Home / Sharing Inspirasi / Cerita Kecil Seorang Calon Guru

Cerita Kecil Seorang Calon Guru

Udara pagi tampak cerah hari itu, semua warga sekolah disibukkan dengan aneka tugas yang sudah menjadi tanggung jawab mereka dan telah terprogramkan untuk jangka waktu setahun. Tampak sebuah bangunan putih berlantai dua berdiri kokoh menampung 147 siswa yang siap menimba ilmu di setiap ruangnya. Bangunan itu seolah memberikan sebuah janji bahwa suatu saat akan lahir para generasi muda yang kritis terhadap situasi zaman dan berani membuat perubahan bagi bangsa dan tanah air. Ya…, di sanalah akan terlahir produk-produk unggulan yang akan memberikan warna tersendiri di setiap instansi, pemerintahan maupun swasta.

Namun sayangnya, kenyataan tak sekokoh gedung itu berdiri. Masih saja ada orangtua siswa yang belum mau memberikan kesempatan bagi anak-anak mereka untuk dididik oleh sejumlah pahlawan tanpa tanda jasa, yang telah sekian lama mengabdikan diri di sekolah itu. Mereka lebih mencari “gedung” lain yang lebih menjanjikan dengan sarana dan prasarana lengkap, gratis, dan selalu baru, ketimbang gedung putih yang telah lama berada di tengah perkampungan itu.

SMA PGRI Lawang, sebuah nama yang kini makin kurang mendapat minat oleh masyarakat setempat. Ia ibarat sebuah lukisan yang dipamerkan, tetapi kurang mendapat perhatian dari setiap orang yang lewat. Meski begitu, gedung ini pernah “bergema” di kota Lawang. Ia pernah menampung ribuan siswa dan unggul dalam aneka prestasi, tetapi kini, gedung itu hanyalah sebuah nama yang hanya dikenang oleh masyarakat setempat tentang kejayaannya di masa silam. Mungkinkah kejayaan itu akan terulang lagi? Semuanya membutuhkan waktu, kerja keras, dan kerja sama semua tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah itu.

Hari itu adalah hari ketiga masa praktek aku bersama dengan kedua belas teman sekampus. Kami masih punya waktu dua bulan lamanya untuk belajar menjadi seorang guru bersama dengan para guru di sekolah itu. Kami berasal dari program studi yang berbeda, tetapi disatukan untuk belajar bersama. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, PKn, dan Geografi, kami berbaur menjadi satu, saling membagi ilmu dan pengalaman yang sudah kami peroleh di bangku kuliah. Satu keyakinan awal bahwa kami akan mampu melewati masa magang ini dengan baik, sambil terus mengingat pesan dosen-dosen kami agar selalu menjaga nama baik kampus lewat sikap dan tutur kata kami sehari-hari.

Setiap kami diberi satu guru. Ia bertugas untuk membimbing kami dalam penyusunan perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan, selain memberikan kesempatan kepada kami untuk mengajar di kelas dengan metode dan cara kami masing-masing. Tiba saatnya untuk berbagi pengalaman ketika mengajar di kelas, seorang teman masuk ke ruangan guru dengan wajah kusam. Tampaknya ada ketidakberesan yang ia alami saat itu.

“Bagaimana pengalamanmu mengajarnya?” tanyaku. Ia belum mau menjawab, tampak hening di wajahnya, seperti ada sejuta penyesalan di sana. Sambil mengusap air mata, ia menjawab, “Kak, teman-teman kami tak dianggap oleh anak-anak, kata salah seorang siswa, kami hanyalah guru PPL.”

Prodi mereka memang diminta semua masuk kelas. Satu orang bertugas mengajar, sedangkan yang lainnya membantu mengelola kelas agar anak-anak tertib mengikuti pelajaran. Begitu selanjutnya secara bergantian. “Ah…, mengapa mereka seperti itu? Padahal kita sudah diperkenalkan kepada mereka bahwa kitalah yang akan mengajar mereka sampai masa praktek ini selesai,” kataku penuh kesal.

Semua terdiam, seakan ada pertanyaan dalam hati kami masing-masing, “Apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti kedua temanku ini?” Salah seorang temanku mencoba memecah kesunyian. Ia berkata, “Mungkin kalian berdua terlalu kecil, jadi tidak dianggap sama mereka.” Maksudnya hanya untuk membuat temanku tadi tidak terlalu memikirkan sikap dari para siswa di kelas itu. Spontan tawa memecah kesunyian saat itu. “Ini hanyalah sebuah tantangan awal, ke depan mereka akan menghormati kalian berdua, layaknya seorang guru mereka sendiri,” kataku memberi kekuatan. “Nanti saat mengajar, berusahalah untuk dekat dengan anak-anak, bertanya apa kesulitan mereka, dan bersedialah membantu. Buktikan bahwa untuk saat ini, kita punya pengetahuan lebih dari mereka,” lanjutku sambil mengemas beberapa buku yang akan kupakai mengajar hari itu.

Aku berlalu pergi menuju ruang kelas. Meski memberi kekuatan pada teman-temanku, sebagai manusia, ada keraguan dalam diriku. Satu pertanyaan muncul, “Apakah aku akan mengalami hal yang sama seperti kedua temanku tadi?” Pertanyaan ini menemani ayunan langkahku menuju ruang kelas. “Ah…, semoga saja tidak, aku harus mencari cara agar proses mengajarku selalu mendapat perhatian dari mereka dan mereka harus mengerti dengan setiap materi yang kuberikan,” tekadku sambil terus mengayunkan langkah menuju ruang kelas.

Waktunya untuk beristirahat. Aku kembali ke ruang guru, hendak membagikan pengalamanku hari itu kepada teman-temanku. “Bagaimana, Kak, pengalaman hari ini?” tanya Dewi, seorang teman dari Prodi Geografi. “Semua berjalan dengan lancar, mereka mengikuti prosesku dengan baik, ya… meski masih ada beberapa siswa yang kurang memerhatikan, tapi aku yakin ke depannya, mereka akan mengikuti porses dengan lebih baik,” ceritaku.

“Kami dari Prodi Geografi tidak mengalami hal itu, kami diterima dengan baik di kelas, makanya pakai trik,” temanku, Kardin namanya bercerita. Ia berusaha membuat suatu lelucon. Sukses, semua tertawa mendengarnya. Yang lain masih menimpali, menambah satu-dua hal untuk melemaskan ketegangan. Aku berlalu dari kelompok menuju kantin sekolah, memesan segelas kopi kepada seorang ibu yang berjualan di sana.

Mereka yang tadinya berkumpul, akhirnya terpencar-pencar oleh hembusan aroma tembakau dari mulutku. Spontan, refleksiku muncul bahwa masalah itu akan berlalu pergi seperti asap rokok ini. Mereka akan pergi berbaur bersama angin dan meninggalkan jejak berupa aroma tembakau, sebagai pertanda bahwa ada yang merokok. Masalah akan menjadi sebuah kenangan yang akan selalu diingat, tetapi tidak untuk dialami lagi. Sekali seumur hidup sebuah persoalan terjadi. Kalaupun akan terulang lagi, itu hanya karena kelalaian manusia saja. Persoalan yang dialami kedua temanku itu akan berlalu jika diterima sebagai suatu cambuk awal dan mereka mau berproses lagi, sambil berbenah diri dengan berusaha mencari cara lain agar bisa diterima anak-anak. Bukankah sebuah keberhasilan dicapai, apabila kita mau belajar dari pengalaman?

Fr. M. Alfonsus Jemi, BHK

About fraterbhk

Check Also

Frater Willibrordus Hilhorst

Kenangan Penuh Kasih fr. Willibrordus Tujuh puluh empat tahun lalu, tepatnya pada 15 Agustus 1946, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *