Home / Sharing Inspirasi / Suka Duka Tanah Misi

Suka Duka Tanah Misi

Afrika merupakan benua ladang panggilan ke depan. Itu ditandai dengan semakin bertambah jumlah pemuda-pemudi lokal yang bergabung dalam hidup membiara. Kehadiran Kongregasi/tarekat religius yang berpusat di Asia dan Amerika Latin mulai berdatangan ke Afrika. Mereka membuka karya-karya baru dan menerima pemuda-pemudi lokal untuk bergabung dalam kongregasi/taretkat. Bermisionaris ke Afrika bukan lagi monopoli kongregasi/tarekat yang berasal dari Eropa, tetapi dari luar Eropa dan dari Afrika sendiri. Kenya sebagai bagian dari Afrika juga mengalami perkembangan di mana semakin banyak penduduk lokal bergabung dalam hidup membiara dan kehadiran tarekat-tarekat baru dari Asia dan Amerika Latin termasuk dari Indonesia (Suster PRR) dari Philipina dan India.

Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus mulai bermisi di Kenya pada tahun 1958. Pada akhir 1960-an dan 1970-an mengalami perkembangan signifikan di mana cukup banyak frater Belanda berkarya di Kenya dan komunitas-komunitas baru dibuka di beberapa tempat. Pada awal tahun 1990-an para frater Belanda mulai meninggalkan karya di Kenya dan terakhir fr. Hans Wennekes kembali  ke Nederland pada September 2017.

Kehadiran frater Indonesia tahun 2003 memberi harapan baru untuk melanjutkan misi di Kenya. Apalagi pada saat itu fr. Hans sendirian karena wafatnya fr. Philips. Harapan dan cita-cita  keberlangsungan misi di Kenya terbuka lebar. Akan tetapi melihat perkembangan selama 15 tahun bermisi, belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Frater Indonesia belum beranjak dari Lodwar sebagai tempat pijak awal berkarya misi di Kenya.

Akankah Lodwar menjadi tempat pijak terakhir pelayanan Kongregasi Frater-Frater Bunda Hati Kudus di Kenya? Mengapa belum ada kemajuan selama 15 tahun berkarya di Kenya? Mengapa 13 orang frater yang pernah bermisi ke Kenya, sebanyak 10 orang frater telah kembali ke Indonesia dan hanya 3 orang frater bertahan di Kenya? Mengapa yang kembali lebih banyak dari yang bertahan?

Apakah kita memiliki policy yang jelas untuk menyeleksi para calon misionaris? Apakah kita memiliki prosedur yang jelas tentang mekanisme persiapan calon misionaris? Apakah kita memiliki strategic planning bermisi, yang mana dapat membantu Dewan Pimpinan Umum dalam hal merencanakan, monitoring dan mengevaluasi sehingga Dewan Pimpinan Umum dapat mengambil keputusan dan kebijakan yang tepat dalam melaksanakan misi di Kenya? Apakah para frater di Indonesia merasa bahwa misi di Kenya sudah menjadi bagian pelayanan para frater Indonesia ataukah masih berpandangan bahwa misi di Kenya hanya untuk sekelompok frater yang mau berpetualang?

Misi di Kenya adalah misi nyata, dan menjadi tanggung jawab para frater Indonesia. Hanya para frater Indonesia dapat melanjutkan dan mempertahankan keberlangsungan misi di Kenya.

Tantangan

Tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pengabdian di tanah misi, antara lain:

  • Bahasa. Kenya memiliki dua bahasa nasional dan bahasa daerah lainnya. Bahasa Inggris dan Kiswahili adalah dua bahasa nasional yang dipakai. Para frater mengalami kendala untuk menyesuaikan diri karena hal bahasa ditambah lagi sulit untuk memahami bahasa Turkana, tempat para frater berkarya. Jadi, dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk bisa beradaptasi sepenuhnya.
  • Budaya. Kenya (Afrika) dan Indonesia (Asia) adalah dua negara yang berbeda dengan latar belakang budaya yang sedikit berbeda pula. Hal ini membuat para frater sulit untuk bekerja dan memahami karakter tiap individu di mana para frater bekerja.
  • Muzungu (orang kulit putih). Orang kulit putih biasa dipanggil Muzungu dan para frater juga berkulit putih. Di Kenya dan Turkana pada khususnya melihat para frater sebagai muzungu yang mana hal ini identik dengan orang yang memiliki uang. Jadi para frater terkadang mengalami kesulitan dalam menghadapi orang-orang yang selalu datang untuk meminta uang.
  • Pola pikir (Mind set). Para frater terkadang datang membawa pola pikir dari Indonesia dan ingin diterapkan di tanah misi. Hal ini cukup baik untuk perubahan dan mendidik orang yang dilayani. Namun, terkadang para frater terlalu memiliki idealisme yang tinggi sehingga jika orang yang dilayani tidak berubah atau mengikuti pola pikir para frater, hal ini menjadi kendala dan membuat para frater selalu berpikir negatif atas masyarakat yang dilayani.
  • Keuangan. Para frater mengangani proyek di bawah keuskupan, terkadang keuskupan tidak terlalu memperhatikan atau mendanai proyek yang dijalankan sehingga membuat para frater harus berjuang sendiri mencari dana untuk menjalankan proyek yang dijalankan.
  • Jumlah anggota. Sejauh ini jumlah anggota di komunitas Kenya hanya berkisar dari dua orang frater dan lima frater. Hanya pada tahun 2013-2015 ada lima frater di komunitas Lodwar. Hal ini cukup mempengaruhi kehidupan doa, komunitas, dan karya yang mana tidak ada penggantian atau saling membantu satu sama lain sehingga semuanya bekerja full time.

Hal-hal Positif

Hal-hal yang baik yang membuat masyarakat dan keuskupan benilai positif terhadap kinerja para frater, antara lain:

  • Komitmen. Para frater memiliki komitmen untuk melayani orang di Turkana, para frater melayani tanpa pamrih dan tidak memilah satu sama lainnya serta selalu siap sedia jika dibutuhkan.
  • Skill dan knowledge. Para frater memiliki skill dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada masyarakat tanpa ada imbalan, jadi diberikan secara free.
  • Ramah dan baik hati. Masyarakat dan keuskupan melihat para frater di sini sangat ramah dan melayani dengan sepenuh hati, selalu mendengarkan dan berusaha mencari jalan keluar.
  • Gembira dan bersemangat dalam pelayanan. Kami bertiga sangat bangga bisa mengambil bagian dalam karya perutusan kongregasi di Kenya. Di tengah tantangan-tantangan seperti disebutkan di atas, kami mencintai tugas perutusan yang kami terima dari kongregasi. Kami melaksanakan tugas perutusan dengan penuh tanggung jawab sebagai bentuk kesaksian hidup Frater Bunda Hati Kudus. Kegembiraan dalam pelayanan membuat kami merasa bahagia dan tetap bertahan dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam tugas pelayanan. Kami bertiga sepakat untuk terus berkarya di Kenya dan belum pernah berpikir untuk kembali ke Indonesia. Kami berharap kesetiaan dan ketabahan yang kami perjuangkan di tanah misi didukung oleh semua frater dengan terus melanjutkan karya perutusan di Kenya.

Membangun Hidup Rohani

Dalam membangun hidup rohani, para frater di Lodwar terus berjuang untuk terlibat aktif dalam mengikuti doa komunitas, menghadiri ekaristi dan rekoleksi bersama dengan kaum religius deanery level.  Juga menghadiri  rekoleksi bersama dalam kelompok religius brothers di Keuskupan Lodwar. Doa komunitas kadang mengalami tantangan, terutama setelah kepergian fr. Hieronimus dan mantan fr. Ericson. Komunitas kecil (2 orang) kurang sehat dalam pengembangan hidup rohani dan hidup bersama para frater. Setelah kehadiran fr. Efrem ada perubahan dan kita berharap ke depan perlu mempertimbangkan jumlah anggota dalam sebuah komunitas.

Pendekatan Pengembangan Pelayanan

Ada dua pendekatan dalam pengembangan karya ke depan, yaitu:

  • Para  Frater BHK menangani karya-karya milik keuskupan. Dengan mengambil bagian secara langsung dalam karya keuskupan, kongregasi lebih mudah diterima dan mudah masuk dalam keuskupan tersebut, dibandingkan dengan membangun karya sendiri. Hal ini akan membantu kita untuk mengetahui kebutuhan keuskupan setempat dan dapat membantu kita untuk menentukan bentuk  pelayanan kita ke depan dalam keuskupan tersebut.
  • Para frater membuka karya sendiri. Setelah kita memahami kebutuhan keuskupan lokal, kongregasi boleh memikirkan dan merencanakan karya pelayanan kita sendiri. Memiliki karya sendiri akan sangat membantu keberlangsungan kongregasi ke depan. Bidang pelayanan itu tentu selaras dengan visi dan misi kongregasi dan kebutuhan-kebutuhan keuskupan lokal.

Peluang ke Depan

Keuskupan Bungoma menantikan kehadiran para frater Bunda Hati Kudus. Surat undangan Bapa Uskup beberapa tahun lalu sebagai tanda bahwa kehadiran frater Bunda Hati Kudus dibutuhkan di Kenya. Bapa Uskup menawarkan kepada para frater untuk mendirikan sekolah sendiri. Sebelum mendirikan sekolah, para frater bekerja di lembaga keuskupan. Wilayah keuskupan Bungoma sangat cocok untuk lahan pertanian di mana para frater bisa membuka perkebunan untuk membantu dan menunjang pelayanan kita ke depan. Di keuskupan Bungoma cukup banyak pemuda-pemudi yang bergabung dalam hidup membiara. Ada beberapa kongregasi mendirikan tempat pembinaan seperti postulat dan novisiat di keuskupan Bungoma.

Fr. M. Alexius Luna, BHK

(Penulis adalah seorang misionaris, tinggal di Frateran Bunda Hati Kudus, Lodwar, Kenya-Afrika)

About fraterbhk

Check Also

Berkat Doa Guru Agama

Oleh Eka Budianta, Sastrawan, tinggal di Jakarta Hujan turun sepanjang siang membuat malam basah dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *