Home / Sharing Gagasan / Era Baru dengan Struktur Baru

Era Baru dengan Struktur Baru

“Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih dari yang orang lain melihat, yang melihat lebih jauh daripada yang orang lain melihat dan yang melihat sebelum orang lain melihat.” Leroy Eimes

Demikianlah ciri seorang pemimpin yang visioner yang diharapkan di zaman now, mengingat tantangan ke depan semakin berat dan kompleks, yang pasti akan dihadapi oleh setiap pemimpin. Namun, jika seorang pemimpin memiliki visi jauh ke depan, serta mampu membaca tanda-tanda  zaman, maka tentunya akan dibuatkan grand design programuntuk menjawabi dan menyikapi tantangan yang bakal dihadapi. Ingat, dunia berubah dan kita pun turut berubah di dalamnya (tempo mutantur et nos mutamur in illis). Oleh karena itu, mengingat tantangan dunia global yang semakin kompleks, maka seorang pemimpin selain dituntut menjadi seorang yang visioner, tetapi juga dituntut harus cerdas (bijaksana) dan berkarakter.Itulah menurut hemat saya, 3 kata kunci keberhasilan seseorang, siapapun yang menjadi pemimpin dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam tarekat kita.

Demikian juga harapan untuk dewan baru kongregasi dengan struktur baru, hasil Kapitel Umum 2018 yang berlangsung dari 10 September-27 September 2018. Semoga dengan terpilihnya dewan baru kongregasi serta terbentuknya struktur baru kongregasi, masa depan kongregasi memiliki prospek yang lebih baik dari sebelumnya. Apalagi dengan jumlah anggota dewan umum yang sebelumnya 3 orang menjadi 5 orang, diharapkan anggota dewan baru semakin profesional, kompeten, dan efektif dalam mengelola dan menata masa depan kongregasi. Karena itu, visioner, cerdas (bijaksana), dan berkarakter (spiritualitas hati) menjadi key note bagi para pimpinan (dewan baru) yang merupakan key person bagi keberlangsungan suatu instituasi, khususnya Kongregasi Frater-Frater BHK.

Namun demikian, dewan baru dengan struktur yang baru, perlu didukung, dengan dukungan spiritual, moril, serta sumbangan saran dan masukan yang konstruktif dari para anggota. Karena itu, perlunya sikap take and give, apapun itu. Apalagi memasuki abad 21 ini, setiap kita siapapun dan apapun predikat atau status kita, apalagi mereka yang dipercaya untuk menjadi pemimpin harus memiliki kemampuan 4C (Compassion, competence, change, dan creativity) sesuai Spiritualitas Hati. Seiring dengan itu pula, juga diperlukan kemampuan 4C yang lain, yakni Communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Jadi, seorang pemimpin harus memiliki kecakapan afeksi (hati), kecakapan profesional, kecakapan kepribadian, kecakapan sosial, dan kecakapan manajerial.

Selain itu, harus siap dan tanggap terhadap perubahan, serta selalu kreatif dan inovatif dalam menghadapi setiap perubahan. Termasuk juga kreatif dan inovatif dalam berpikir dan terobosan baru, sesuai kebutuhan zaman now. Tidak cukup dengan itu, para pemimpin dan dewan baru, harus bisa berkomunikasi dengan baik, sebab salah dalam berkomunikasi bisa mendatangkan masalah, juga harus bisa bekerja sama atau bersinergi dengan para stakeholder, dan dewan rumah, serta mampu berpikir kritis dan siap menerima kritikan yang kritis dari mereka yang dipimpin.

Pemimpin Visioner (Visionary Leadership)

Kepemimpinan visioner (visionary leadership) dapat diartikan sebagai kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi dan stakeholder yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen semua personil. Dalam hal ini, kemampuan pemimpin dalam mencipta tidak lain adalah seorang pemimpin pertama-tama harus bisa menciptakan lingkungan yang kondusif bagi staf (stakeholder) dan orang yang dipimpinnya.

Sedangkan dalam hal kemampuan memimpin dalam merumuskan tidak lain adalah seorang pemimpin harus bisa mengakomodir, meramu atau mengelola pemikiran dari para stakeholder. Seorang pemimpin yang visioner juga harus memiliki kemampuan berkomunikasi dalam arti tidak hanya sebagai pemikir (konseptor), melainkan juga sebagai seorang komunikator yang baik. Ini berarti dia juga harus menjadi pendengar yang baik. Komunikator dan pendengar yang baik, mengedepankan dialog yang dialogis atau komunikasi dua arah. Pemimpin yang konseptor, komunikator, dan pendengar yang baik, mengutamakan dialog yang dialogis artinya komunikasi dua arah.

Lebih lanjut, bahwa pemimpin yang visioner, harus juga memiliki kemampuan dalam mensosialisasikan grand desaign program kepada para stakeholder dan kepada para anggotanya. Selain mensosialisasikan grand desaign program juga harus bisa bersosialisasi dengan para stakeholder,baik intern maupun ekstern, termasuk mereka yang dipimpin. Dieja lebih jauh bahwa seorang pemimpin yang visioner, harus memiliki kemampuan dalam mentransformasi, dalam arti dengan kharisma yang dimilikinya mampu melakukan transformasi sekaligus transfigurasi (mengubah wajah) organisasi/tarekat, serta merevitalisasi (menghidukan atau menggiatkan kembali) sesuatu yang dinggap vital, penting bagi institusi atau tarekat. Akhirnya, pemimpin yang visioner, harus memiliki kemampuan untuk mengimplementasikangrand design program.Artinya pemimpin yang visioner (visionary leadership)tidak hanya sebagai konseptor, komunikator, serta pendengar yang baik, melainkan juga sebagai eksekutor atau pelaksana yang baik atau implementator yang baik.

Pemimpin Cerdas (Bijaksana)

Kepemimpinan yang cerdas (smart leadership) diartikan sebagai pemimpin yang tajam pikiran atau akal budinya. Juga bisa berarti banyak ilmunya atau bijaksana. Namun, pemimpin yang cerdas tidak hanya dalam arti kecerdasan akal budinya, tetapi juga dibutuhkan kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, dan kecerdasan moral.

Kecerdasan intelektual atau akal budi, menuntut para pemimpin untuk memiliki wawasan yang luas, melalui otodidak demi meningkatkan profesionalitas dan kompetensi dirinya. Demikian juga dengan kecerdasan spiritual, menuntut para pemimpin dan dewan umum untuk lebih unggul dalam kehidupan rohani. Kehidupan rohani yang terpelihara dan tertata serta terjaga dengan baik, akan menjadikan pemimpin dan dewan umum, lebih amanah, terpercaya, rendah hati, dan bijaksana. Di saat-saat sulit dia dapat melakukan discernment atau penegasan Roh yang benar.

Artinya pemimpin dan dewan umum yang hidup spiritualnya terasah dengan baik, maka dia peka dan tanggap, empati, welas asih, care (peduli), memiliki compassion terhadap anggota. Maka dengan demikian, pimpinan dan dewan umum tidak mudah menghakimi atau memvonis mereka yang dipimpinnya, tidak mudah percaya setiap gosip, tidak mudah percaya suara sumbang, tidak mudah menerima setiap kabar burung atau berita miring, melainkan selalu ada ruang untuk klarifikasi atau konfirmasi, dengan mengedepankan asas praduga tak bersalah serta selalu berpikir positif, lalu dibawa dalam doa, kemudian membuat discernment. Inilah ciri pemimpin yang cerdas atau bijaksana.

Prinsipnya dewan baru dengan struktur yang baru, harus bisa membawa perubahan dalam mindset-nya, dalam cara berpikir, cara berkomunikasi dan cara memimpin. Juga dewan baru dengan struktur yang baru, harus bisa membawa harapan baru di tengah situasi politik, ekonomi, dan pendidikan yang tidak menentu atau tidak pasti ini. Maka, pemimpin umum dan dewan yang cerdas atau bijaksana, sangat dibutuhkan saat ini untuk membawa anggota kongregasi, agar berkualitas secara intelektual, spiritual, emosional, sosial dan kepribadian, yang tentunya dimulai dari para pemimpin.

Pemimpin Berkarakter (Spiritualitas Hati)

Seorang pemimpin dan dewan harus berarakter, memiliki integritas, kredibilitas, menjadi inspirasi keteladanan dan mampu menumbuhkan harapan bagi yang dipimpinya. Maka, dewan baru dengan struktur baru, harus mampu mengolah pikir (literasi), mengolah hati (etika), mengolah rasa (estetika) dan mengolah raga (kinestetik), baik terhadap diri sendiri maupun para anggota. Jadi, pemimpin yang berkarakter, harus kuat, cerdas, disiplin, tegas, terbuka dan jujur. Dan dalam konteks Kongregasi Frater-Frater BHK, pemimpin dan dewan umum harus kuat dalam arti solid, kompak, menjadi sebuah team work, dengan prinsip one for all and all for one, bisa bersinergi atau berkolaborasi, baik di antara anggota dewan umum maupun dengan dewan rumah. Juga pemimpin dan dewan umum harus cerdas (bijaksana) dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi, harus panjang akal, tidak tergesa-gesa, tetapi butuh discernment.

Selain itu, pemimpin yang berkarakter harus disiplin dalam arti bisa membawa diri dengan baik, karena merupakan panutan atau teladan bagi para anggota. Juga tegas, tetapi tetap menggunakan hati sesuai dengan spiritualitas kongregasi. Sebab, yang dipimpin adalah manusia yang memiliki hati, maka pendekatannya harus menggunakan pendekatan dari hati ke hati (heart to heart approach). Dengan adanya pendekatan dari hati ke hati, berarti ada ruang keterbukaan antara pemimpin dengan anggota.

Pemimpin dan dewan umum yang berkarakter harus jujur atau berintegritas dalam menjalankan peran. Sebab, integritas menunjuk pada kualitas diri, yang dapat mempengaruhi yang dipimpinnya. Integritas juga memberi kuasa kepada kata-kata atau ucapan, memberikan kekuatan bagi grand desaign programdan memberikan daya bagi tindakan pemimpin ataupun dewan umum. Jadi, pemimpin dan dewan umum yang berkarakter, sesungguhnya adalah pemimpin dan dewan umum yang sempurna, utuh, komplit, pemimpin dan dewan umum yang ideal. Walau tidak ada pemimpin dan dewan umum yang sempurna, paling tidak, pemimpin dan dewan umum baru, harus mendekati dan memenuhi ekspektasi  baru bagi kongregasi dan para anggota.

Akhirnya, pemimpin dan dewan umum yang visioner, cerdas (bijaksana), dan berkarakter (Spiritualitas Hati), harus mampu bekerja sama, bersinergi atau berkolaborasi dengan dewan rumah, sembari harus membuat tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang jelas, sehingga tidak mengalami tumpang tindih (overlapping) kewenangan. Kata-kata Jim Rohn berikut ini kiranya bisa menjadi pegangan bagi seorang pemimpin, ”Tantangan kepemimpinan adalah untuk menjadi kuat, tetapi tidak kasar, bersikap baik, tetapi tidak lemah, berani, tetapi tidak menjadi pengganggu, menjadi bijaksana, tetapi tidak malas, rendah hati, tetapi tidak malu-malu, bangga, tetapi tidak sombong, memiliki humor, tetapi tanpa kebodohan.”

Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

About fraterbhk

Check Also

Pendidikan Karakter Bagi Generasi Milenial

Keberadaan dan peradaban manusia sejak semula tidak terpisah dari pembentukan karakter yang berdampak positif terhadap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *