Home / Identitas Kongregasi / Semangat Hidup Kongregasi Frater BHK

Semangat Hidup Kongregasi Frater BHK

PENGANTAR

Semangat hidup seseorang atau sebuah lembaga selalu menjadi daya pengerak yang memotori seluruh daya dan inti kehidupan. Daya ini adalah sebuah kekuatan yang tidak kelihatan yang harus selalu ditanam dalam diri setiap orang sebagai suatu motivasi sekaligus motor pendorong untuk maju dalam hidup.  Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus sudah menghidupi beberapa semangat dasar sekaligus menjadi tanda pengenal tarekat: cinta kasih, ketaatan, ingkar diri dan kesederhanaan sejak awal berdirinya kongregasi ditekankan sebagai tanda pengenal semangat, yang menjadi ciri khas kongregasi. Semangat-semangat ini adalah nilai-nilai injili yang kita pandang sebagai persyaratan agar orang miskin merasa diakui, dicintai dan aman di tengah kita. Keutamaan-keutamaan injili ini akan kita refleksikan dalam permenungan berikut ini.

SEMANGAT CINTA

Cinta mengharapkan: bahwa kita memberi kesaksian tentang cinta kasih Allah untuk setiap manusia; bahwa lewat belas kasih kita orang-orang mengalami kebaikan Tuhan; bahwa kita mendukung mereka dalam menghayati panggilan mereka sebagai putera-putera Allah.

Semangat mengasihi sesama atau semangat cinta merupakan hukum yang pertama dan utama dalam kehidupan seorang kristiani terutama dalam hidup religius frater Bunda Hati Kudus. Semangat ini menjadi tanda pengenal tarekat sejak berdirinya yang terwujud nyata dalam bentuk kehidupan bersama atau dalam karya pelayanan karitatif yang diemban oleh tarekat. Cinta menjadi undang-undang dasar Kerajaan Allah. Kita para frater yang terpanggil secara istimewa dalam Kerajaan Allah diajak untuk mewujudkan semangat cinta dalam seluruh kehidupan sebagai seorang religius frater. Ajakan Yesus memiliki dua dimensi yang hakiki: (1) Mengasihi Allah dengan segenap hati artinya dengan seluruh totalitas, dan (2) Mengasihi sesama manusia.

Cinta Dari Perspektif Kristiani

Istilah cinta bisa diinterpretasikan secara berbeda sesuai dengan konteks pembicaraannya bahkan kadang selalu disalahgunakan atau di manupulasi demi pemenuhan kebutuhan psikologis semata. Cinta dalam perspektif Kristiani adalah cinta seperti yang ditunjukkan sendiri oleh Yesus sendiri yang rela memberikan diri demi hidup orang lain atau para pengikutNya. Teladan Yesus dijadikan contoh untuk kita para pengikutNya dimana cinta menjadi sentral dalam pelayanan kasih kita kepada sesama. Tuntutan cinta yang matang melibatkan semua kekuatan manusia, mengintegrasikan manusia dalam keseluruhannya. Kasih tak pernah selesai dan tuntas, kasih berubah melalui perjalanan hidup, menjadi matang dan justeru karena itu tetap setia pada dirinya sendiri. Kasih membuat orang semakin mirip satu sama lain, yang membawa kepada kebersamaan kehendak dan pemikiran. Kasih yang diwartakan Kitab Suci berarti bahwa aku mengasihi juga sesamaku yang tidak kusukai atau bahkan tidak kukenal, dengan berpangkal pada Allah. Itu hanya mungkin terjadi berdasarkan pertemuan batin dengan Allah, menjadi persekutuan kehendak dan menjangkau sampai pada perasaan. Maka aku belajar melihat orang lain itu tidak lagi hanya dengan mata dan perasaanku, melainkan dari perspektif Yesus Kristus. SahabatNya adalah sahabatku.

Dengan melihat dengan Kristus, kita dapat memberi kepada orang lain itu lebih daripada hanya hal-hal yang secara lahiriah perlu: pandangan kasih yang dibutuhkannya. Bila sentuhan dengan Allah sama sekali tak ada dalam hatiku, maka dalam orang lain aku hanya dapat melihat orang lain dan tak dapat mengenal gambaran ilahi dalam dirinya. Kasih akan Allah dan akan sesama tak terpisahkan. Keduanya hanya satu perintah. Namun keduanya hidup dari kasih Allah yang menyongsong dan mendahului. maka itu bukan lagi pernitah dari luar, yang memerintahkan sesuatu yang mustahil, melainkan pengalaman kasih dari dalam yang dianugerahkan, yang menurut hakikatnya harus terus memberi. Kasih tumbuh oleh kasih. kasih itu ilahi, karena berasal dari Allah dan menyatukan kita dengan Allah, membuat kita dalam proses penyatuan ini menjadi kita, yang mengatasi perpecahan dan menyatukan kita, sehingga pada akhirnya Allah menjadi semua di dalam semua( 1Kor 15:28).

Komunitas Sebagai Sekolah Cinta

Komunitas adalah tanda pertama dan paling penting bagi pertumbuhan kasih (cinta). Komunitas frater Bunda Hati Kudus adalah merupakan cakrawala keberadaan setiap anggota yang hidup dan ada karena cinta, membagikan kasih dalam kebersamaan hidup sebagai sebuah tarekat. Relasi dalam komunitas hendaknya dilandasi oleh kasih yang tulus dimana setiap pribadi bertumbuh secara sehat menuju kedewasaan Kristiani dan religius. Komunitas lalu menjadi semacam sekolah hidup dimana orang belajar saling mencintai dan saling mengasihi karena kecintaannya kepada Allah sendiri. Sebaliknya, hubungan yang mengedepankan kekerasan menjauhkan orang dari kasih.

Hubungan antara anggota komunitas perlu dibangun berdasarkan sikap saling menghormati, peduli, bertanggung jawab satu sama lain, berdialog, saling memberi dan menerima. Untuk menumbuhkan kasih itu, maka perlu mengembangkan kebiasaan untuk berkumpul bersama, berdoa bersama, makan bersama. Komunitas harus dibangun diatas kasih sebab tanpa kasih, persekutuan itu mudah goyah bahkan berantakkan. Karenanya, sikap egoisme diri dan sikap cinta diri hendaknya dihindari dalam kehidupan bersama. Cinta menuntut membutuhkan komitmen. Komitmen menuntut pengurbanan diri. Kasih ini tak lain adalah pemberian diri yang tulus. Mengasihi berarti memberikan dan menerima sesuatu yang tidak dapat dibeli maupun dijual, tetapi hanya diberikan dengan bebas dan secara timbal balik, bersifat tetap dan tak dapat ditarik kembali. Singkatnya adalah bahwa peradaban kasih hanya dapat dimulai dalam komunitas kita masing-masing. Komunitas ini menjadi agen kasih karenannya komunitas menjadi pusat dan jantung dari peradaban kasih.

Kualitas Kasih Seorang Frater

Kualitas hidup cinta kasih dari Yesus Kristus yang dihayati para frater, diharapkan akan melahirkan atau mewujud dalam diri para frater:

  • Para frater dapat memberikan kesaksian (kesaksian hidup tarekat) tentang cinta kasih Allah untuk setiap manusia tanpa pengecualian.
  • Lewat belas kasihan kita, orang-orang mengalami kebaikan Tuhan. Kita menjadi tanda kehadiran Allah yang berbelas kasih yang dialami sesama yang lain. Orang lain mengalami Allah lewat perwujudan kasih yang kita berikan.
  • Dengan demikian kita mendukung mereka dalam menghayati panggilan mereka sebagai putra-putra Allah atau anak-anak Allah.

KETAATAN

Ketaatan mengharapkan: bahwa kita mendengarkan apa yang diharapkan oleh Tuhan dari kita, bahwa kita mendengarkan persekutuan yang mengutus kita, bahwa kita mendengarkan sesama yang membutuhkan bantuan kita.

Semangat ketaatan sejak berdirinya kongregasi telah menjadi salah satu semangat yang dihidupi dan diwariskan oleh para pendahulu. Semangat ini berakar pada semangat Injili artinya bahwa dasar ketaatan pada frater berakar pada ketaatan Yesus sendiri. Teladan ketaatan Yesus menjadi pijakan dalam mewujudkan semangat ini dalam seluruh kehidupan religius para frater Bunda Hati Kudus. Dasar ketaatan kristiani ialah kesamaan hati dan budi dengan Yesus Kristus. Ketaatan kepala Tubuh Mistik dan anggota-anggotanya tidaklah berbeda. Ketaatan Kristus hendaknya menjadi ketaatan kita: artinya ketaatan Kristus tidak hanya menjadi model (sesuatu yang di luar diri kita), tetapi juga menjadi sumber partisipasi kita pada ketaatan Kristus internal.

Ada hubungan batin dan hubungan hidup dengan Kristus, sehingga kitapun digerakkan oleh Roh Kudus untuk mentaati Allah Bapa. Dengan beriman kepada Kristus, maka ketaatan berarti “mengosongkan diri, kita menyangkal setiap pernyataan kemuliaan anak-anak Allah dalam diri kita dan menerima perendahan diri dalam mana kita tunduk kepada kehendak Allah melalui pribadi-pribadi tercipta (segala Ciptaan Allah yang lain). Ketaatan Kristus mencakup segala sesuatu: Ia mentaati Bapa-Nya dalam perintah-perintah pribadi yang diterimaNya dari orang-orang yang nampak mempunyai kuasa atas diriNya. Ia mentaati Bapa-Nya sejauh kehendak Bapa itu menjadi jelas dalam hukum-hukum, lembaga-lembaga dan peristiwa-peristiwa biasa sehari-hari.

Kitapun juga harus mentaati kehendak-kehendak Allah yang nampak melalui pribadi-pribadi pemegang kekuasaan melalui hukum-hukum, lembaga-lembaga dan peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Ketaatan tersebut berdasar pada pandangan iman yang memampukan kita untuk melihat bahwa serta merta seluruh alam semesta ini adalah ilahi yang sedang membawakan pesan Allah bagi kita. Tuntutan ketaatan kita sebenarnya berakar pada keutamaan iman kita yaitu iman, harap dan kasih. Inilah keutamaan iman yang harus memberi warna dalam penghayatan semangat ketaatan kita dalam tarekat.

  • Keutamaan iman adalah dasar dari keutamaan ketaatan. Keutamaan ini mendorong kita para frater untuk orang untuk mempercayakan diri dan menaruh harapan yang berpusat pada kesetiaan Tuhan. Saya berharap bahwa Ia akan menyelamatkan diriku dan memberikan semua sarana yang perlu untuk mencapai kebahagiaan abadi. Sarana tersebut mungkin adikodrati dan kodrati. Sarana kodrati dapat berarti pribadi-pribadi atau objek-objek ciptaan, yang menjadi sarana penyampaian kehendak Allah. 
  • Keutamaan harapan, berarti saya mempercayakan diri kepada Tuhan, karena saya mengerti dengan kepastian bahwa kehendak Tuhan menjadi jelas bagiku melalui mahluk tercipta. Keutamaan itu memimpin saya menuju kepada Tuhan dan membimbing saya kepada kebahagiaan penuh. Tanpa keutamaan harapan, saya tidak mampu taat. Keutamaan harapan menjadi milik jiwa ketaatan. Keutamaan harapan mengandung “pemercayaan diri” kepada penyelenggaraan ilahi. Allah yang penuh perhatian terhadap Yesus Kristus, kepala Tubuh Mistik Kristus, demikian pula penuh pemeliharaan/perhatian kepada anggota anggota Tubuh Mistik-Nya. Iaman kepada Allah yang penuh kasih dan pemeliharaan kepada Yesus dan pada anggota tubuh Mistik Kristus merupakan hal yang pokok bagi orang yang berjuang untuk menghayati keutamaan ketaatan.
  • Akhirnya ketaatan hendaknya dimengerti dan dilaksanakan dalam konteks cinta ilahi, cinta kasih ilahi. Cinta dan cinta kasih ilahi tersebut berarti bahwa saya mau memberikan diriku dan semua milikku kepada Allah, tanpa mengharap imbalan saya ingin memperkaya orang yang saya cintai. Ketaatan akan kerapkali menuntut pemberian diri melalui ketaatan berarti saya menghabiskan diriku untuk sesama dan untuk membangun Kerajaan Allah dengan melakukan pekerjaan sehar-hari (misalnya: mengajar di kelas, dll.) Kenyataannya pemberian diri dalam cinta dan pemberian segala milik kepada Tuhan tidak dapat dilaksanakan tanpa pengurbanan.

Ketaatan menjadi salah sati inti hidup seorang religius frater dimana kita bersama kon-frater yang lain mencari dan melaksanakan kehendak Allah dalam seluruh hidup religius dan apostolik sesuai dengan kharisma pendiri. Yesus mengundang kita untuk datang dan mengambil bagian aktif dalam seluruh kehidupannya dengan juga menjadi taat seperti dia. Peran seorang pemimpin hendaknya menjadi tanda pemersatu antara anggota tarekat. Melalui kaul ketaatan kita berama-sama mencari, menemukan dan melakukan kehendak Allah dalam hidup dan perutusan kita sebagai religius. Karena itu semua anggota Kongregasi dituntut aktif berpartisipasi dalam mencari dan melaksanakan kehendak Allah. Untuk mencari dan menemukan kehendak Allah, kita menggunakan akal budi dan hati nurani yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Kita dengan bebas menggunakan kemampuan kita untuk setia dan taat kepada kehendak Tuhan.

Semangat persekutuan menjadi titik sentral dalam membangun ketaatan sesuai dengan semangat kongregasi. Hidup religius adalah suatu hasil kebersamaan ilahi yang final. Kita sadar bahwa ada suatu perjanjian, kesepakatan, kerja sama antara pemimpin dan semua anggota Kongregasi untuk mencari yang tidak kelihatan dan kita saling percaya. Dalam kepemimpinan religius, kita saling melengkapi. Kita tahu bahwa kedudukan, wewenang dan suatu fungsi yang kita emban, bukan jabatan yang kita impikan, dambakan atau harapan, tetapi itu semua yang kita terima untuk melayani saudara-saudara kita.

Melalui dialog kita dapat berelasi dengan siapa saja. Kita dapat mengenal mereka secara mendalam dan terjalin hubungan pribadi yang lebih dekat. Kita juga tidak akan mudah mengadili atau membicarakan kelemahan orang lain. Kita akan mempunyai ketenangan hati dalam pencarian nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Selain itu kita juga akan mempunyai hati yang penuh cinta kasih. Kita menjadi pribadi yang berbelas kasih. Dalam pengalaman kita mencari kehendak Tuhan dapat melalui peristiwa penting, melalui penolakan, perbedaan pendapat atau kita harus keluar dari gagasan idalisme kita sendiri untuk terpusat pada kehidupan kita yang nyata dan aktual. Kita mempunyai kesempatan dan tempat bergabung dengan rahmat Allah yakni dalam inkarnasi Yesus.

Kita merefleksikan figur Yesus sebagai pelayan yang berbicara dan melakukan segalanya dengan penuh kuasa. Dia melakukan gerakan pembaharuan hidup rohani. Otoritas adalah suatu kekuatan untuk melihat, memperhatikan apa yang sedang terjadi atau yang sedang berfungsi. Yang sedang berjalan yakni kegiatan setiap individu untuk mengembangkan kepribadian dan kualitas khusus dalam pelayanan untuk orang lain. Kualitas ketaatan mengikuti ketaatan Yesus yang mendayai tarekat, maka para frater diharapkan:

  • Taat mendengarkan apa yang diharapkan oleh Tuhan dari kita. Taat pada seluruh rencana dan kehendak Tuhan. Hal ini hanya mungkin kalau adanya relasi personal yang mendalam dengan Allah. Karena taat adalah ungkapan kasih kita pada Tuhan sendiri.
  • Taat mendengarkan persekutuan (mendengarkan komunitas, propinsi atau kongregasi) yang mengutus kita; taat pada otoritas dan sesama kon-frater, terbuka mendengarkan mereka. Lewat persekutuan Tuhan mewahyukan kehendakNya.
  • Taat dan peka mendengarkan sesama yang membutuhkan bantuan kita (sesama yang dilayani para frater).

INGKAR DIRI

Ingkar diri mengharapkan bahwa kita hidup tidak hanya untuk diri kita sendiri, tidak menjadikan diri kita pusat perhatian, tetapi mencari harga diri dan pengembangan diri di dalam pengabdian diri kepada Allah dalam karya penciptaanNya; di mana tak ada sesuatu atau seorang pun yang kita anggap remeh.

Hidup dalam perjalanan mengikuti Yesus merupakan pilihan hidup dalam paradoks. Kita mengikuti pola hidup Yesus yang “melawan” arus dari arus dunia yang berkembang. Yesus sendiri telah lebih dahulu menjalaninya semasa hidupNya. Ditengah arus masyarakat yang mengedepankan sekat-sekat berdasarkan agama, golongan, kelompok; Yesus hadir menawarkan persaudaraan yang dibangun atas dasar iman akan Allah dan SabdaNya (Mat 12:5). Di tengah dinamika hidup orang hanya mencari selamat sendiri; memutlakkan aturan demi keselamatan sendiri dan gengsi, Yesus menghadirkan penghayatan aturan secara baru. Di tengah masyarakat yang mengedepankan gengsi, penindasan, mentalitas cari aman, Yesus hadir di tengah orang-orang terpinggirkan dan disingkirkan.  Yesus sendiri menyampaikan “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku”. (Mat 10:37-38)

Hidup Yesus adalah hidup yang dipenuhi dengan INGKAR DIRI. Keutamaan ini menjadi keutamaan hidupNya yang menjadikan Yesus total dalam pemberian diri kepada kehendak Allah BapaNya. Maka hal yang sama akan ditularkan bagi mereka yang ingin mengikuti jalanNya (para muridNya dan kita sekalian). Yesus memanggil para muridNya, “Mari ikutilah Aku..”(bdk. Mat 4:19; 8:22; 9:9; 19:21). Selanjutnya Yesus menyampaikan prasyarat untuk dapat mengikutiNya yakni melalui INGKAR DIRI seperti yang dijalaniNya. ”Setiap orang yang mau  mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku”(Mat 16:24). BagiNya, jika ingin mengikuti Dia maka menempuh jalan yang juga ditempuhNya sendiri. Misi utama hidupNya adalah terwujudnya Kerajaan Allah di dunia; dengan “melupakan diriNya” agar semakin besarlah kemuliaan Allah BapaNya. Yesus melupakan diriNya sampai sehabis-habisnya agar hidupNya menjadi persembahan yang berarti bagi BapaNya demi keselamatan kita manusia yang amat dicintaiNya. Ia sendiri menasehatkan,”Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”.(Mat 10:39)

Konstitusi kita mengarahkan kita sebagai frater untuk meniti perjalan yang juga ditempuh oleh Yesus Sang Guru kita. Ingkar diri menjadi “penanda/CIRI” semangat yang hendak kita hayati. Dengan ingkar diri, kita mau hidup bagi orang lain (man for others), tidak terpusat pada diri (tidak egois), meningkatkan harga diri dan pengembangan diri dalam pengabdian kepada Allah (man of God) (bdk konst. Pasal 72). Dengan keutamaan tersebut kita hendak mewujudkan kemuridan kita. Sejatinya, jalan hidup terbaktikan dalam pilihan hidup kita ini merupakan jalan pelupaan diri kita. Hal ini berarti kita mencoba untuk tidak terlekat dengan diri kita sendiri. Sebab jika tidak (bila masih terlekat), perjalanan kita akan menjadi semakin berat dan tidak berfokus. Kita tidak lagi mencari Kehendak Allah dalam pengabdian kita, justru kita mencari diri kita sendiri. Sebuah pilihan paradoks; semakin kita mau dekat dengan kehendak Allah semakin kita diminta melupakan diri. Kita diundang untung mengosongkan diri sehingga membiarkan Allah sendiri yang mengisi relung batin kita.

Rasanya hal di atas seperti hal yang amat sulit untuk kita wujudkan. Yesus sendiri telah lebih dahulu menempuh itu dan meyakinkan kita bahwa hal itu mungkin. Kita akan sungguh mampu demikian bila kita sendiri mencari kepenuhan hidup dalam Allah sendiri (Yoh 10:10). Bila mengalami kepenuhan dalam Allah (man of God) kita akan terdorong untuk mengutamakan kehendakNya, sanggup memberikan diri seutuhnya bagi saudara-saudara yang kita layani demi semakin besarlah kemuliaanNya bukan kemuliaan kita sendiri.  Hal ini telah nyata dihidupi pendiri kita Mgr. Schaepman dan Bunda Hati Kudus, Bunda penyerta kita pada Hati Kudus Puteranya. Bila kita telaah lebih teliti praksis hidup kita, banyak kita menemukan kejatuhan kita terutama dalam hidup bersama, perutusan dan penghayatan panggilan kita. Sikap mau menang sendiri, sulit mengalah, sulit mendengarkan, membuat konflik, hitung menghitung dalam membantu orang lain, pilih-pilih pekerjaan, pemberian diri setengah-setengah, mencari pemuasan diri, “memakai nama Yesus” hanya demi diri diri sendiri dan masih banyak lagi. Marilah kita sejenak merenung perjalanan hidup terbaktikan kita. Apa yang salah dalam penghayatan kita? Apa yang salah dalam pemberian diri kita?

KESEDERHANAAN

Kesederhanaan mengharapkan agar dalam segala hal kita mengarahkan diri kepada Tuhan; bahwa kita mengejar kebaikan semurni dan setulus mungkin tanpa pamrih. Melalui kesederhanaan itu semua tindakan pelayanan kita  dapat dipercaya, membangkitkan harapan dan bermanfaat (Konst. Pasal 73).

Semangat kesederhanaan menjadi tanda pengenal tarekat yang oleh pendiri diwariskan kepada para pengikutnya. Gagasan kesederhanaan pendiri ini terinspirasi dan bersumber pada kesederhanaan hati Kristus sendiri. Konsep kesederhanaan ini hendaknya dilihat dalam perspektif St. Paulus dalam suratnya kepada Filemon; “ Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil. 2.5)

Kata “pikiran dan perasaan Kristus” berarti kita para pengikutNya dituntut untuk menghidupi suatu gaya dan sikap hidup (sikap mental) seperti Kristus sendiri. Mengambil bentuk kesederhanaan Kristus menjadi seorang hamba tentu tidak mudah bagi kita tapi Kristus telah memberikan contoh kesederhanaan hati ini. Ia yang adalah Allah rela mengosongkan diriNya dan menjadi sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Yesus menjadi hamba (Doulos) seperti seorang budak yang tidak memiliki hak karena semua milik tuannya. Inilah  bentuk kesederhaan yang total seorang Yesus. Kesederhanaan adalah ciri Allah sendiri, dan ciri kesederhanaan atau simplicity adalah mudah untuk di contoh dan diduplikasi. Orang sederhana bukan berarti tidak punya, tetapi tidak merasa memiliki dan menguasai segala yang ada. Kesederhanaan akan memunculkan kita memiliki hati hamba, dalam level ini akan membuat kita hidup berkenan kepada Allah. Kesederhanaan itu akan mengikis roh celibrity, dalam pelayanan tidak ada celebrity/kepopuleran, harus muncul dan memiliki hati seorang hamba/pelayan bagi siapapun kita.

Kesederhanaan adalah suatu kebajikan yang luhur. Seseorang dikatakan sederhana, jika mau menerima apa adanya dengan kerelaan yang tulus. Ada dua macam kesederhanaan: kesederhanaan lahiriah dan batiniah. Kesederhanaan lahiriah berarti memakai segala sesuatu dengan tidak memandang bulu dan jika pun memakai sesuatu, itu disebabkan karena sesuatu itu sangat dibutuhkan. Kesederhanaan batiniah menyangkut relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Hidup Yesus secara nyata tergerak secara mendalam oleh semangat kesederhaan. Ucapan syukur dan kebahagiaan Tuhan Yesus saat dipenuhi Roh Kudus adalah sebagai berikut: “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, karena segala sesuatu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil (sederhana).”

Sederhana bukan berarti kebodohan, kekanak-kanakan, atau ketidaktahuan. Sederhana itu berlawanan dengan kesombongan, keegoisan atau berlagak sok tahu segalanya. Sederhana dan kerendahan hati, seumpama dua sisi mata uang. Keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Sederhana batiniah adalah hati dan pikiran yang jernih. Hatinya selalu terbuka dan rela dibimbing oleh Roh Kudus. Dalam berdoa, berbicara, ungkapan-ungkapannya sederhana dan tidak menonjolkan ke-aku-annya. Kesederhanaan merupakan jalan Injili. Bagaimana menjadi sederhana di hadapan Tuhan?

Sederhana di hadapan Tuhan berarti: mengakui keterbatasan, kekurangan, kedosaan dan mohon belas kasihan Tuhan. Merendahkan diri, bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan percaya bahwa Tuhan tidak akan melupakan dirinya. Tanpa Tuhan hidup saya tak akan berarti apa-apa. Dia adalah pokok anggur dan saya adalah ranting-Nya. Ranting akan hidup dan berbuah bila bersatu dengan pokok anggur yaitu Tuhan Yesus. Jadi tidak bisa ranting membanggakan dirinya karena menghasilkan buah. Bila ranting ini sombong dan membanggakan dinnya, maka mulai saat itu ranting itu memisahkan diri dengan pokok anggur. Sudah bisa dipastikan bahwa ranting itu cepat atau lambat akan kering dan buahnya akan busuk dimakan ulat. Semangat kesederhanaan mengandaikan adanya sikap kepasrahan total kepada penyelenggaraan Tuhan dalam hidup dan karya pelayanan apapun. Inilah bentuk ketergantungan total kepada penyelenggaraan Allah.

Keutamaan kesederhaan yang dituntut dalam Konstitusi Frater Bunda Hati Kudus menekankan pada suatu sikap batin atau keterpautan hati untuk menjadi seorang hamba. Karena itu ada beberapa prinsip semangat kesederhaan yang perlu selalu di hidupi sebagai seorang Frater Bunda Hati Kudus, antara lain:

  • Sikap pengabdian yang total dalam hidup dan karya pelayanan

Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol. 3: 23).

Semangat kesederhanaan hendaknya terwujudnyata dalam seluruh hidup dan karya pelayanan karitatif para Frater Bunda Hati Kudus. Bentuk pelayanan apapun yang dilakukan hendaknya bersumber pada spiritualitas hati; hati yang prihatin untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada sesama. Semangat kesederhanaan harus tercermin nyata  dalam seluruh hidup dan karya pelayanan apapun entah itu besar atau kecil sebab kita lakukan itu untuk dan hanya untuk Tuhan sendiri. Kita lakukan dengan sungguh-sungguh, segenap hati dan konsisten.

  • Semangat kesederhanaan pada hakekatnya dinamis (gampang bergerak dan berubah)

“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Kor. 3:17)

Semangat kesederhanaan adalah suatu gerakan Roh Allah dalam diri kita dan orang yang hidup dalam Roh Allah akan berada dalam kemerdekaan dan kelepasan. Orang yang sederhana adalah orang yang mudah bergerak dan dinamis karena rasa keterlepasan dari ikatan-ikatan duniawi yang tidak hakiki. Semangat kesederhanaan membuat kita mudah bergerak keluar dari diri untuk menolong orang lain tanpa ada perhitungan apapun. Kita telah membebaskan diri dari ikatan manusiawi dan bekerja untuk sesama agar kita semua berubah menjadi serupa dengan gambar Allah sendiri, suatu kemuliaan abadi.

  • Mengarahkan diri kepada Tuhan

Roh kesederhanaan menuntut kita untuk mengarahkan perhatian dan seluruh diri kita kepada Tuhan sebagai tujuan akhir (telos) dari seluruh perjuangan hidup kita sebagai seorang religius. Yesus adalah jalan yang harus dilewati, Ia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Jalan kesederhanaan Yesus ini menjadi juga jalan kita untuk mencapai hidup kekal. Ia yang adalah Allah rela merendahkan diri, mengosongkan diri, menyederhanakan diri untuk menjadi sama dengan manusia maka kitapun dipanggil untuk selalu hidup dalam roh kesederhanaan ini.

  • Tuntutan Semangat Kesederhanaan

Kesederhanaan tidak sama dengan kemiskinan. Kesederhanaan berarti bahwa kita bisa hidup dengan keterbatasan dalam keberadaan kita sebagai seorang manusia sambil bersandar penuh pada kasih Allah. St Petrus menegaskan bahwa Allah menolak kesombongan, dan Ia memberi anugerahNya kepada mereka yang rendah hati (1Pet. 5:5). Yesus sendiri mengambil analogi seorang anak kecil untuk menjelaskan tentang kesederhanaan hidup dalam Kerajaan Surga. Anak-anak biasanya dicirikan dengan kesederhanaan, kepercayaan yang mendalam, dan kejujuran. Kualitas semacam ini diharapkan dimiliki oleh kita para pengikutNya.

Penghalang besar untuk menjadi seperti anak kecil adalah harga diri. Harga diri yang sombong adalah hal mendasar dari sifat manusia. Manusia berusaha melakukan hal-hal yang meninggikan diri mereka dibanding orang lain. Satu-satunya cara untuk menjadi seperti apa yang Allah inginkan adalah dengan menjadi seperti seorang anak kecil, dan membuang jauh-jauh peninggian diri yang arogan. Dosa yang berat adalah jatuh ke dalam dosa yang berpusat pada diri sendiri. Untuk mengerti perintah Yesus akan kesederhanan, seseorang haruslah mengamati anak kecil. Kepolosan hati mereka, keterusterangan dan kepercayaan mereka memberi kita kunci untuk memahami apa artinya menjadi rendah hati di dalam Kerajaan Allah. Kerendahan hati ini bertindak di hadapan Allah, namun kredibilitasnya nyata saat kita bertindak di hadapan manusia dengan menganggap mereka berharga. Salah satu cara tercepat ke dalam promosi ilahi adalah “suatu sifat pelayanan!”

Semangat tarekat ini menghendaki bahwa para Frater Bunda Hati Kudus seperti Mrg. A. I. Schaepman diajak untuk :

  • Sikap ketergantungan pada Tuhan dalam segala hal; atau dalam segala hal kita menyerahkan diri kepada Tuhan dengan mengejar kebaikan dengan murni hati, tulus, jujur dan tanpa pamrih.
  • Hal ini tampak dalam sikap hati/batin, tutur kata, tindakan kita yang tulus, polos, kurban diri tanpa pamrih dalam perhatian dan pelayanan kita kepada orang lain.
  • Tidak melekat pada hal-hal yang bersifat materi dan tahu membatasi diri dalam penggunaan harta milik dan juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan dan pengelolaannya.
  • Dengan sikap kesederhanaan semacam ini, semua tindakan, perhatian dan pelayanan kita dapat dipercaya, membangkitkan harapan, optimisme dan semangat hidup yang berdaya guna bagi sesama yang kita layani dalam membangun hidup yang lebih baik.

SEMANGAT SUKA BEKERJA

Hidup kerasulan aktif kita memperkirakan adanya semangat suka bekerja yang sehat, dan semangat ini meminta: bahwa kita menilai pekerjaan kita sebagai anugerah dan menerimanya sebagi tugas; bahwa kita menjadikan pekerjaan itu sebagai upaya pengembangan pribadi sendiri dan orang-orang lain, suatu bakti kepada pembangunan persekutuan, suatu pengabdian kepada karya ciptaan Tuhan. Ia mengharapkan juga bahwa kita memelihara kesehatan jasmani dan rohani, secara seimbang.

Semangat suka bekerja kita bersama semangat doa kita harus membentuk suatu kesatuan yang harmonis di dalam mana kita mencari Tuhan dalam segala tingkah laku kita.

Tarekat Frater Bunda Hati Kudus adalah tarekat kerasulan aktif. Maka harapan tarekat bagi para anggotanya adalah:

  • Semangat suka bekerja keras yang sehat. Artinya kita bekerja sebagai yang diutus tarekat tanpa pamrih, tidak pilih-pilih pekerjaan, tahu batas waktu dan kemampuan diri, tidak tenggelam dalam tugas sehingga mengabaikan aktivitas yang lain sebagai pribadi religius.
  • Menerima dan menilai pekerjaan itu sebagai anugerah. Setiap anugerah dipelihara dan dikembangkan untuk kesejahteraan sesama atau orang lain. Kita menjadikan pekerjaan itu sebagai upaya pengembangan pribadi sendiri dan orang lain.
  • Tugas perutusan atau pekerjaan yang dihayati ini adalah suatu wujud bakti kita kepada persekutuan, suatu pengabdian kepada karya ciptaan Tuhan. Suatu kepercayaan yang diberikan oleh persekutuan sebagai tugas perutusan untuk dan atas nama persekutuan. Karena itu perlu dihayati dengan optimis, penuh suka cita dan bukannya sebagai beban.
  • Sebagai tarekat kerasulan aktif, kita juga diharapkan memelihara kesehatan jasmani dan rohani secara seimbang, sehingga tidak merugikan diri sendiri dan persekutuan.
  • Selain itu juga kita juga diharapkan memelihara atau menjaga keseimbangan antar semangat suka bekerja dan semangat doa kita yang merupakan satu kesatuan yang harmonis. Dengan demikian kita lebih mencari Tuhan dalam seluruh doa dan pekerjaan, serta segala tindakan kita dalam kerasulan, bukan mencari diri sendiri.

About fraterbhk

Check Also

Mgr. Schaepman dalam Semangat St. Vinsensius A Paulo

Kegelisahan Mgr. Schaepman Kegelisahan Mgr. Schaepman terhadap situasi manusia saat itu sebenarnya sudah mulai terasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *