Home / Sharing Gagasan / Tuhan yang Memberi Pertumbuhan

Tuhan yang Memberi Pertumbuhan

IDENTITAS NOVISIAT

Pembinaan memiliki dimensi hidup bersama, maka komunitas merupakan tempat utama bagi pembinaan (VC 67). Identitas novisiat sebagai komunitas formasi perlu mendapat perhatian secara khusus dengan maksud bahwa dengannya setiap anggota (formator dan formandi) sadar akan kekhususan dan keistimewaan kesatuan komunitas yang berciri. Identitas inilah menjadi landasan kebersamaan dalam meniti perjalanan bersama sebagai satu kesatuan pandangan dan kesadaran untuk mewujudkannya. Komunitas yang berciri inilah yang membedakan dengan komunitas lainnya. Untuk mencapai tujuan, kita menegaskan identitas komunitas novisat Frater Bunda Hati Kudus adalah sebagai berikut:

  • Novisiat FBHK adalah komunitas formatif (Formative Community)

Novisiat FBHK sebagai komunitas formatif artinya novisiat merupakan komunitas yang dibentuk dan diusahakan demi tujuan dan dimensi formatif bagi pembinaan. Setiap anggota komunitas mengusahakan terbentuknya hakikat komunitas sebagai komunitas formatif. Segala bentuk usaha dan upaya diupayakan semata-mata berdimensi formatif bagi formandi. Maka, segala hal yang dialami disadari bersama akan membawa dampak bagi proses pembentukan utuh pribadi setiap formandi.

  • Novisiat FBHK merupakan komunitas pembelajar (Learning Community)

Novisiat FBHK sebagai komunitas pembelajar artinya seluruh anggota disemangati oleh semangat kemuridan (being learner spirituality). Dalam arti ini seluruh anggota komunitas baik formator dan formandi adalah seorang pembelajar; seorang murid. Maka setiap pribadi diundang untuk mewujudkan semangat saling belajar satu dengan yang lain. Dalam konteks panggilan kemuridan, tidak ada guru-murid, melainkan yang ada hanyalah sesama murid di hadapan Guru sejati yakni Yesus Kristus (bdk. Yoh 13:13; 14:6) yang telah memanggil setiap pribadi yang tinggal di dalamnya.

  • Novisiat FBHK merupakan  komunitas terbuka (Open Community)

Novisiat  FBHK sebagai komunitas terbuka artinya kesatuan komunitas yang terdiri atas formator dan formandi diikat oleh kesadaran yang sama akan keterbukaan dinamika hidup di luar komunitas sebagai konteks komunitas berada. Sebagai komunitas novisiat dengan segala keterbatasannya tetap mempunyai kesadaran akan konteks hidup Gereja, masyarakat, dan kaum miskin. Dengan semangat keterbukaan inilah setiap anggota didorong untuk peka akan gerakan Roh yang menyapa dalam setiap dinamika pengalaman hidup. Semangat ini pula yang membuka kesadaran setiap anggota akan gerakan roh di dalam batin sesama. Maka setiap anggota didorong mengembangkan kesediaan membangun kerjasama sejak dini dengan siapapun yang berkehendak baik (membangun jejaring hidup).

  • Novisiat FBHK merupakan  komunitas kontemplatif (Contemplative Community)

Novisiat FBHK sebagai komunitas kontemplatif artinya komunitas ini merupakan komunitas yang menekankan dimensi kontemplatif. Tentunya dimensi ini diupayakan dan diwujudkan sesuai ciri khas komunitas sebagai tempat formasi dasar hidup membiara. Dalam masa tersebut, formandi dibantu untuk menginternalisasikan kekayaan rohani tarekat dan hidup tarekat dalam suasana kondusif. Maka dimensi ini sangat berbeda sekali dengan komunitas karya atau studi.

  • Novisiat FBHK merupakan komunitas yang berkepedulian (Lifegiving  Community)

Novisiat FBHK sebagai komunitas berkepedulian artinya setiap anggota dalam kebersamaan mengembangkan semangat kepedulian sejak dini sebagai salah satu ciri khas kongregasi. Sikap peduli berarti kita memiliki ketergerakkan hati untuk ambil bagian dalam hidup orang lain terutama kepada yang paling membutuhkan.

TUJUAN

Berpijak pada Visi dan Misi Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus, formasi Novisiat Frater Bunda Hati Kudus dan nilai-nilai yang menjadi semangat dasar kongregasi maka formasi Novisiat bertujuan: MENANAM KEUNGGULAN, MENUAI KEMANDIRIAN, TUHAN YANG MEMBERIKAN PERTUMBUHAN.

Tujuan Umum:Membantu mendidik, membina kematangan manusiawi dan rohani formandi untuk bertumbuh sesuai dengan Spiritualitas dan Kharisma serta praktek hidup religius frater sehingga mampu merealisasikan ke dalam hidupnya dan menjadi saksi religius atas Kristus di dalam Gereja-Nya.

Tujuan Khusus: Membantu proses pembentukan, pendidikan, dan pembinaan fomandi dalam proses inkorporasi dalam tubuh mistik kongregasi sehingga formandi mampu memutuskan pilihannya menjadi anggota kongregasi, yang memiliki keunggulan; kecerdasan afektif, kepribadian yang utuh, seimbang, kepeduliaan, kesederhanaan, kemandirian dalam terang Spiritualitas dan Kharisma seturut teladan iman Maria Bunda Hati Kudus, Mgr. A. I. Schaepman dan St. Vinsensius a Paulo.

BIDANG DASAR FORMASI RELIGIUS

Adapun bidang-bidang dasar hidup religius yang diajarkan dan dilatih sebagai berikut:

  • Olah Diri

Olah diri inilah disebut askesis, yang mencakup pula laku tapa dan matiraga. Olah diri berarti melatih diri manusia agar terbuka kepada hidup dalam Roh menurut prinsi-prinsip Injil. Injil menjadi norma objektif hidup. Diri manusia yang hidup dan eksistensial menjadi norma hidup subyektif, sejauh itu disapa oleh Roh Kudus. Olah diri merupakan kegiatan latihan untuk menjadi orang rohani. Olah diri mencakup mengatur dan mengarahkan jiwa, hidup batin, dan hidup lahir supaya sejalan dengan kegiatan Allah yang mencipta dan menyelamatkan. Olah diri juga kegiatan mengalahkan kecenderungan, kebiasaan, kelemahan, yang menghambat formnadi menjadi orang rohani.

  • Penghayatan Nasihat Injil

Untuk keperluan olah diri, tiga nasehat Injil dipilih sebagai sarana inti penghayatan hidup religius. Hidup kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan merupakan pola dasar askesis hidup religius. Oleh karena itu formasi religius merupakan proses latihan hidup yang mempraktekkan tiga nasehat Injil. Nasehat Injil disadari sebagai jalan untuk hidup dalam Roh. Bahkan akhirnya diterima sebagai ciri pokok hidup religius, menjadi tanda ikatan radikal kepada Allah.

  • Hidup Bersama dalam Komunitas

Kongregasi kita adalah suatu lembaga religius. Kita diundang untuk membangun persekutuan hidup untuk menghayati nasehat Injili menurut inspirasi model hidup jemaat awali, maka mau tidak mau hidup bersama dalam suatu komunitas merupakan bagian dari bentuk konkret hidup religius. Oleh karena itu, formasi religius berarti pula membina dan melatih hidup bersama dalam komunitas-komunitas.

  • Hidup Doa

Hidup religius pada pokoknya merupakan hidup yang secara eksklusif mengikatkan diri kepada Allah. Dimensi kontemplatif hidup ini secara konkret dihayati dalam doa, yang mencakup pula praktek doa. Praktek hidup doa ini bersifat pribadi, bersama, dan komuniter maupun gerejani. Semua itu merupakan bagian dan praktek penghayatan hidup religius. Karena itu formasi religius berarti pula latihan dan pembinaan hidup doa dan praktek berdoa, sesuai dengan arah dan inspirasi kongregasi kita.

  • Hidup Kerasulan

Hidup sebagai seorang religius tidak hanya untuk mecari kesempurnaan diri dan pengudusan diri melainkan mempunyai tujuan apostolis. Keprihatinan atas keselamatan umat manusia tetap merupakan motivasi hidup religius, apapun bentuk hidup religius itu. Maka formasi religius berarti pula membina formandi menjadi rasul, meski konkretnya setiap kongregasi religius punya pilihan dan cara merasulnya sendiri. Semangat kerasulan dan mau merasul merupakan bidang formasi religius.

UNSUR-UNSUR PROSES PEDAGOGI FORMASI RELIGUS

  • Formatif

Formasi religius yang formatif, segala kegiatan dan bidang formasi harus punya kekuatan mengembangkan dan membentuk watak dan jiwa, mengembangkan kepribadian sesuai dengan semangat dasar dan praktek hidup religius kita. Unsur pembentukan dan pengembangan merupakan perhatian utama, supaya formandi secara positif, konstruktif, dan dinamis maupun personal menghayati hidup religius dan tugas kerasulannya.

  • Informatif

Demi pembentukkan kepribadian religius yang mantap, formasi religius perlu dilengkapi dengan pengetahuan berdasarkan ajaran yang kokoh dan sehat tentang iman. Kitab Suci, Ajaran Gereja, Konstitusi, Sakramen, Katekese, Seksualitas, Psikologi, Antropologi Budaya, Humaniora, Institusi religius dan lain sebagainya. Dengan demikian formandi dapat diharapkan menjadi religius yang mempunyai dasar yang kokoh dan seimbang.

  • Inspiratif

Dilihat dari segi latihan menghayati panggilan hidup religius dan praktek-prakteknya, formasi religius terjadi pula lewat kontak hidup dengan penghayatan hidup religius maupun kenyataan konkret hidup religius. Oleh karena itu, sangat diharapkan bahwa formandi kita mendapat kesempatan untuk menimba inspirasi penghayatan hidup religius melalui kontak dengan orang-orang yang berbobot dalam penghayatan hidup religius, meski satu sama lain berbeda cara penghayatannya sesuai dengan pribadi dan pengalaman masing-masing. Kehadiran seorang pembimbing atau formator harus mempunyai nilai kesaksian dan menginspirasi formandi.

Fr. M. Paschalis Baun, BHK

About fraterbhk

Check Also

Pendidikan Karakter Bagi Generasi Milenial

Keberadaan dan peradaban manusia sejak semula tidak terpisah dari pembentukan karakter yang berdampak positif terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *