Home / Sharing Gagasan / Mengapa Kita Harus Takut

Mengapa Kita Harus Takut

Menyimak berbagai fenomena kehidupan manusia di zaman ini, banyak orang hidup dalam alam ketakutan, walaupun kita hidup dalam era reformasi. Takut mengkristisi sesuatu kebenaran  yang dimanipulasi oleh penguasa, karena ia nanti dianggap pembangkang alias tidak loyal pada pemimpin. Takut meminta pendapat dan nasihat dari orang bijak, nanti ia dianggap tidak mampu. Takut belajar dari para pendahulunya, karena ia akan dicap bodoh. Takut mem-pertahankan nilai-nilai luhur, sebah ia akan dikatakan kolot, kuper dan kurang gaul. Takut meng-akui kesalahan dan meminta maaf, nanti dianggap tak berdaya [ jika pernah berbuat salah ].

Berbagai anggapan, label, atau cap yang diberikan pada diri kita, maka hidup kita ini akan tetap bersandiwara. Sandiwara untuk mencari aman, tidak berani mengatakan kebenaran, dan mengkritisi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain lebih-lebih para penguasa. Bukankah ini susuatu yang sangat keliru? Ketakutan tidak akan memerdekakan kita. Ketakutan tidak akan menghantar kita pada tujuan hidup yang sebenarnya, melainkan membawa kita menujuh mala-petaka. Karena takut menyampaikan sesuatu kebenaran yang berdasarkan fakta dan kenyataan tentang terakumulasinya suatu perbuatan yang sebenarnya, itu berarti kita membiarkan kesalahan dan bahkan membenarkan kesalahan sehingga mereka (para pemimpin ) tetap bermain dalam kesalahan, karena kita nanti takut disingkirkan, dinonaktifkan, dipernsiunkan, dibebastugaskan dari suatu jabatan. Dan lebih naif lagi, orang takut dipecat dari kumpulannya (organisasi politis maupu religius). Akibat ketakutan dengan tindakan dari penguasa seperti tersebut, maka wa-laupun fakta dan kenyataan itu benar toh kita tetap melindungi mereka dengan mengatakan semuanya itu tidak terbukti. Maka dapat dikatakan kita juga turut memancing ikan dalam air keruh, sebab kita membenarkan perbuatan yang salah dari para penguasa.

Ketakutan serupa ini, jelas bahwa kita tidak akan berkembang dan kian lama kita akan hancur. Karena orang yang berkuasa dan kuat berkuasa dengan leluasa untuk berbuat semena-mena walaupun perbuatanya sangat – sangat bertentangan dengan nilai kehidupan manusia pada umumnya. Kita sebenarnya tak perlu takut untuk mengatakan kebenaran. Oleh karena itu, sebenarnya kita harus berani mengatakan ”benar jika benar, dan katakan salah jika salah”.  Jangan kata ya, jika ingin sampaikan tidak, dan jangan katakan tidak jika ingin bilang ya, sebab Yesus tokoh yang kita ikuti itu selalu mengatakan, Ia adalah jalan kebenaran dan hidup, terang dan garam bagi dunia. Dilain kesempatan Yesus sendiri mengatakan , Ia adalah pokok anggur dan kita ranting-rantingnya. Yesus yang kita imani dan kita ikuti itu adalah pokok dan sumber kebenaran, maka, kita sebagai orang yang terpanggil untuk mengikuti-Nya harus menjadi jalan menujuh kebenaran, yakni; benar dalam berpikir, berkata dan berbuat.

Ada berbagai teori tentang kebenaran (ada teori koherensi, korespondensi, empiris dan lain lain), namun itu tidak penting dan apa gunanya jika kita sendiri tidak berbuat benar dalam praktik hidup sebagai orang yang terpanggil. Kita sering tidak jujur dalam menghayati hidup ini, dan selalu berusaha untuk menjegal orang lain agar orang lain jangan melebihi kita. Mengapa hal ini bisa terjadi dan memang terjadi, karena kita takut disaingi. Ketakutan seperti ini sangat ber-bahaya dalam tarekat kita untuk masa depan.  Sebab model katakutan seperti ini (takut disaingi ) ini sangat bertentangan dengan nilai spiritualitas hidup religius kita yang tercantum dalam kons-titusi pasal 2, ”Kita bersama orang lain  adalah anak-anak satu Bapa; kita bersama dipanggil un-tuk menjadi umat Allah, saling menerima dalam cinta dan serah diri, saling mendukung dan saling melengkapi, membiarkan sesama saudara kita untuk berkembang secara wajar, agar bersama-sama menjadi bahagia”. Kebahagiaan yang dimaksud dalam konstitusi kita itu bukan diukur dari aspek material, sebab memiiki materi yang banyak bukan merupakan jaminan ke-bahagiaan. Dalam perspektif ini kebahagiaan harus dilihat dari aspek keadaan batin dimana adanya keharmonisan dalam relasi antar sesama. Karena dalam suasana yang harmonis itu akan akan tumbuh peradapan cinta kasih.

Peradapan cintah kasih hanya tumbuh dan berkembang dengan baik, bila kita sendiri harus berani mengubah cara berpikir kita sendiri. Pikiran yang negatif tentang orang lain, egoisme, prasangka, mengisolasikan diri dari dunia luar, materialisme, otoriter, dendam, suku-isme dan lain sebagainya harus dihindarkan. Karena paradigma berpikir seperti tersebut masih tetap bersemi dalam diri kita, maka cinta tidak akan bertumbuh  dan kasih pun akan layu, kea-dilan yang diharapkan dalam hidup tak mungkin terwujud. Karena kita takut untuk mengatakan apa yang benar dan apa yang salah.

 Jika cinta bertumbuh dalam kebenaran, yakni cinta yang benar, maka bertumbuh pula keadilan; jika cinta mereduksi kebenaran, maka cinta itu terpisah dari kebenaran; jika cinta terpisah dari kebenaran, maka pudarlah pula keadilan, karena itu kita harus mengatakan kebenaran adalah selalu keadialan, suatu keadilan yang tidak benaradalah bukan keadilan. Kebenaran adalah selalu keadilan, tetapi juga cinta adalah selalu menujuh kebenaran, sebuah cinta yang tanpa kasih itu bukan cinta kasih melainkan cinta palsu. Jadi di dalam kebenaran akan lahirlah keadilan dan di dalam keadilan bersemilah cinta yang bermakna kasih, yakni cinta kasih.

Keadilan itu berpihak pada kebenaran dan kebenaran selalu menujuh pada kebaikan dalam hidup bersama. Semua yang baik dan benar memerlukan kejujuran. Keadilan adalah kebenaran dalam wujud tindakan. Keadilan itu tidak berpihak kepada egoisme. Tempat keadilan itu adalah kebenaran yang tidak termanipulasi oleh kepentingan apa pun dalam hidup. Pemahaman yang kelirus tentang eksistensi dari kebenaran dan keadilan, jelas penerapan hukum cinta kasih dalam praktik hidup pun akan salah. Akibatnya banyak orang akan menjadi korban. Korban arogansi kekuasaan, korban kebijakan, korban ketersinggungan dan rasa dendam yang kesumat. Sehingga banyak orang takut untuk mengatakan sesuatu kebenaran tentang fakta dan kenyataaan yang dilakukan oleh para penguasa, walaupun fakta dan data membuktikannya.

Memang benar, seorang pencari kebenaran akan selalu menderita dan seorang yang menghayati hidup panggilannya secara benar akan selalu miskin ( terutama miskin materi ). Mari kita renungkan pristiwa demi pristiwa yang telah terjadi dalam kongregasi kita akhir-akhir ini. Untuk apa saya saya hadir dan berada dalam tarekat, tetapi tidak berani mengungkapkan kebenaran  demi meneggakan keadilan dalam hidup bersama sebagai saudara dalam membangun kongregasi masa depan. Kalau bukan saat ini kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi. Jangan biarkan konglomerat bergelia memanipulasi data untuk mengeruk harta kongregasi demi memperkaya diri. Kalau semuanya ini memang benar terjadi, untuk apa kita harus takut mengatakannya.

Fr. M. Nikolaus Nong, BHK

About fraterbhk

Check Also

Pendidikan Karakter bagi Generasi Milenial

Keberadaan dan peradaban manusia sejak semula tidak terpisah dari pembentukan karakter yang berdampak positif terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *