Home / Sharing Inspirasi / Pembaruan Hidup yang Terus-menerus

Pembaruan Hidup yang Terus-menerus

Renungan Konstitusi Pasal 59

Pembaruan hidup yang terus-menerus haruslah menjadi ciri khas persekutuan dalam suatu semangat seperti yang dikemukakan oleh Paulus kepada jemaat di Kolose: “Tanggalkanlah manusia lama serta kelakuannya dan kenakan manusia baru untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya kenakanlah belaskasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain dan ampunilah seorang akan yang lain, apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain. Sama seperti Tuhan yang telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Para Saudara terkasih,

Menurut Teilhard de Chardin, manusia hidup dalam rentang alfa-omega. Alfa adalah titik tidak sempurna dan omega adalah titik sempurna. Setiap orang memiliki rentang alfa-omega yang berbeda-beda. Yang satu bisa mencapai usia hingga tua-renta, tetapi bagi yang lain hanya bisa mencapai usia 30an. Bagaimana pun juga setiap orang harus menghadapi realita ini. Rentang alfa-omega ini menjadi misteri ilahi. Tidak seorang pun tahu kapan kita mulai ada dan kapan dia menjadi tiada. Sebagai orang yang memilih hidup berdasarkan tri-prasetia ini pembaruan hidup yang terus-menerus (atau yang sering disebut sebagai on going formation) menjadi suatu keharusan. Hidup yang kita pilih ini sebenarnya sudah merupakan suatu model bagi kehidupan yang akan datang. Setiap kita ditantang untuk terus-menerus meningkatkan kualitas hidup. Kualitas hidup ini dilakukan baik secara perorangan maupun secara komunal. Secara perorangan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menghayati hidup harian secara teratur, menerima sakramen-sakramen  secara teratur, doa pribadi secara teratur, dsb. Secara komunal dapat dilakukan dengan hidup bersama dengan konfrater tanpa memandang kedudukan, kekuasaan dan karakter yang berbeda-beda. Hal terakhir inilah yang menjadi kesulitan dalam hidup bersama. Kita hidup tanpa hubungan darah, tetapi kita diikat dalam iman. Imanlah yang membuat kita dapat saling menerima satu sama lain tanpa melihat kelebihan atau kekurangan konfrater kita. Harus kita akui bahwa ada kelebihan atau kekurangan dalam diri setiap orang maka diperlukan perjuangan kuat untuk sampai dapat menerima satu sama lain. 

Para Saudara terkasih,

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose menganjurkan supaya mereka menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Dalam tradisi tarekat kita, menanggalkan manusia lama itu ditandai dengan mendapat nama biara yang baru. Diharapkan dengan memakai nama baru yang diambil dari nama salah satu orang kudus, seorang frater dapat hidup seperti nama orang kudus itu. Jadi penggantian nama bukanlah untuk menaikkan gengsi kita karena sebelumnya kita menggunakan nama kampung kita. Tetapi apa gunanya jika mengganti nama dengan nama yang bagus tetapi tidak ada perubahan dalam hidup keseharian kita. Itulah sebabnya maka akhir-akhir ini KWI bagian hidup religius melihat tidak ada faedahnya mengganti nama itu. Jadi biarkan setiap frater itu tetap menggunakan nama baptisnya sendiri sebagai nama biaranya. Yang penting ialah bahwa ada kesadaran bagi setiap frater yang memilih jalan hidup ini untuk sepenuhnya menghayati pilihan hidupnya menuju titik omega kita, menanggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru. Baru dalam hal kualitas hidup. Maka diperlukan sikap pertobatan terus-menerus dalam hidup kita. Inilah tantangan terberat bagi kita semua. Menjadi manusia baru tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan suatu proses terus-menerus dengan jatuh-bangun. Jika kita mampu memasuki proses itu maka hidup baru bakal menguasai hidup kita. Kita hidup seperti di surga, di mana untuk selama-lamanya kita akan memandang wajah Allah. Bukankah itu yang kita rindukan.

Para Saudara terkasih,

Jangan kita cepat berbangga diri dengan menyebut bahwa kita ini dipilih Allah untuk menjadi seorang biarawan. Pertama-tama kita sudah menjadi orang pilihan Allah karena baptis yang kita terima, yang berpuncak pada sakramen krisma. Dengan menerima krisma kita diminta untuk menjadi saksi-saksi Allah lewat sikap hidup kita. Inilah yang kemudian hendak kita wujudkan dengan memutuskan untuk menjadi seorang biarawan. Melalui sikap-sikap hidup yang ditunjukkan oleh Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose. Bila kita sudah melakukan anjuran-anjuran Paulus, maka kita boleh bersyukur atas keterpilihan ini. Itulah yang oleh Paulus disebut sebagai orang-orang “yang dikuduskan dan dikasihi Allah.” Inilah yang juga hanya mungkin kita wujudkan karena dasarnya ialah Kasih  “sebagai pengikat yang menyempurnakan.”

Para Saudara terkasih,

Konstitusi pasal 59 mengajak kita untuk selalu mewujudkan proses on going formation dalam hidup kita sebagai religius. Hal ini tidak perlu dengan memanggil seorang narasumber untuk mengingatkan kita, tetapi kesadaran kitalah yang harus selalu kita pakai sebagai pegangan kita sambil menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani. Doa adalah mengucap syukur kepada Allah selalu dan di mana kita berada yang kita lakukan dalam nama Tuhan Yesus (Kol 3:9-17).

Semoga niat baik kita selalu terwujud karena dorongan Roh Kudus yang hadir di dalam hidup kita.

Tim Konstitusi

About fraterbhk

Check Also

Berkat Doa Guru Agama

Oleh Eka Budianta, Sastrawan, tinggal di Jakarta Hujan turun sepanjang siang membuat malam basah dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *