Home / Ruang Gagasan / Hati yang Menyapa

Hati yang Menyapa

(Sebuah Pengalaman Refleksi)

Suatu ketika di sebuah komunitas ada dua orang sahabat yang saling bertengkar. Masing-masing tidak mau mengalah. Akibatnya, mereka tidak saling menegur sapa  selama be-berapa hari, bahkan beberapa minggu dan sampai beberapa bulan. Semua pekerjaan di lakukan dengan diam-diam tanpa saling mengecek dan bertanya. Waktu makan pun jadi sepi dan sangat singkat. Pembicaraan jadi hambar karena hanya saling menyindir di meja makan. Apabila salah satunya mulai mendahului masuk ruangan makan, maka yang satunya menunggu dengan diam dan mencari akal bagaimana untuk melewati ruangan tersebut dengan tanpa memandang sa-habatnya.

Komunikasi, merupakan kata kunci dan tindakan penting dalam membentuk,  memeliha-ra, dan meningkatkan kualitas hubungan antar manusia. Hubungan persaudaraan dalam komu-nitas menjadi renggang, bahkan sampai terputus  hanya karena kesalahan  dalam berkomu-nikasi, panggilan hidup membiarannya menjadi goncang, bahkan nyaris berantakan karena komunikasi anggota di dalamnya yang tidak tertata dengan baik. Bahkan hubungan atau relasi, curhat, pendampingan menjadi dingin karena salah satu pihak tidak mau berjiwa besar untuk memulai membuka komunikasi  yang mungkin sudah lama tidak berjalan optimal.

Dalam hal ini juga ada ketakutan, jangan sampai dengan mengungkapkan persoalannya akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Jika diamati lebih lanjut, tidak mengherankan ada saja yang rela tidak  membuka komunikasi terbuka (sharing) dengan sesama rekan sepanggilan karena takut akan menjadi gossip dan cercaan bagi dirinya. Dan juga akan menjadi bahan pembicaraan yang sedap dan seru di antara para sahabat – sahabatnya dalam komunitas, ketika yang bersangkutan tidak ada. Semua persoalan tentang orang tersebut diceritakan. Dengan peringatan, ini sangat rahasia, jangan diceritakan pada orang lain demikian bersambung terus sampai kesekian orang dalam komunitas. Hal ini tidak menyelesaikan persoalan, hanya menambah beban bagi sahabat tersebut. Kita memandang orang tersbut dengan kaca mata yang hitam. Semua sikap dan perbuatan yang ia lakoni dalam komunitas dipandang hanyalah tipuan belaka untuk menyenangi pemimpin komunitas. Seolah-olah tidak ada harapan hidup untuk masa depan panggilannya, semuanya telah suram hanya dengan setitik kesalahan dalam perilaku hidup hariannya dalam komunitas.

Sukses tidaknya suatu kebijakan yang mengarah pada perubahan, entah yang me-nyangkut perubahan dalam komunitas, kuncinya adalah sosialisasi (komunikasi terbuka) yang menjadi tolak ukur berhasil tidaknya implementasi aturan tersebut. Dalam kehidupan membiara, berkomunitas dan karya, komunitas ternyata memiliki fungsi sebagai pemecah masalah, alat pengendali, alat untuk menyatakan ekspresi emosional, dan sarana untuk memotivasi orang lain. Begitu pentinya komunikasi, sehingga segala upaya dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan komunikasi terus- menerus mengalami perkembangan dalam komunitas.

Jangan hanya komu-nikasi berbasis teknologi tetapi harus juga berbasis dengan hati (by heart). Ditengah gencarnya kemajuan teknologi informasi,  pendekatan sentuhan (human touch ) tetap memegang peranaan penting. Sebagai contoh; SMS memang praktis dan murah, namun ketika rekan atau konfrater mendengar langsung suara kita, sekalipun hanya mengucapkan hello eja (sobat), jauh lebih bermakna. Menyediakan kesempatan untuk konfrater atau sahabat menelpon dalam jam-jam tertentu akan memberikan kedekatan khusus antara sahabat, rekan atau pun orang tua serta keluarga. Itulah orang bijak mengatakan ”komunikasi merupakan tali pengikat emosional yang tidak pernah putus sepanjang zaman”.

Komunikasi merupakan upaya pengorbanan, serta dorangan kejernihan hati untuk mau membuka percakapan dan mendengarkan orang lain dengan lebih seksama. Komunikasi melalui kejernihan hati yang dilandasi oleh ketulusan akan memberikan dampak yang menyejukan orang lain. Sebelum berkomunikasi dan bergaul, persiapkan hati kita yang bersih dan tulus. Kalau hati masih kotor dan dipenuhi unsur negatip, lebih baik kita mengurungkan niat untuk berkomunikasi karena hasilnya bisa fatal. Mungkin lebih baik diam. Diam adalah emas menurut orang Jerman, dari pada berkomunikasi dilandasi oleh kemunafikan dan kepura-puraan.

Mungkin harga diri yang harus dibayar untuk komunikasi efektif tidak sedikit. Se-tidaknya membayar harga untuk berani dan kerelaan untuk menegur orang lain.  Seperti dalam konstitusi kita pasal 13; ”…menegur seseorang menuntut keberanian. Kalau kita menghadapi teguran maka kita mengalami bahwa kita dapat dilukai…dan andaikata kita saling merugikan maka harus ada peluang untuk berdamai. Inilah merupakan sikap batin Yesus yang hakiki bagi kita. Pertaruhan harga diri untuk berinisiatif yang dilandasi jiwa besar untuk pertama kali membuka saluran komunikasi dengan orang-orang yang mungkin selama ini telah menyakiti hati kita.

Hari ini, ketika kita teringat masih ada masalah yang mengganjal sehingga menutup pintu komunikasi kita selama ini, dalam lingkungan komunitas biara, sekolah, asrama, sesama rekan kerja, atau dengan siapa saja, maka inilah saat untuk berinisiatif memulia. Dilandasi hati yang tulus, kerendahan hati, dan niat yang baik, kita melangkah lebih dulu memulai untuk menyapa. Perkara yang bersangkutan menerima atau tidak, sudah bukan bagian lagi, yang penting dari kita sudah memulai yang baik. Begitu memulai, akan muncul deburan air sukacita sebagai tanda bahwa hati nurani sedah beres dan bersih. Mari kita mulai!

Fr. M. Kardinus Nong, BHK

About fraterbhk

Check Also

Pendidikan Karakter bagi Generasi Milenial

Keberadaan dan peradaban manusia sejak semula tidak terpisah dari pembentukan karakter yang berdampak positif terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *