. “Walaupun belakangan saya alami organisasi ini hanya bertahan beberapa tahun dan mati karena manajemennya buruk. Kecintaan saya akan lingkungan terpupuk sejak itu,” sesalnya.

Menjadi Wartawan

Nona berambut sebahu, yang pernah bekerja sebagai wartawan media online Netral News, berkantor di Jakarta Utara itu, berkata bahwa di Smater, dia bukan anak-anak grup “A”. Dia tidak termasuk siswa dalam kategori unggulan. Akan tetapi, kecintaannya pada ilmu sosial membuat ia memutuskan melanjutkan studinya di jurusan Hubungan Internasional. Hermin sangat tertarik dengan organisasi-organisasi internasional. Hal lain yang menjadi alasan ia menempuh program itu karena ia lulusan dari jurusan IPS. Hermin, berkuliah di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. Sejak kuliah di jurusan dengan predikat akreditasi “A” itu, Hermin memang suka dunia jurnalistik. Ia mengikuti beberapa pelatihan jurnalistik. Saat lulus, karena ia lulusnya lama, orangtua tidak mau menanggung biaya hidupnya lagi, terhitung sejak ia diwisuda. Pilihannya bekerja atau pulang kampung. Saat itu, bungsu dari empat bersaudara ini mendapat informasi dari seorang teman – kakak kelas di SMP dan SMA Frateran – ada lowongan di sebuah perusahaan media online baru. Tanpa tawar-menawar, ia masukan lamaran dan diterima. “Saya banyak membantu di desk internasional. Menulis kembali (rewrite) berita dari media luar negeri atau rilis,” cerita Hermin tentang pekerjaan yang pernah digelutinya selama setahun itu.

Bagaimana sampai Hermin bisa bekerja di HIDUP? Saat bekerja di Netral News, kebanyakan berita yang dia buat adalah hasil terjemahan dan rewrite dari media-media luar. Sebenarnya, yang dia inginkan adalah benar-benar menulis. Seorang senior mengatakan kepadanya, “Kalau kamu ingin benar-benar menulis, coba bergabung di media cetak.” Beberapa kali ia melihat lowongan reporter media cetak, belum ada yang buka. “Sampai satu waktu, di grup UKM Katolik dulu ada teman yang menyebarkan info lowongan reporter untuk HIDUP. Saya mendaftar, diterima, lalu mengikuti pelatihan, menjadi wartawan lepas dan diterima sebagai pegawai tetap. Puji Tuhan!” ceritanya penuh syukur.

Selanjutnya, putri pasangan Bapak Alexius Puaq Wulohering, pensiunan PNS Depag Sikka dan Mama Agnes I. Lelang Wayan, pensiunan perawat ini, mengisahkan pengalamannya yang paling menarik dari profesinya saat ini. Ia mengungkapkan bahwa menjadi jurnalis, itu berarti ia (seperti) dibayar untuk mempelajari hal-hal baru, pergi ke event-event keren secara gratis, bisa bergaul dengan orang-orang luar biasa, dan bertanya apa saja pada mereka, sesuka hati. Selain ikut menulis hard news, ia juga memegang rubrik Eksponen. Rubrik ini adalah feature dua halaman berisi tentang tokoh yang menginspirasi dengan keahliannya dalam suatu bidang tertentu. “Saya bersyukur bisa menjumpai dan ngobrol dengan orang-orang hebat ini. Kadang saya pikir, keren ya, orang hebat, ada yang susah ditemui, tapi bisa saya temui empat mata, ngobrol lama lagi. Kalau bukan karena saya jurnalis, mana bisa saya punya privilese ini,” tegasnya.

Hermin sedang mewawancarai Quraish Shihab tentang Human Fraternity Meeting

Hermin juga bercerita tentang kesulitan-kesulitan yang dialaminya sebagai jurnalis, antara lain jam kerja yang tidak menentu, bukan nine to five (seperti jam kerja kantoran pada umumnya), meski di satu sisi, ini juga hal yang menyenangkan. Kadang liputan sampai tengah malam. Sabtu dan Minggu pasti ada saja tugas liputan. Apalagi HIDUP adalah media Katolik, kebanyakan acara Gereja diselenggarakan pada Sabtu dan Minggu. Selain itu, harus banyak sabar kalau narasumbernya tiba-tiba mengundur atau membatalkan janji wawancara. “Saat dikejar deadline, pulang subuh adalah barang biasa. Bahkan tidak jarang kantor redaksi jadi tempat bermalam,” ceritanya.

Ketika ditanya, apakah pekerjaannya yang sekarang ada hubungannya dengan pendidikan/ilmu/pengalaman yang dialaminya waktu di Smater dulu, Hermin menjawab tegas, “Ya!” Ekskul Wartawan Remaja tentu menjadi pijakan baginya belajar jurnalistik. “Saya juga punya guru-guru Bahasa Indonesia yang baik di SMP dan SMA. Hal lain yang saya syukuri adalah soal disiplin waktu. Saya selalu memastikan hadir paling lama 15 menit sebelum jadwal wawancara atau liputan. Ini membantu saya ‘menguasai’ narasumber saya,” kata gadis yang suka jalan-jalan ini.

Di akhir wawancara, filatelis ini mengungkapkan harapannya kepada semua orang muda, terutama adik-adik yang saat ini sedang menempuh pendidikan di almamaternya tercinta, SMPK Frater dan SMAK Frateran Maumere. Katanya, sebagai generasi yang akan bertanggung jawab terhadap masyarakat, negara, dan Gereja, orang muda harus menemukan suatu bidang yang sesuai dengan minat (passion). Tidak harus akademis. Manfaatkan sebaik-baiknya semua fasilitas yang disediakan di sekolah. “Sekolah-sekolah Frateran, di mana pun, tentu lebih mahal dari sekolah lain. Karena itu, kita juga harus lulus dengan mutu atau kelebihan tertentu. Beberapa tahun terakhir, SMAK Frateran Maumere terlibat dalam banyak program nasional dan internasional. Manfaatkan itu! Di sekolah, guru-guru selalu siap mendengarkan dan mengarahkan kalau kita terbuka untuk berdiskusi dengan mereka,” pungkasnya.

Fr. M. Walterus Raja Oja, BHK

About fraterbhk

Check Also

Selamat! Miss Indonesia 2020, Pricilia Carla Yules, Alumi SMAK Frateran Surabaya

Carla diapit oleh Miss Indonesia 2019 dan Miss World Miss Indonesia 2020 adalah kontes kecantikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *