Home / Identitas Kongregasi / Moto Pendiri Kongregasi Frater BHK

Moto Pendiri Kongregasi Frater BHK

“In solicitudine et simplicitate” (Dalam Kepedulian dan Kesederhanaan)

Moto atau slogan hidup biasa dimaknai sebagai semboyan atau pedoman yang menggambarkan motivasi, semangat hidup  dan tujuan dari suatu organisasi ataupun lembaga. Namun moto hdiup juga banyak dipakai oleh orang-orang tertentu sebagai slogan kehidupan yang dijadikan prinsip hidup yang dijadikan dasar dalam menghadapi segala situasi hidup.Moto hidup biasanya diungkapkan dalam bentuk frasa atau kalimat yang mampu membangkitkan semangat atau tujuan hidup yang hendak dikejar.

In solicitudine et simplicitate adalah sebuah moto hidup (dipungut dari bahasa Latin) yang secara leksikal dapat diartikan “Dalam keprihatinan dan kesederhanaan”. Moto hidup tersebut milik Andreas Ignatius Schaepman ketika beliau menjabat Uskup Keuskupan Agung Utrecht dari tahun 1868-1882. Moto tersebut telah ada sebelum A.I. Schaepman mendirikan Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus yang lahir pada 13 Agustus 1873.

Populer di Kalangan para Frater

Moto Mgr. Andreas Ignatius Schaepman tersebut begitu familiar di kalangan para frater Bunda Hati Kudus. Hal ini lebih dikarenakan Mgr. Andreas Ignatius Schaepman sebagai pendiri Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus. Para frater biasa menempatkan/mengutip moto itu untuk dipasang di dinding atau ditempatkan dalam tulisan-tulisan resmi maupun tidak resmi karena ingin menghormati pendiri dan juga ingin mengidentifikasi pembatinan keutamaan-keutamaan pendiri dalam kehidupan pribadi maupun kongregasi. Namun yang perlu dikatakan adalah bahwa moto tersebut oleh pemiliknya tidak pernah secara langsung diwariskan kepada kongregasi yang didirikannya. Pernyataaan ini didukung dengan tidak adanya dokumen yang mengatakan bahwa moto tersebut diwariskan kepada Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus untuk dihayati atau dihidupi oleh para frater Bunda Hati Kudus.

Melihat Moto Mgr. A. I. Schaepman

Di dalam semboyan In sollicitudine et simplicitate (dalam keprihatinan dan kesederhanaan) itulah kita para frater melihat janji Schaepman, bahwa ia ingin menjadi seorang gembala yang penuh perhatian bagi orang-orang yang dipercayakan kepadanya, bahwa ia yang dengan kesederhanaan hati akan menjadi bagi umatnya, seorang bapak yang penuh cinta kasih.

Dalam  keprihatinan dan kesederhanaan,  betapa kedua istilah ini menjadi pedoman, dua kata yang dipilihnya sebagai semboyannya, merupakan ciri khas A.I. Schaepman. Keduanya mewarnai corak hidupnya; yang melekat pada perbuatannya, yang memberikan rasa hormat dan kasih, bukan saja dari umatnya atau orang yang seiman dengannya tetapi juga dari semua orang yang memperoleh keuntungan mengenalnya.

Keprihatinan dan kesederhanaan sungguh dihidupi oleh A.I. Schaepman. Dua keutamaan ini sungguh menjadi dasar bagi pelayanan karya cinta kasih. Karya cinta kasih yang dikembangkan dalam hidupnya sangatlah sejajar antara cinta bagi Tuhan yang bersifat vertikal dan cinta bagi sesama yang bersifat horisontal.

Schaepman semasa hidupnya menghayati dan menghidupi motonya. Hidupnya sungguh-sungguh  dibakar dan dikobarkan oleh semangat ini. Semboyannya ini begitu jelas menjadi pedoman seluruh hidup dan karyanya. KESEDERHANAAN LEBIH DITUJUKKAN  UNTUK DIRINYA (kepada dirinya sendiri ia mempunyai tuntutan amat keras akan penghayatan dan pengamalan nilai kesederhanaan). Sedangkan KEPRIHATINAN dipersembahkan, ditujukan atau diarahkan demi orang lain.

Wajah Keprihatinan

Keprihatinan A. I. Schaepman  nampak mewujud dalam tanggapan atas situasi zaman yang dihadapinya. Hal ini dapat diungkap dalam tanggapan atas situasi zaman yang dihadapinya, seperti misalnya;

  • Ketika bertugas sebagai pastor muda di Omerschans, di tempat orang menggali tanah merah untuk dijadikan batu merah, Schaepman menjaga dan mencintai orang yang paling ditinggalkan dalam masyarakat dengan sifatnya sebagai seorang bapak.
  • Memajukan persekolahan katolik baik secara kualitas maupun kwantitas di wilayah keuskupannya. Ada kurang lebih 80 sekolah katolik didirikannya ketika Schaepman menjabat Uskup Agung Utrecht (1868-1882).
  • Mengupayakan pendidikan yang layak bagi kaum miskin yang kurang mendapatkan pengajaran, pendidikan dan pembinaan iman katolik kepada kaum muda (melalui tarekat yang didirikannya).
  • Mengurangi kesusahan kehidupan terutama untuk mereka yang miskin atau kurang mampu maka didirikan rumah yatim piatu, serentak rumah untuk orang jompo.
  • Mendirikan Rumah Sakit St. Andreas untuk membantu masyarakat yang kurang mampu untuk mendapat pelayanan kesehatan yang layak.
  • Memajukan kepentingan-kepentingan rohani dan kehidupan gerejani di wilayah keuskupan agungnya (memperindah gereja-gereja, mendirikan museum, memajukan kesenian gerejani).
  • Ketika Eropa dilanda wabah kolera, kota Utrecht menjadi salah satu kota yang paling tertimpa wabah itu. Di dalam kemalangan dan kecemasan umum bersinarlah kasih sayang, keberanian dan pengingkaran diri Mgr. Schaepman. Setia pada semboyannya: “Dalam keprihatinan dan Kesederhanaan”, ditunjukkannya bagaimana sikap seorang gembala yang setia terhadap umatnya. Tindakannya dipuji sebagai tindakan kepahlawanan.

Wajah Kesederhanaan

Kesederhanaan yang merupakan bagian dari semboyannya bukan hanya slogan yang terucap dari bibirnya tapi keutamaan kesederhanaan ini sungguh dia hidupi dan mewarnai hidupnya. Mari kita lihat wajah dan kesederhanaan Schaepman:

  • Kesiapsediaannya menerima tugas diberbagai tempat, dijalaninya tugas itu dengan ketulusan hati,  totalitas dan penuh semangat pengabdian. Kesederhanaan hati itu dikemudian hari menjadi corak-corak karyanya sebagai uskup.
  • Dalam kunjungan pertamanya sebagai uskup ke Seminari Agung Rijsenburg. Hari-hari sesudah pelantikannya sebagai Uskup, Schaepman mengunjungi Seminari Agung Rijsenburg tempat di mana ia pernah menjadi presiden pertama di seminari tersebut. Para profesor dan para siswa di Seminari Agung telah menyiapkan segalanya yang mungkin untuk menyambut sepantasnya. Akan tetapi  ketika Schaepman akan masuk ruangan rekreasi yang dihiasi untuk resepsi, dan dilihatnya di ujung ruangan itu suatu tahta indah, ia sambil tertawa dan dengan suatu gerak-gerik yang menolak, berpura-pura mau berbalik. Para siswa teologan dengan rasa hormat memaksakan Shaepman untuk memasuki ruang rekreasi itu. Akan tetapi, Schaepman tetap menolak duduk di tahta itu, ia lebih memilih duduk di samping tempat duduk kehormatan yang disediakan baginya. Rupanya memang Schaepman ini tipe orang atau pejabat gereja yang tidak suka diperlakukan secara khusus. Sikap ini tentu berangkat dari kesederhanaan hidupnya yang senantiasa ingin duduk sama rendah dengan yang terbawah.
  • Kesederhanaan ini juga nampak dalam cara bagaimana ia mudah didekati oleh siapa saja. Siapa saja yang mendekati Uskup Agung Utrecht ini segera mengalami pengaruh yang menyenangkan; suaranya, keramah-tamahannya, maupun  gerak-geriknya.
  • Schaepman terbiasa berjalan kaki menyusuri jalan Utrecht menuju rumah-rumah penampungan orang-orang miskin, jompo dan orang-orang sakit. Di jalanpun ia menyapa orang dan memberi penghiburan rohani. Sesuatu yang tidak lazim baik untuk zaman waktu itu maupun zaman sekarang bahwa seorang uskup terbiasa menyusuri jalan kota dengan berjalan kaki. Langkah seperti ini sulit terjadi jika orang tidak cukup sederhana. Tindakan Andreas Ignatius Schaepman ini adalah tindakan yang disadari bahwa pewartaan kabar gembira tidak dapat dibatasi pada pewartaan sabda, khotbah dan sakramen-sakramen; kegiatan cinta kasih pun harus dicakup, karena dengan demikian orang mewatakan Injil dengan kata maupun karya, itulah pula yang dilakukan Yesus Kristus, Fransiskus Asisi, Vinsensius de Paul dll.

Yang Dapat Kami Katakan

Nilai-nilai baik yang dihayati sebagai cara hidup, seringkali juga disebut sebagai sebuah kebijaksanaan hidup yang menjadi arah dan pedoman hidup seseorang. Keutamaan juga merupakan jalan hidup yang memiliki nilai luhur karena didasarkan pada kebaikan.

Schaepman memilih keutamaan atau sikap pribadi yang dianggapnya paling cocok agar karya-karya dapat menghasilkan buah-buahnya, singkatnya sikap itu adalah keprihatinan dan kesederhanaan. Dua keutamaan ini menjelaskan gaya hidup Schaepman sebagai seorang abdi Allah.

Apa yang cocok bagi dia (Schaepman) belum tentu cocok bagi yang lain. Maka kepada kongregasi yang dia dirikan, Schaepman mewariskan keutamaan-keutamaan cinta kasih, ketaatan, ingkar diri dan kesederhanaan. Keempat keutamaan ini harus dihidupi karena menjadi dasar bagi karya cinta kasih para frater Bunda Hati Kudus. Empat keutamaan/semangat inilah yang paling membantu untuk mewujudkan tujuan kongregasi dan hidup persaudaraan, yang merupakan sumber kekuatan bagi pelaksanaan perutusan kongregasi, maka keutamaan ini harus terus dikobarkan dalam diri para frater. Keutamaan-keutamaan inilah jalan yang harus ditempuh oleh para frater Bunda Hati Kudus untuk membiarkan diri dituntun oleh Roh Kudus.

Fr. M. Venansius EB Santosa, BHK

About fraterbhk

Check Also

Mgr. Schaepman dalam Semangat St. Vinsensius A Paulo

Kegelisahan Mgr. Schaepman Kegelisahan Mgr. Schaepman terhadap situasi manusia saat itu sebenarnya sudah mulai terasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *