Home / Ruang Gagasan / Manajemen Diri Seorang Religius

Manajemen Diri Seorang Religius

Pengantar

 “Menguasai orang lain adalah suatu kekuatan. Dan menguasai diri sendirilah yang merupakan kekuatan sejati.” Lao Tzu

Manajemen diri seorang religius sangat penting dalam menapaki  dan menjawabi panggilan Yesus. Kita sadar bahwa jalan mengikuti Yesus tidaklah mudah, jalan yang dilalui adalah jalan salib, sebagaimana yang  dihayati oleh Yesus, Dia berkata kepada murid-murid-Nya: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku (Matius 16:24-28). Perlu diadari terus, bahwa panggilan kita, merupakan suatu undangan atau anugerah istimewah atau khusus dari Tuhan, untuk secara proaktif turut serta mewartakan kerajaan Allah, sesuai dengan bakat,kompetensi dan talenta. Mewartakan kerajaan Allah juga secara praksis dapat dilakukan, melalui kesaksian hidup yang baik dan benar secara universal, melalui sikap dan perilaku yang menyenangkan dan terpuji, bagi sesama, sehingga hidup hidup religius kita dapat memancarkan daya tarik, daya pikat serta menjadi inspirasi dan mengagumkan bagi orang lain,  sebagaimana yang ditunjukan oleh hidup Yesus sendiri. Sebagai pengikut, maka konsekuensi logisnya adalah kita meniru secara total , utuh, cara hidup Yesus. Atau dengan lain kata cara hidup Yesus harus menjadi cara hidup kita, dengan demikian kita menjadi ALTER YESUS. Perlu diingat pula, bahwa undangan atau panggilan kita, semata – mata merupakan inisiatif dari Yesus yang adalah Allah, bukan dari kita. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…(Yoh 15:16). Manajemen diri seorang religius tidak lain hanyalah sarana atau wahana untuk mencapai tujuan akhir yakni persatuan dengan Tuhan atau keselamatan, baik bagi diri kita sendiri, maupun  sesama, khususnya mereka yang kita layani di komunitas dan unit karya, masyrakat. Dan kiranya kehadiran dan keberadaan kita di tengah-tengah sesama, dapat melahirkan dan menghasilkan buah kebaikan, kebajikan, kerajaan Allah.

Manajemen Diri

Manajemen diri adalah orang yang mampu untuk mengurus dirinya sendiri atau kemampuan untuk mengurus diri sendiri, khususnya mengurus wilayah diri yang sering  bermasalah yaitu pikiran dan hati kita (bdk. Mat. 15:18-19). Bagi kita yang memilih jalan khusus ini, manajemen diri sangat penting, mengingat posisi kita sebagai jantung gereja dan gambaran kehidupan eskatologis. Oleh sebab itu, kehidupan kita harus menjadi contoh dan teladan serta model kehidupan yang diimpikan, sebagaimana model kehidupan umat perdana (bdk. Kis 2: 41-47), ditengah kehidupan yang cenderung sekuler, profan, hedonisme, individual, chaos. Manajemen diri seorang religius, sangat menentukan keberlangsungan kehidupan religius itu sendiri, ditengah berbagai tawaran dunia yang menarik dan menggiurkan. Usia dan lamanya seorang religius dalam mengikuti Yesus, bukan menjadi ukuran dan jaminan untuk tetap loyal, komit, konsisten dalam mengikuti Yesus. Manajemen diri seorang religius kita, menurut hemat saya kekuatannya terletak pada hidup refleksi, hidup doa, hidup komunitas. Sedangkan hidup karya merupakan pancaran buah dari hidup refleksi, hidup doa dan hidup komunitas.

  1. Hidup refleksi: hidup religius kita, harus mengalir dari tindakan refleksi. Socrates berkata “hidup yang tidak pernah direfleksikan, tidak layak untuk dihidupi”. Oleh karena itu, sesungguhnya kekuatan dan keunggulan hidup religius kita, dibandingkan hidup berkeluarga terletak pada ciri khas ini. Dengan tindakan refleksi, kita dapat mengambil pelajaran dari setiap apa yang telah terjadi, seperti ada ungkapan “pengalaman  adalah guru yang baik (experienceis a good teacher). Selain itu, dengan tindakan refleksi kita dapat melihat sejauhmana hidup kita telah bermakna bagi orang lain dan pantas disyukuri. Dengan demikian kita menjadi seorang religius yang tahu bersyukur. Seorang penulis rohani menulis “tidak ada sesuatu yang pantas kita berikan kepada Tuhan, selain ungkapan syukur atas semua anugerah dan rahmat yang kita terima secara cuma-cuma” (bdk. Matius 10: 8 ). Lebih lanjut, dengan tindakan refleksi kita akan menemukan cerita indah kehidupan yang sudah dituliskan untuk senantiasa silih berganti,  antara senang dan susah, bahagia dan duka, gembira dan sedih, sehat dan sakit, jatuh dan bangun, tertawa dan menangis, sukacita dan dukacita. Inilah warna warni kehidupan religius kita, yang dari setiap peristiwanya menitikkan pengalaman dan pengetahuan kehidupan.
  2. Hidup doa: hidup religius kita, akan terasa mantap, apabila diresapi dan dijiwai oleh hidup doa. Hidup doa bagi seorang religius, merupakan inti kekuatan jiwa dalam melaksanakan misi, perutusan.  Ingatlah, bahwa misi, perutusan kita tidak lain adalah mengambil bagian dalam misi perutusan Yesus, sebagaimana Yesus memanggil dan mengutus ke- 12 muridNya (Mat. 10:1-20). Oleh karena itu, sebagai pribadi yang telah dipanggil oleh Yesus, tentunya Dia mendayai kita dengan RohNya serta menyertai kita (bdk. Mat. 28: 20), asal kita selalu mau menimba kekuatan dari padaNya. Ingatlah, tanpa Tuhan kita bukan apa apa (Gal 6:3), tanpa Tuhan kita tak punya apa apa (1Kor 4:7), tanpa Tuhan kita tidak tahu apa apa (1Kor 8:2) dan tanpa Tuhan kita tak bisa berbuat apa apa (Yoh 15:5
  3. Hidup komunitas,  salah satu cirikhashidup religius kita adalah hidup komunitas atau hidup bersama. Komunitas ideal adalah komunitas yang  hidup anggotanya dijiwai oleh kehidupan komunitas trinitas, komunitas keluarga kudus dan komunitas jemaat perdana (Kis. 2: 41-47; 4: 32-37). Karena itu, komunitas religius kita seharusnya juga menampakan dan memancarkan wajah komunitas trinitas, keluarga kudus dan umat perdana. Tak bisa dipungkiri juga, bahwa dalam hidup bersama tak jarang di temukan berbagai karakter yang menghiasi kebersamaan. Namun, jadikan perbedaan itu sebagai suatu kekayaan dan mosaik, mutiara indah kehidupan, bukan dipertentangkan. Dalam menjalani kehidupan bersama, kita diberikan Tuhan waktu 24 jam dalam sehari, namun ada yang mampu mengelolanya, namun ada juga yang mengelola diri sendiri saja tidak mampu. Padahal manajemen diri menjadi kunci dalam mengelola manajemen yang lain, dan sebagai religius hidup refleksi, hidup doa, hidup komunitas adalah resep atau tips jitu dalam manajemen diri. Oleh sebab itu, perlu kita melakukan manajemen diri, manajemen waktu, agar semua kegiatan kita setiap saat, bermakna dan dapat mengarahkan kita kepada tujuan akhir hidup kita. Untuk itu, kita perlu melakukan discernment (kearifan)  dalam memilah mana yang penting dan mendesak, penting namun tidak mendesak, mendesak namun tidak penting dan kegiatan yang tidak penting tidak mendesak, sehingga dibagilah kegiatan kita dalam 4 kuadran, sbb:

Kuadran I merupakan hal-hal yang penting yang tidak bisa ditunda lagi harus dilakukan seperti merawat orang sakit, doa bersama, ekaristi bersama, makan bersama, menghadiri pemakaman keluarga, dsb. sedangkan kuadran II merupakan kegiatan penting, namun bisa diatur waktunya seperti, nonton TV, baca buku/surat kabar,  rekreasi, mengerjakan tugas-tugas, namun jika kegitan pada kuadran II ini di tunda-tunda, maka pada akhirnya akan menjadi kegiatan penting mendesak pada kuadran I, sehingga menjadwalkan kegiatan harian (daily activity schedule) sangatlah penting.

Kuadran III merupakan kegiatan yang harus segera dilakukan, meskipun tidak terlalu penting seperti buang air, dll. Sementara kuadran IV merupakan kegiatan yang sama sekali tidak perlu kita lakukan, yang tidak ada kaitannya dengan tujuan hidup kita seperti facebookan, bbm, sms, telp berlama-lama, ngerumpi atau ngobrol pangjang lebar yang tidak ada arah tujuannya,dsb.

Dengan mengetahui cara memilah kegiatan-kegiatan kita, menjadi empat kuadran ini, maka akan lebih mudah menentukan agenda kegiatan prioritas  (agenda ofpriority activities) mana yang lebih utama dilakukan dan mana yang tidak perlu dilakukan. Sekali lagi dibutuhkan discernment.

Hidup kita sebagai seorang religius tidak melulu, hanya refleksi, doa, berkumpul bersama dalam komunitas, namun kita diberi tanggungjawab dalam karya tertentu, sesuai talenta (talent), kompetensi (competence), keterampilan (skills). Dalam mengemban suatu tugas, tentunya kita memiliki target-target. Ada tiga target yang lazim terjadi, yakni:target rendah dan tercapai, target tinggi tetapi tidak tercapai dan target tinggi dan tercapai, maka pasti kita memilih pilihan ketiga. Namun dalam kenyataannya,  sebagian besar yang terwujud adalah pilihan kedua (target tinggi, tetapi tidak tercapai). Untuk mencapai target yang tinggi, maka dibutuhkan manajemen diri (Self Management Lebih jauh, kita sebagai seorang religius haruslah memiliki keunggulan dalam manajemen diri, maka langkah awalnya ialah mengenal diri, yakni:

1.   Mindset dan leadership.

Seorang religius yang memangku suatu tugas (bdk.Kej. 1:26,27,28), harus memiliki paradigm (kerangka berpikir), mindset (cara berpikir). Disinilah letak keunggulannya, yakni agar dapat menjadi orang yang sukses dibutuhkan orang yang memiliki mindset winner (pemenang), bukan loser (pecundang). Kemudian dari sisi leadership harus memiliki mental driver (pengendali), bukan passenger (penumpang). Dibutuhkan mental winner dan mental driver, agar kita tidak mudah menyerah dan selalu ada kemauan untuk mencoba. “di mana ada  kemauan, pasti ada jalan (wherethere is a willthere is a way).

2.    Kepribadian, bakat, kompetensi dan talenta.

Kita merupakan ciptaan Allah yang paling unik (bdk. Kej. 1: 26-31), karena tidak ada diantara kita yang sama persis, dalam aspek kepribadian, bakat,kompetensi dan talenta (bdk. Mat. 25:14-30), karunia (1 Korintus 12: 11). Jalan sukses kita pun tidak bisa dipastikan sama, karena keunikan kita tersebut. Oleh karena itu, kita harus mengenali kepribadian, bakat, kompetensi dan talenta, karunia kita, agar dapat menemukan jalan sukses.

3.   Visi, misi dan target hidup 

Kita para religius, tentunya tidak asal hidup, tetapi ingin memberi arti, makna  pada kehidupan (significance contribution). Oleh karena itu, kita harus dapat merumuskan visi, misi dan target pribadi, tarekat, sebagai kompas di tengah lautan kehidupan yang penuh ombak tantangan, ujian, pencobaan, godaan.

Jika kita mampu mengenal ketiga hal tersebut di atas dengan baik, maka menururut hemat saya kita telah melewati tahap pertama dari manajemen diri kita yaitu knowing, selanjutnya tahap kedua yaitu mastering dengan mengeksplorasi dan memaksimalisasikan diri menjadi master, dan tahap ketiga yaitu controlling yaitu mengendalikan diri sendiri.

Penutup

“Mengenali hal-hal lain adalah kecerdasan, mengenali dirimu sendiri adalah kearifan sejati.” Lao Tzu

Demikianlah manajemen diri religius, sekedar penyegaran kembali tentang saat-saat indah kita menjawabi panggilan Tuhan dan bersama Dia kita terus menapaki peziarahan kita di dunia ini. Tentunya kita tidak sekedar dipanggil, namun kita diberi tugas sama seperti yang dilakukan Yesus yakni mewartakan kerajaan Allah yang muaranya adalah keselamatan. Tugas mewartakan kerajaan Allah bagi kita, tentunya kita hayati melalui tugas yang dipercayakan kepada kita masing-masing, sebagai guru, mahasiswa, kepala sekolah, pimpinan, tugas lainnya. Sebagai pribadi yang dipanggil secara khusus, kita harus mampu menunjukan, memancarkan sikap, perilaku, tutur kata, tindakan yang  menyenangkan, mengagumkan, terpuji kepada sesama sebagai wujud dari suasana kerajaan Allah. Karena itu, mewartakan kerajaan Allah bukan sekedar soal perkataan, tetapi soal perbuatan  baik, nyata kepada sesama (Mat. 25:31-46). Agar itu terwujud, maka manajemen diri yang didukung oleh hidup refleksi, hidup doa, hidup komunitas menjadi wahana dalam mencapai tujuan yang diharapkan yakni persatuan dengan Tuhan atau keselamatan.

Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

About fraterbhk

Check Also

Pendidikan Karakter bagi Generasi Milenial

Keberadaan dan peradaban manusia sejak semula tidak terpisah dari pembentukan karakter yang berdampak positif terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *