Home / Sharing Inspirasi / Karya Misi para Frater BHK di Kenya

Karya Misi para Frater BHK di Kenya

Gambaran Umum tentang Kenya

Kenya adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berbatasan dengan Etiopia di Utara, Somalia di Timur, Tanzania di Selatan, Uganda di Barat, Sudan di Barat Laut, serta dibatasi Samudera Hindia di bagian Tenggara. Negara Kenya terbagi atas 47 wilayah pemerintahan daerah. Turkana termasuk salah satu wilayah pemerintahan daerah dengan Lodwar sebagai ibu kotanya. Bentuk negaranya adalah Republik dengan seorang kepala Negara berkedudukan di Nairobi. Luasnya diperkirakan sekitar 582.644 km2.

Pada Februari 2018, jumlah penduduk Kenya berjumlah 50,512,294 jiwa. Pertumbuhan penduduknya sangat cepat dan penyebaran penduduknya tidak merata, yang paling padat adalah kota besar seperti Nairobi dan Mombasa. Penduduk Negara Kenya terdiri atas beraneka ragam suku bangsa. Namun demikian, secara garis besarnya dapat dibagi menjadi empat kelompok suku yaitu sebagai berikut:

  • Suku Kikuyu. Suku ini merupakan suku bangsa terbesar di Kenya. Sebagian besar suku Kikuyu menempati kota Nairobi bagian utara. Suku Kikuyu menganggap Gunung Kenya sebagai benda keramat. Dewa mereka, yaitu Dewa Ngai, bersemayam di gunung Kenya.
  • Suku Lou. Suku ini menempati daerah di pesisir DanauVictoria dan di kawasan Nyanza.
  • Suku Luhya. Suku ini merupakan suku minoritas yang menempati daerah-daerah pedalaman.
  • Suku Masai. Suku ini hidup berpindah-pindah atau nomaden bersama dengan hewan ternaknya. Masyarakat Masai biasanya memakai pakaian yang terbuat dari kulit. Mereka terkadang memakai baju luar mirip jubah yang dibuat dari bahan sprei atau selimut.
  • Di samping suku-suku di atas masih ada suku-suku kecil lain seperti suku Kikamba, Bukusu, Kalenjin, Pokot, Turkana, Bantu, dan sebagainya.

Kegiatan ekonomi di Kenya meliputi:

  • Pertanian. Hasil pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Kenya. Hasil-hasil pertaniannya antara lain padi, tebu, gandum, buah-buahan, sayur-sayuran, kopi, kapas, dan jagung.
  • Peternakan. Kenya merupakan salah satu negara penghasil susu di benua Afrika. Hewan-hewan yang diternakkan antara lain biri-biri, kambing, sapi, domba, dan unta.
  • Pertambangan. Hasil tambang Negara Kenya memberi nilai tambah devisa bagi negaranya. Barang-barang tambangnya antara lain batu kapur, emas, tembaga, dan minyak bumi yang baru ditemukan di Turkana.
  • Perindustrian. Sektor industri Negara Kenya baru menyumbang seperlima pendapatan domestik bruto dengan menyerap tenaga kerja 10 %. Hasil industrinya antara lain semen, tekstil, barang kimia, makanan kaleng, kendaraan bermotor, dan gula tebu.
  • Perdagangan. Barang-barang ekspornya yaitu teh, kopi, sisal, gula, serbuk soda, dan semen. Barang-barang impornya yaitu bahan kimia, pakaian, alat rumah tangga, minyak mentah, mesin-mesin pertanian, dan mobil.
  • Pariwisata. Daerah yang menjadi tempat pariwisata umumnya berupa wisata alam.
  • Kebudayaan.Kebudayaan Kenya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di Afrika utara dan barat. Untuk mengatasinya, pemerintah mengembangkan sektor pendidikan dengan menerapkan wajib belajar.

Kenya mendapatkan kemerdekaannya dari Inggris pada 1 Juni 1963. “Kenya People’s Union” kemudian menjadi satu-satunya partai politik dan memerintah sampai tahun 2002. Pada Oktober 2002, partai “National Rainbow Coalition” mendominasi pemilu. Pemilihan umum 2007 ditandai dengan kekacauan yang begitu tragis di mana kelompok dari suku yang berbeda saling membunuh, membakar, mengusir, dan mencuri milik orang lain. Pemerintahan gabungan dibentuk untuk mengakomodasi kepentingan partai yang bertengkar. Sayangnya bahwa korupsi telah mengakar dalam pemerintahan sehingga siapapun pemimpinnya tidak akan mampu memberantas penyakit ini. Ini menciptakan kemerosotan ekonomi dan kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin.

Setelah kerusuhan dan kekacauan yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda, pemerintah mengukuhkan konstitusi yang baru pada tahun 2010 setelah adanya referendum. Ini memberikan perubahan yang diharapkan oleh banyak orang di Kenya. Pemilihan umum pertama di bawah konstitusi baru dilaksanakan pada tahun 2013, terpilih Uhuru Kenyatta sebagai presiden. Kemenangan Uhuru Kenyatta ditantang oleh Raila Odinga karena Odinga menilai terjadi manipulasi suara atas kemenangan Uhuru Kenyatta. Keputusan Mahkamah Agung yang menguatkan keputusan komisi pemilihan umum, Uhuru Kenyatta sebagai pemenang.

Pemilu tahun 2017, juga menelan korban jiwa karena Raila menilai komisi pemilu memanipulasi suara untuk memenangkan kembali Uhuru Kenyatta. Demonstrasi dari berbagai daerah meluas menentang keputusan komisi pemilu. Mahkamah Agung membatalkan keputusan komisi pemilu terpilihnya Uhuru Kenyatta sebagai presiden untuk kedua kalinya dan memerintahkan kepada komisi pemilu untuk mengadakan pemilu ulang. Dalam pemilu ulang bulan Oktober 2017 Raila mengundurkan diri sebagai calon presiden dan hanya Kenyatta sebagai calon terkuat. Kenyatta terpilih kembali dan Mahkamah Agung menguatkan keputusan komisi pemilu terpilihnya Kenyatta sebagai presiden 2017-2022.

Gambaran tentang Keuskupan Lodwar

Misi Katolik pertama di Keuskupan Lodwar dimulai pada tahun 1961 dengan kedatangan dua orang imam dari Kongregasi St. Patrick Missionaries.  Sejak saat itu, gereja memainkan peranan yang sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan orang-orang Turkana. Di samping menyebarkan berita gembira Injil, gereja menaruh perhatiannya juga dengan kehidupan umatnya dalam bidang-bidang yang lain. Peranan pemerintah masih belum menyentuh kehidupan orang Turkana yang masih berpindah-pindah.

Pada 8 Desember 2012, Gereja merayakan peringatan 50 tahun beradanya di Turkana.  Kehadiran Keuskupan Lodwar di mata orang Turkana telah membawa perubahan yang sangat drastis dalam arti gereja telah merubah pola pikir dan gaya hidup orang-orang Turkana. Perkembangan ini sangat terasa hampir di semua aspek kehidupan mulai dari faktor pendidikan, kesehatan, pengembangan kesejahteraan wanita, komunikasi, penyediaan air, bantuan makanan, kepemudaan dan bidang-bidang lainnya. Karya-karya ini telah merubah wajah Turkana dari daerah yang paling tidak berkembang menjadi daerah yang mulai bertumbuh.

Karya-karya gereja ini didukung penuh oleh para donatur dari negara-negara Eropa dan Amerika. Boleh dikatakan bahwa 99 % proyek di Keuskupan Lodwar bergantung penuh pada kerelaan hati para donatur. Akhir-akhir ini sangat sulit untuk mendapatkan donatur baru untuk membiayai karya-karya yang ditangani oleh keuskupan. Ini menjadi keprihatinan Uskup Dominic yang mulai meletakkan dasar agar gereja menjadi mandiri dengan berbagai usaha untuk mendatangkan income sendiri seperti membangun sekolah-sekolah milik keuskupan, tiap tahun diadakan family day di mana tiap paroki mengumpulkan dana untuk pengembangan karya kerasulan keuskupan. Keuskupan Lodwar memiliki 29 paroki dengan beberapa kongregasi yang terdiri dari Imam praja keuskupan, Imam-Imam misionaris (dari Kenya dan dari luar), serta kongregasi suster dan bruder. Kehadiran para religius di Keuskupan memberikan warna tersendiri dalam pelayanan kasih kepada orang yang paling membutuhkan.

Karya para Frater BHK di Lodwar Periode 2012-2018

Para frater BHK menangani tujuh karya di bawah Keuskupan Lodwar di antaranya, Nadirkonyen Chatolic Centre yang menangani anak-anak jalanan, Youth programme (2012-Februari 2015), tenaga ICT DOL, (Augustus 2013-Desember 2015), dan empat karya lainnya di bawah kepemimpinan Fr. Donatus. Keempat karya itu adalah Anna Nanjala yang menyiapkan sarana belajar untuk anak-anak, DOL Cafetaria yang menyediakan catering untuk staf dioses dan juga untuk orang luar, DOL St. Teresa Ellye Spring menawarkan catering dan juga akomodasi, dan DOL fuel station.

1). NADIRKONYEN CATHOLIC CENTRE 2012-2018

Nadirkonyen Centre didirikan pada 1 Agustus 1991 oleh Fr. Hans Wennekes. Sejak saat berdirinya, fr. Hans adalah Koordinator sampai September 2017. Kembalinya Fr. Hans ke Belanda menimbulkan pertanyaan akan masa depan Nadirkonyen terutama akan sumber dana pengelolaan Nadirkonyen. Apalagi saat kepergian fr. Hans, Nadirkonyen belum mendapatkan sponsor. Sejak berdirinya, beberapa sponsor pernah membiayai sebagian besar biaya operasional Nadirkonyen seperti Cordait dan Terre des Hommes. Beberapa dampak akibat ketiadaan sponsor antara lain banyak program yang dijalankan sebelumnya, dihentikan. Jumlah anak yang direhabilitasi dari 65 anak menurun ke 40 anak tiap tahun. Juga terjadi pengurangan tenaga staf. Dana cadangan semakin berkurang karena seluruh biaya operasional berasal dari dana cadangan. Sementara dukungan dioses dan dari pemerintah sangat terbatas.

Nadirkonyen merupakan tempat rehabilitasi anak-anak jalanan dan anak-anak yang dieksploitasi. Masa rehabilitasi selama satu tahun dan sesudahnya anak-anak mengikuti sekolah formal. Anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian dari orang tua akan mengikuti “day schools” dan anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya akan mengikuti “boarding schools”. Staf mengadakan school visits sekali seminggu untuk memantau perkembangan anak di sekolah. Selama liburan anak-anak datang ke Nadirkonyen untuk mengikuti kegiatan liburan.

Sejak berdirinya tercatat sejumlah cerita-cerita sukses yang patut kita share-kan dalam ulasan ini. (February 2018)

  • Sejumlah 1441 anak-anak yang telah menikmati atau mendapatkan pelayanan dari Nadirkonyen.
  • Sebanyak 38 beneficiaries telah menyelesaikan studi di perguruan tinggi certificate/diploma/sarjana dan mereka telah bekerja di kantor pemerintahan dan sebagian  bekerja di NGO’s.
  • Sebanyak 43 residents, 151 masih di primary school, secondary 15 students, 6 students masih menunggu kesempatan untuk  melanjutkan studi ke diploma/university, 3 students masih belajar di College/university. Total: 218 beneficiaries.  
  • Kehadiran Fr. Ericson tahun 2013 juga memberikan warna tersendiri di mana ia berhasil menyalurkan bakat terpendam anak-anak di bidang musik. Beberapa kali pertunjukan musik kepada para tamu di Nadirkonyen atau pada acara-acara khusus Nadirkonyen menyadarkan kita betapa Tuhan menganugerahkan talenta yang indah kepada anak-anak yang terpinggirkan oleh masyarakat.
  • Kehadiran Fr. Efrem di Nadirkonyen. Keahliannya di bidang komputer membantu mengurangi biaya pemeliharaan komputer di Nadirkonyen dan ia juga membantu anak-anak SMA untuk mendapatkan skill di bidang komputer. Kegiatan computer class selama liburan telah mendapatkan respon yang sangat positif dari anak-anak. Fr. Efrem juga menjadi Asisten Koordinator untuk membatu kelancaran tugas-tugas di kantor.
  • Nadirkonyen berperan sebagai “home for the homeless children, to bring hope to the hopeless children and to give a voice for the voiceless children”. Akankah tugas pelayanan yang mulia ini bertahan? Jawabannya tergantung pada kita semua dan terutama kebijakan Dewan Pimpinan Umum terpilih September 2018.

2). YOUTH OFFICE  2012-2014

Fr. Maksimus menggantikan fr. Vinsensius yang terpilih sebagai anggota Dewan Provinsi Indonesia dalam kapitel 2012. Fr. Maksimus mengabdi sebagai Koordinator kepemudaan selama 2 tahun terhitung Januari 2013-Februari 2015. Dioses cukup bangga dengan kehadiran kedua frater yang memimpin Youth Department.

3). ANNA NANJALA EDUCATION CENTRE 2012-2018

Dalam tahun 2012-2018, tidak banyak kegiatan yang dilaksanakan di Anna Nanjala Education Centre. Hal ini terjadi karena sejak 2010, unit ini sudah tidak mendapatkan sponsor untuk menjalankan aktivitas. Kegiatan yang masih dijalankan sampai sekarang hanya sebatas penyediaan fasilitas belajar untuk anak-anak.

4). DOL CAFETARIA

DOL cafetaria menyediakan catering untuk staf dioses dan juga catering untuk peserta workshop di Anna Nanjala hall dan melayani pesanan catering dari luar. Tujuan proyek ini untuk membantu Anna Nanjala dan juga dioses untuk membiayai aktivitas yang tidak mendapatkan sponsor.

5). DOL ST. TERESA ELLYE SPRING CAMP

Ellye spring adalah tempat wisata lokal dan juga manca negara. Ellye spring adalah bagian dari danau Turkana. Banyak orang berkunjung ke Ellye pada akhir pekan dan pada musim liburan. Jaraknya sekitar 60 km dari Lodwar.

Masyarakat setempat menghibahkan sebidang tanah kepada dioses untuk dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Sebelumnya tempat ini dikelola oleh para suster tetapi tidak memberikan keuntungan, sehingga diberikan kepada para frater untuk mengelolanya. Diharapkan ke depan DOL St. Teresa Ellye Spring camp dapat memberikan profit sehingga dapat membantu proyek yang lain di dioses.

6). DOL FUEL STATION

Fuel station dibangun pada zaman uskup John Mahon. Tujuannya untuk menyediakan fuel untuk kebutuhan dioses dan juga untuk kebutuhan masyarakat luas. Dalam perkembangan selanjutnya usaha fuel station ini cukup berhasil dan profitnya dimanfaatkan untuk membantu karya kerasulan keuskupan. Dalam beberapa tahun terakhir mengalami kerugian sehingga Bapa Uskup Lodwar meminta Fr. Donatus untuk membenahi kembali manajemen di fuel station.

Kebijaksanaan Dewan tentang Karya di Lodwar

Frater-Frater yang berkerja di Kenya, pertama-tama ingin menyampaikan terima kasih atas perhatian Dewan Pimpinan Umum terhadap kehidupan dan karya para frater di Keuskupan Lodwar. Dukungan moril dari Dewan Pimpinan Umum bisa dilihat melalui kunjungan resmi ke Keuskupan Lodwar sekaligus mendapatkan pengalaman nyata di lapangan. Selama masa kepemimpinan 2012-2018 teradapat beberapa kali kunjungan Dewan Pimpinan Umum. Pertanyaannya, sejauh mana kunjungan-kunjungan ini menghasilkan buah dan kebijakan tentang misi di Kenya yang menjadi tanggung-jawab Dewan Pimpinan Umum. Komunitas di Lodwar (BHK dan Kanamkemer) merasa bahwa hasil dari kunjungan ini tidak terlalu berdampak positif terhadap karya kita di Lodwar. Ini bisa dirangkum dalam beberapa poin:

  • Belum ada rencana yang jelas entah jangka pendek atau panjang terhadap karya misi kita di Kenya atau tidak ada policy yang jelas dan terpadu. Nampaknya, Dewan Pimpinan Umum mendelegasikan tugas ini kepada Dewan Provinsi Indonesia dalam mempersiapkan tenaga yang bisa dikirim ke Kenya. Tugas ini dijabarkan dengan persiapan dan pengiriman Fr. Maksimus, Fr. Ericson, Fr. Hieronimus dan Fr. Efrem ke Kenya. Sayangnya, dari empat frater yang dikirim, hanya tinggal fr. Efrem yang masih bekerja di Lodwar.
  • Perlu adanya “need assessment” dalam arti Dewan mempelajari kebutuhan di lapangan dan mempersiapkan tenaga sesuai dengan tuntutan dari lapangan.
  • Kunjungan DPU ke Keuskupan Bungoma dan surat Bapa Uskup Bungoma kepada Dewan Pimpinan Umum dengan permintaan untuk membuka komunitas BHK di Bungoma, belum mendapatkan tanggapan positif dari Kongregasi.

Harapan-harapan

  • Dewan Pimpinan Umum yang baru perlu menjabarkan policy yang jelas tentang karya misi di Kenya entah jangka pendek atau jangka panjangnya.
  • Frater yang dikirim hendaknya memiliki keinginan dan semangat untuk mengabdi di tanah misi untuk menghilangkan kesan “coba-coba”.
  • Perlu persiapan bahasa dan keterampilan yang bisa dioptimalkan di tanah misi.
  • Indonesia harus mandiri dalam hal finansial. Ketidakmandirian Indonesia hanya menciptakan ketidak-pastian akan keberlangsungan misi di Kenya.
  • Kongregasi perlu menanggapi secara positif atas undangan Bapa Uskup Bungoma dalam rangka pengembangan karya misi di Kenya.

Tantangan-tantangan

  • Ada empat orang frater dikirim ke Kenya dalam periode 2012-2018. Tiga dari empat orang frater tersebut mengundurkan diri dari misi di Kenya. Pengunduran diri mereka telah menciptakan ketidakstabilan dalam pengembangan misi di Kenya ke depan.
  • Tantangan budaya dan bahasa. Sebagian para frater bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya baru dan bahasa yang dipakai setempat. Tapi ada juga yang sulit mengatasi tantangan ini yang berdampak pada  ketidakpastian kelanjutan misi Kenya.
  • Pengunduran Terre des Hommes sebagai sponsor utama Nadirkonyen pada akhir tahun 2015 menguras dana cadangan untuk membiayai operasional Nadirkonyen dan akan menciptakan ketidakpastian kelanjutan Nadirkonyen ke depan.

Para frater yang bermisi di Kenya (2012-2018)

  • Fr. Maximus John (Januari 2013-Februari 2015) Coordinator Youth Programme
  • Fr. Ericson (6 April 2013-17 Maret 2016) bekerja di Nadirkonyen dan Queen of Peace Primary School).
  • Fr. Hieronimus (18 Juli 2013-10 Januari 2015) ICT Diocese of Lodwar
  • Fr. Efrem (29 September 2017–sekarang) Assistant Programme Coordinator Nadirkonyen Centre.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat dibuat kesimpulan bahwa pengimplementasian kebijakan tentang karya di Kenya dalam masa kepemimpinan 2012-2018 belum memadai atau tidak terlalu optimal. Ini menjadi alasan mengapa komunitas di Lodwar tidak memberikan suatu analisis terpadu tentang karya di Kenya kepada Dewan Pimpinan Umum, tetapi lebih memilih untuk membagikan pengalaman tentang karya di Kenya. Dalam kebijakan Dewan Pimpinan Umum, tugas ini dilimpahkan kepada Dewan Provinsi yang notabene tidak menerjemahkan kebijakan ini dalam kegiatan nyata. Dualisme tanggung jawab ini diharapkan bisa dicairkan dalam kepemimpinan dewan yang baru.

Misi di Kenya perlu mendapatkan perhatian serius dari DPU untuk pengembangan ke depan. Tanpa ada program kerja yang jelas hanya akan menciptakan ketidakpastian dan keragu-raguan akan keberlangsungan misi di Kenya. Para frater BHK di Lodwar mendukung segala kebijakan DPU dan berperan aktif dalam mengembangkan karya misi di Kenya. Semoga misi di Kenya terus menjadi ladang perutusan kita dan Kenya menjadi penerus cita-cita kongregasi kita.

Para Frater Komunitas BHK Lodwar

About fraterbhk

Check Also

Berkat Doa Guru Agama

Oleh Eka Budianta, Sastrawan, tinggal di Jakarta Hujan turun sepanjang siang membuat malam basah dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *