Home / Identitas Kongregasi / Memaknai Kata-kata Warisan Pendiri Kongregasi Frater BHK

Memaknai Kata-kata Warisan Pendiri Kongregasi Frater BHK

Pengantar

Mengenang kata-kata warisan Mgr. A.I. Schaepam pendiri kongregasi para frater Bunda Hati Kudus termasuk tidak banyak dan sulit ditemui, karena tidak banyak yang ditulis atau yang ditinggalkan dalam tulisan-tulisan tentang tokoh kita ini. Karena itu pula beliau selalu disebut tokoh yang praktis. Apa yang dipikirkan, terinspirasi, langsung direaksi dalam wujud atau tindakan kasih yang nyata. Jadi boleh dikatakan bahwa apa yang ada di dalam kedalaman hatinya, mengalir dan terekspresi keluar dalam tindakan kasih yang nyata. Antara Hati  dan Jawabannya dalam ungkapan perwujudan dan tindakannya kasihnya adalah ungkapan iman dan kesederhanaan  yang kokoh sekaligus menjadi gaya hidupnya dalam kepeduliaannya kepada sesama dan situasi zaman yang  dihadapinya.

Walaupun demikian marilah kita sebagai kongregasi memaknainya dalam hidup persekutuan sebagai suatu kesadaran hidup dalam membangun jati diri kita sebagai kongregasi supaya dapat diinternalisasikan menjadi gaya hidup dan ungkapan kualitas hidup kita sehari-hari yang diharapkan dari A.I.Schaepman dalam zaman kita saat ini.

Warisan yang Membangun dari Mgr. Schaepman

Kata-kata dan pikiran-pikiran serta inspirasi yang membangun dari Mgr. Andreas Ignatius  Schaepman, yang perlu dimaknai dalam kehidupan kongregasi, sebagai bagian dari jati diri kongregasi untuk dihayati, ditumbuh-kembangkan sebagai nilai-nilai hidup yang diwariskan pendiri kongregasi agar sebagai anggota, kita menyadarinya sebagai tradisi yang hidup bagi para frater, untuk dibudayakan dan dilestarikan bagi generasi penerusnya.

 Hal-hal inilah yang perlu didalami, dimeditasikan dan dikontemplasikan agar kita mampu dan semakin menyadari, memaknainya untuk memperkuat jati diri kita sebagai penerus dan pewaris nilai-nilai yang diharapkan untuk dihidupi oleh A.I. Schaepman, yaitu:

  1. “Saya memerlukan frater-frater berkeyakinan mendalam tentang pentingnya segala sesuatu dari pendidikan dan pembentukan kaum muda. Saya memerlukan biarawan-biarawan yang rajin, yang unggul dalam kebajikan dan kecakapan, dijiwai oleh suatu ikatan yang murni, dan dipenuhi cinta kasih dan pembaktian diri yang besar untuk tugas yang ditunjuk oleh pembesar-pembesar kepada mereka.
  2. Saya memerlukan orang laki-laki yang sanggup mencamkan pada murid-murid yang dipercayakan kepada mereka kebenaran-kebenaran dasar ajaran agama dan susila katolik, dan dengan perantaraan mereka memberi teladan serta dengan perkataan mereka, mengajar bagaimana kebenaran-kebenaran itu harus dilaksanakan dalam hal ikhwal kehidupan.
  3. Pendek kata:”Saya memerlukan guru-guru yang rajin, yang sanggup membentuk akhlak yang beragama. Guru-guru yang mampu memberikan murid-murid itu agar mencapai kebahagiaan sementara dan abadi mereka, sehingga hati mereka, budi mereka diresapi oleh sikap iman, harapan dan cinta kasih”.

Berdasarkan kata-kata , pikiran-pikiran, inspirasi yang membangun tersebut di atas ini, kami menfokuskannya pada beberapa kata kunci untuk dimaknai antara lain:

  • Frater Guru

Seorang Frater Bunda Hati Kudus, berprofesi sebagai guru. Guru yang ideal yang berkeyakinan terpanggil sebagai guru, berhati guru. Guru yang sungguh beriman teguh, guru yang diandalkan hidup imannya, guru yang diandalkan profesinalismenya. Sebagai guru tentu banyak kualitas diidealkan yang mampu memberikan, menularkan, menanamkan yang terbaik agar peserta didik mencapai kebahagiaan sementara sekarang dan abadi yang akan datang.

Frater guru adalah suatu profesi ideal yaitu: guru yang diresapi sikap iman, harapan dan cinta kasih.  Frater guru yang rajin, kreatif, inovatif, penuh semangat, simpatik-empati dan luwes berperan sebagai fasilitator. Sebagai guru tentu diidealkan justru yang paling dibutuhkan yaitu melahirkan generasi baru yang memiliki keahlian maupun ketrampilan hidup saat ini dan di akhirat yang justru dibutuhkan abab ini.

Tugas frater sebagai Guru yang fundamental, justru menyiapkan anak didik/kaum muda agar lebih siap menghadapi realitas kehidupan yang semakin kompleks dan serba tidak jelas, untuk menjadi manusia seutuhnya. Jadi bukan menjadi guru yang kaku, konvesional, satu arah, asal-asalan menjadi guru. Untuk itu sebagai frater, hendaknya mencamkan atau memperhatikan sungguh-sungguh tugas sebagai guru. Menjadi Guru berarti para frater pekerjaan utamanya mendidik dan mengajar, maupun membina dan mendampingi peserta didik yang dipercayakan kepada kita.

Di sinilah frater guru, harus memberi kesaksian hidup atau kesaksian teladan dalam kelas, sekolah, asrama, dan di antara rekan kerjanya maupun dalam lingkungan hidup frater sehari-hari. Karena itu contoh jelek sebagai guru yang diibaratkan dalam peribahasa, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, hendaknya dicamkan betul-betul para frater, untuk dihindarkan. Karena itu kita perlu belajar, disiapkan lebih dahulu agar menjadi lebih profesional sebelum menjadi guru.

Demikian sebagai guru, bukan melulu menggurui, menasihati namun mampu mendidik sebagai guru yang profesional, memahami kebijakan pendidikan, sehingga kebijakan, tindakan, aktivitas menyangkut mengatur dan mengelola pendidikan, para frater tetap setia pada arah dan tujuan azasi didirikannya kongregasi, walaupun situasi dan zamannya berubah, yang menyebabkan penyesuaian demi penyesuaian menuntut banyak pengorbanan, baik korban tenaga, pikiran, perasaan, waktu, dan materi, namun terus-menerus disiasati sehingga tetap up to date sebagai frater guru yang menjaman.

  • Seorang biarawan Frater

Karena tugas sebagai guru yang begitu mulia, maka sangat diharapkan bahwa tugas mulia ini diemban oleh seorang biarawan/religius. Langkah awal ialah dengan membentuk lembaga religius biarawan yang dinamakan: “Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus”. Karena itu pendiri mengharapkan bahwa, kualitas seorang anggota biarawan frater yang diharapkan adalah:

Biarawan frater yang rajin

Rajin menghayati nilai-nilai panggilannya sebagai pribadi religius; rajin dalam pengembangan tugas apapun yang dipercayakan kongregasi; rajin membaca dan belajar berbagai macam ketrampilan hidup, apalagi sebagai seorang guru yang profesional dan mampu memanage tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan; rajin menata hidup pribadi terus-menerus sehingga lebih diandalkan dalam kerasulan teladan.

Biarawan frater yang unggul dalam kebajikan dan kecakapan

Dikatakan dengan sangat jelas oleh pendiri, bahwa kita frater hendaknya unggul dalam kebajikan dan kecakapan. Ini berarti kita frater hendaknya dari sikap batin maupun tindakan nyata sehari-hari, menampakan keunggulan dalam perbuatan baik, berguna, bernilai, bermanfaat bagi orang lain dalam aktivitas atau pelayanan kita. Khususnya bagi peserta didik yang dipercayakan kepada kita, bagi semua rekan kerja dan semua yang membutuhkan bantuan kita.

Untuk itu, hendaknya para frater itu arif dan bijaksana, tajam pemikirannya, agar cerdik atau pandai menggunakan akal budi dan pengalaman, serta rasa tanggungjawab terhadap tugas yang dipercayakan kongregasi, agar dengan jiwa dan semangat, maupun keberanian untuk bertindak yang sejalan dengan tuntutan nilai yang menjadi tujuannya.

Selain itu seorang frater juga hendaknya unggul dalam kecakapan. Ini berarti seorang frater diminta mengembangkan diri untuk memiliki kecakapan, kemampuan, kesanggupan atau kemahiran agar menjadi sungguh unggul dalam mengerjakan atau melaksanakan sesuatu yang dipercayakan lebih dari pada yang lain.

Karena itu setiap anggota frater harus pandai dan cakap. Pandai berarti mempunyai pengetahuan untuk melakukan sesuatu. Seorang frater harus sanggup, berarti mempunyai daya untuk melakukan sesuatu. Selain itu seorang frater harus mampu, berarti mempunyai kapasitas mental maupun fisik untuk melakukan sesuatu. Semua ini tentu sangat ditentukan oleh sejauh mana efektif  dan efisiensinya dalam pembinaan dan pendampingan dimasa pendidikan dasar hidup religius dan bina lanjutnya.

Pembaktian diri yang dijiwai oleh suatu ikatan yang murni dan dipenuh cinta kasih

Lembaga atau Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudusadalah sebagai suatu gerakan hidup bakti, sebuah gerakan kenabian pada zamannya dan bertumbuh kembang hingga ke alam zaman post-modern ini. Dalam makna ini tentu sikap batin kita adalah sikap hormat dan patuh dalam pengabdian, kesetiaan, dan rela berkorban sebagai tanda bakti kita yang dijiwai oleh ungkapan cinta kasih kita yang murni bagi Allah dan sesama dalam tuntunan Roh Kudus.

Kongregasi kita akan mengalami krisis dan kemudian kemunduran atau malah harus dibubarkan, bila kongregasi mulai kehilangan Obor Hidup, mulai tidak relevan dalam menjawab jeritan zaman karena anggota-anggotanya mulai tidak berkualitas injili, dan lebih mengejar hal-hal yang duniawi. Obor Hidup kongregasi adalah Spiritualitas yang terangkum dalam kekayaan gambaran Allah yang hendak diwahyukan di bumi atau Mistik Kongregasi, Karisma Kongregasi, kemuridan yang nampak dalam Cara Hidup Kongregasi dan Kenabian atau inti pokok arus keselamatan Allah yang dipercayakan kepada kongregasi sebagai suatu gerakan hidup bakti.

Bakti diri kita lewat kongregasi hendaknya dijiwai oleh ikatan yang murni dan dipenuhi semangat cinta kasih dalam tugas pelayanan yang ditunjuk oleh pembesar-pembesar kita, akan membangun kesetiaan dan hidup berkualitas injili. Mempertahankan hidup berkualitas bagi kongregasi juga berarti menyediakan personalia atau “man power” untuk masa depannya. Dan bagi masing-masing pribadi tiada lain adalah soal bina diri terus-menerus, dan tidak hanya menunggu dari otoritas kita.

Seorang frater yang sanggup mencamkan kebenaran-kebenaran dasar agama dan susila katolik. Sekaligus memberi kesaksian teladan dengan perkataan dan perbuatan tentang kebenaran-kebenaran itu kepada peserta didik dan kolega kerja dalam kerasulan

Ini berarti seorang frater harus mempunyai daya melakukan sesuatu (kesanggupan), dan kapasitas mental maupun fisik melakukan sesuatu (kemampuan), serta memperhatikan dengan sungguh-sungguh, menyakini dan menginternalisasikan kebenaran-kebenaran dasar agama dan susila katolik dalam hidup sehari-hari. Pendek kata seorang frater seharusnya membatinkan, menyakini dan beriman sungguh-sungguh tentang kebenaran-kebenaran dasar agama dan susila katolik dalam hidupnya, sehingga mampu membagi-bagikan, menularkan, menyakinkan peserta didik yang dipercayakan kepada kita.

Karena lewat teladan hidup antara perkataan dan tindakan atau perbuatan nyata para frater, justru menjadi andalan utamanya dalam kerasulan khas kita yaitu mendidik, mengajar dan mendampingi peserta didik, untuk mencapai tujuan hidup mereka yang lebih baik di dunia ini maupun diakhirat.

 Penutup

Karena kata-kata warisan  Mgr.A.I. Schaepman pendiri kongregasi yang mau dimaknai oleh anggota kongregasi, untuk memperjelas dan memperkuat kualitas jati diri kita sebagai anggota kongregasi, yang kurang lebih kami angkat di dalam tulisan ini. Tentu masih banyak kekayaan lain yang perlu digali untuk membantu memperkaya kita dalam internalisasinya.

Fakta bahwa sebagian besar anggota frater adalah dari Indonesia, maka tidak berlebihan kalau kami mau sejajarkan tuntutan nilai injil, kata-kata dan pikiran-pikiran Mgr. A. I. Schaepman, dengan tiga sifat utama yang dibudayakan ke budaya Indonesia dalam dunia pendidikan dengan ungkapan bijak Ki Hajar Dewantara, agar diinternalisasikan dan diwujudnyatakan  lewat tindakan nyatanya dalam “kesaksian teladan” para frater yang diidealkan, yang lebih dibahasakan secara bebas kepada para frater antara lain sbb:

Ing ngarso sung tolodo = di depan: para frater berhadapan dengan peserta didik, rekan kerja dan umat/masyarakat hendaknya para frater mampu memberi contoh, teladan atau diteladani, dipercayai. ditiru, diikuti, dipatuhi.

Ing madyo mangun karso = di tengah: para frater yang berada di tengah peserta didik, rekan kerja dan umat/masyarakat, para frater hendaknya mampu menyemangati, menguatkan, meneguhkan, menemani, menginspirasi.

Tut wuri handayani = dari belakang: para frater hendaknya dari belakang setia memberikan dorongan moral, memotivasi, mensupport, memberi dukungan.

Begitu juga ungkapan sebagai guru: “digugu lan ditiru” = Sebagai frater dalam profesi guru, hendaknya para frater itu dipercayai dan diikuti, ditiru dan dipatuhi. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa: “Dengan Hati” para frater secara bersama-sama dan secara pribadi, hendaknya terus-menerus membenahi dan menata diri untuk meningkatkan kualitas hidup injili; memaknai kata-kata dan pikiran-pikiran pendiri Mgr. A.I. Schaepman maupun kata-kata bijak Ki Hajar Dewantara dalam tindakan nyata, sebagai suatu kerasulan yang efektif dan efisien yaitu, “Teladan Hidup atau Kerasulan Teladan”.

Fr. M. Simon Lele Ruing, BHK

About fraterbhk

Check Also

Mgr. Schaepman dalam Semangat St. Vinsensius A Paulo

Kegelisahan Mgr. Schaepman Kegelisahan Mgr. Schaepman terhadap situasi manusia saat itu sebenarnya sudah mulai terasa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *