Home / Ruang Gagasan / Perziarahan yang Bermakna

Perziarahan yang Bermakna

“Hidup yang tidak pernah direfleksikaan, tidak layak untuk dihidupi.” (Socrates)

Tanpa terasa, kini kita telah berada di penghujung tahun 2018 dan akan segera menyonsong awal tahun baru 2019. Banyak peristiwa atau pengalaman, suka-duka, senang-susah, gembira-sedih, untung-malang, sukses-gagal, konsolasi-desolasi,  dll, yang telah menghiasi, sekaligus menjadi bagian dari sejarah hidup kita. Lebih dari itu, bahwa peristiwa atau pengalaman itu, telah menjadikan kita lebih dewasa atau matang sebagai pribadi yang sedang bertumbuh dan berkembang, baik sebagai makhluk jasmani maupun makhluk rohani.

Itulah harapannya, bahwa selama tahun 2018, kita diharapkan berubah. Namun, perubahan yang dimaksudkan tentunya adalah perubahan yang positif. Artinya seiring dengan perubahan waktu, kita diharapkan turut berubah di dalamnya, yang dalam ungkapan latin “tempora mutantur et nos mutamur in illis”. Ada beberapa poin perubahan yang diharapkan, yakni personality, mindset, attitude, behaviour, speech, dan action.

  • Personality

Kata personality berasal dari kata latin “persona”, yang artinya topeng atau kedok, yakni tutup muka yang sering dipakai oleh pemain-pemain panggung, dengan maksud untuk menggambarkan perilaku, watak atau pribadi seseorang. Bagi bangsa Roma, “persona”, berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain. Pertanyaanya ialah apakah kita selama ini selalu bermain peran dengan memakai topeng dalam komunitas, biara/tarekat? Apa topeng komunitas, biara/tarekat itu? Topeng komunitas, biara/tarekat dalam hal ini ialah hidup dan ada di komunitas, biara/tarekat, tetapi tidak mencerminkan hidup sebagai seorang religius. Saya teringat sentilan Romo Hudi, Pr saat rapat kerja para kepala sekolah beberapa waktu yang lalu, beliau mengatakan bahwa sebutan seorang hartawan, jutawan berarti  memiliki banyak harta, uang. Sedangkan kita disebut sebagai seorang rohaniwan, berarti kita harusnya memiliki kekayaan rohani yang lebih, dari mereka yang tidak menyandang dengan sebutan itu.

Jadi, jika kita ada di komunitas, biara/tarekat, tetapi kita ogah, lalai, malas, abaikan terhadap hidup rohani, hidup doa kita, atau kita tidak pelihara, rawat, jaga hidup rohani, hidup doa kita yang akhirnya kering, gersang, dan tandus, maka kita telah memakai topeng komunitas, biara/tarekat. Artinya kita boleh ada dan hidup secara fisik di komunitas, biara/tarekat, tetapi kita tidak mencerminkan personality sebagai seorang religius, yang menomorsatukan hidup rohani, hidup doa, karena itulah kelebihan dan kekayaan kita sebagai seorang rohaniwan, religius. Maka, sebelum kita memasuki tahun yang baru, ada baiknya kita berbenah, memperbaiki diri, agar di tahun baru kita sungguh lahir sebagai manusia religius yang baru. Karena hanya dengan itu, tahun baru memiliki makna.

  • Mindset

Mindset adalah pola pikir yang memengaruhi pola kerja. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh pola pikirnya. Seseorang melakukan sesuatu karena didorong dan digerakkan oleh pola pikirnya. Jadi, kalau kita mau merubah perilaku seseorang ataupun diri kita,  maka pola pikir kita harus diubah lebih dahulu. Sebab, jika pola pikir kita atau sesama berubah, maka perilaku kita atau sesama pasti berubah! Hal demikian dipertegas oleh Plato. Dia berujar “Sumber setiap perilaku adalah pikiran. Dengan pikiran kita bisa maju atau mundur. Dengan pikiran kita bisa bahagia atau sengsara.” Atau pada kesempatan lain, Plato berkata, “Ubah pikiran anda, niscaya kehidupan anda berubah.” Sedangkan, Socrates berkata, ”Dengan pikiran seseorang bisa menjadikan dunia-nya berbunga-bunga atau berduri-duri.” Bagaimana dengan kita? Tentunya, kita juga harus ubah mindset ataupun paradigma kita tentang sesama dan lingkungannya, sehingga kita tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang clear minded(berpikiran jernih), positive thinking (berpikiran positif), dan akhirnya  open minded (berpikiran terbuka).

Oleh karena itu, di penghujung tahun 2018 ini, mari ubah mindset, pikiran kita, sebab akan menjadi kata-kata kita, ubah kata-kata kita, sebab akan menjadi tindakan kita, ubah tindakan kita, sebab akan menjadi kebiasaan kita, ubah kebiasaan kita, sebab akan menjadi sifat kita, ubah sifat kita, sebab akan menjadi karakter kita, ubah karakter kita, sebab akan menjadi siapa kita.

  • Attitude

Attitude adalah sikap, tingkah laku atau perilaku seseorang dalam berinteraksi ataupun berkomunikasi dengan sesama. Attitude adalah apa yang tampak di luar (bungkusannya), sedangkan isinya adalah hati nurani. Jadi, attitude bekerja dengan hati nurani. Dengan demikian, jika ingin membawa diri atau bersikap yang baik, maka bersihkan hati nurani. Ingat, Tuhan bersabda, “Karena dari hati, timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu, dan hujat.” (Mat.15: 19; Mrk. 7:21). Jadi, dari hati keluar menjadi sikap, perilaku, tutur kata dan dalam tindakan.

Maka, mari jaga hati kita, sebab kelak akan menjadi sikap kita. Dan ada ungkapan, It’s never late to mend, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu, sebelum kita memasuki tahun yang baru, ada baiknya kita berbenah diri, memperbaiki diri, agar di tahun baru kita lahir sebagai manusia baru. Maka dalam arti inilah, tahun baru memiliki arti bagi kita. Sebab, jika di tahun baru attitude kita tetap manusia lama, maka tahun baru tidak bermakna apa-apa. Sebab tahun boleh baru, tetapi attitude kita tetaplah manusia lama. Itu artinya, tahun baru hanyalah sekedar ritus tanpa makna.

  • Behaviour

Behaviour adalah tingkah laku kita sehari-hari. Kadang-kadang, perilaku ini dibentuk oleh latar belakang keluarga, pendidikan, atau media apapun yang kita konsumsi. Namun, behaviour juga merupakan ekspresi dari karakter seseorang. Lalu bagaimana caranya membentuk behaviour yang baik? Selalu dimulai dengan memiliki hati yang baik. Hati yang baik adalah hati yang mau dibentuk dan dididik.  Hati yang baik ibarat TANAH YANG BAIK. Ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang 30 kali lipat, ada juga yang 60 kali lipat, bahkan ada yang 100 kali lipat (Bdk. Mat 13:1-8; Mrk 4: 1-9; Luk 8: 4-8). Seperti tanah yang subur, hati yang baik perlu dipupuk, disiangi, dan disirami. Jangan diisi dengan sampah plastik, sebab tidak bisa hancur! Kalau hati kita baik, pikiran, emosi, jiwa kita juga turut menjadi positif dan hal ini akan tercermin dalam pikiran kita. Jadi, behaviour ada kaitan erat dengan brain, sebagaimana yang ditegaskan oleh Plato.

Dan barangkali juga kita masih ingat dengan istilah 3B (Beauty, Brain, dan Behaviour). Beauty(cantik), tidak hanya cantik dalam arti wajah yang cantik di luar, tetapi juga hati yang cantik, baik inner beauty di dalam. Brain(otak), bahwa Tuhan mendandani kita manusia tidak hanya dengan wajah yang cantik dan tampan, melainkan juga dengan otak atau akal budi, untuk kita berpikir dan berpengetahuan yang luas. Sebab, dengan pengetahuan yang dimiliki atau suatu keahlian, akan memancing inner beauty untuk dipancarkan. Akhirnya, behaviour sesungguhnya merupakan buah dari beauty dan brain.  Jika beauty dan brain-nya baik, pasti behaviour-nya juga baik.

Maka mari di penghujung tahun 2018 ini, kita tidak hanya mendandani yang lahiriah saja, melainkan juga yang batiniah juga, dan banyaklah membaca, belajar, sehingga kita memiliki pengetahuan atau wawasan yang luas. Sebab, dengan pengetahuan yang luas, maka behaviour (perilaku) kita, akan terbentuk dengan baik. Tuhan bersabda, “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Mat 11:29). Apalagi Natal tahun 2018 ini, mengangkat tema “Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita (Bdk. 1 Kor 1:30). Maka sekali lagi, mari kita belajar pada Yesus yang adalah Guru, Kebenaran dan Hidup kita. Kita belajar, bagaimana cara hidup-Nya, sikap, perilaku, tutur kata, dan tindakan-Nya, sehingga kita menjadi Alter Christus.

  • Speech

Speech artinya perkataan (yang diucapkan); kata yang diujarkan. Dan setiap kata-kata atau ucapan kita, tentunya akan menggambarkan kualitas diri kita. Semakin sopan kita dalam berkata-kata, maka kualitas diri kita baik dan sebaliknya. Juga setiap kata-kata atau ucapan memiliki kekuatan yang bisa menyembuhkan atau melumpuhkan. Ingat seorang perwira yang datang kepada Yesus. Katanya, “Tuan, janganlah susah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Luk 7:6-10). Juga barangkali kita pernah mendengar ungkapan ini “mulutmu harimaumu”, yang artinya segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu, akan dapat merugikan diri kita sendiri dan juga sesama.

Ingat pula, bahwa kata-kata adalah senjata yang bisa melumpuhkan sesama, saat kita mempermalukan sesama di depan umum. Atau juga membuat hati dan perasaan sesama terluka lantaran kata atau lisan yang kita ucapkan. Setiap kata atau lisan yang kita ucapkan baik menurut kita, belum tentu baik menurut orang lain. Oleh itu, mari jaga lisan kita dan baiklah kita kedepankan think before speak, berpikir sebelum berbicara. Maka, mari di penghujung tahun 2018 ini, manakala kita kurang kontrol dalam lisan kita. Karena itu, ada baiknya kita menyadari setiap ucapan atau lisan yang keluar dari mulut kita, harus diolah dan ditata dengan baik.

  • Action

Action adalah suatu langkah/perbuatan yang diambil atau dilakukan seseorang. Action merupakan ungkapan dari personality, attitude, behaviour, dan speech. Atau dengan kata lain, jika kepribadian, sikap, perilaku, dan tutur kata kita baik, maka tindakan kita akan baik. Kita juga pernah mendengar ungkapan NATO: No Action, Talk Only, artinya, hanya bicara, tetapi tidak berbuat. Itulah gambaran orang yang hanya pandai berbicara, berteori, tetapi nol dalam perbuatan atau tindakan. Dan dewasa ini, tak terkecuali dalam kehidupan membiara, tarekat dan dalam hidup berkomunitas, tak jarang kita menemukan pribadi-pribadi yang demikian. Maka, mari sekali lagi di penghujung tahun 2018 ini, kita perlu berbenah diri, agar antara teori dan praktek, antara bicara dan tindakan harus sinkron, sejalan.

Akhirnya, saya tutup dengan ungkapan dari David R. Hawkins, “Kita mengubah dunia bukan dengan apa yang kita katakan atau lakukan, tetapi sebagai konsekuensi dari telah menjadi apa kita.” Karena itu, apapun adanya kita saat ini, tidak lain adalah kumpulan dari proses belajar setiap hari. Karena itu pula, James Thurber berkata, “Jangan melihat masa lampau dengan penyesalan, jangan pula melihat masa depan dengan ketakutan, tetapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran.” Dan bila kita berdiri tegar sampai hari ini, itu bukan karena kuat dan hebatnya kita, semua karena CINTA Tuhan. Oleh karena itu, seorang penulis rohani pernah menulis, tidak ada kata yang pantas kita ucapkan kepada Tuhan, selain kata SYUKUR. Syukur, bahwa kita boleh melangkah sampai di penghujung tahun 2018. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.

Sekedar untuk disadari bahwa ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:  waktu, ucapan, dan kesempatan.  Ada 3 hal yang membuat kita sukses: tekad, kemauan, dan fokus. Dan ada 3 hal dalam hidup yang pasti: tua, sakit, dan kematian. Persiapkanlah dengan sebaik-baiknya. Mari kita RENUNGKAN sembari BERSYUKUR.

Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

About fraterbhk

Check Also

Pendidikan Karakter bagi Generasi Milenial

Keberadaan dan peradaban manusia sejak semula tidak terpisah dari pembentukan karakter yang berdampak positif terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *